Beda Olahraga Beda Cederanya, Kenali Batas Nyeri Tubuh
- Kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya orang yang rutin berolahraga, mengikuti kelas kebugaran, hingga mencoba berbagai tren olahraga yang populer di media sosial.
Meski tren ini patut diapresiasi karena dapat membantu menjaga kesehatan fisik dan mental, masyarakat juga perlu memahami bahwa aktivitas olahraga yang dilakukan tanpa persiapan, teknik yang benar, atau sesuai kemampuan tubuh dapat meningkatkan risiko cedera.
Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, menuturkan, setiap disiplin olahraga memiliki pola dampak yang spesifik terhadap anatomi tubuh manusia.
Baca juga: Nyeri Otot Setelah Olahraga, Normal dan Tanda Cedera?
Misalnya, olahraga yang berfokus pada ketahanan fisik (endurance) memiliki tingkat masalah yang berpusat pada otot, tulang, serta ligamen di area tungkai.
"Olahraga ketahanan relatif mudah diprediksi, dan cenderung berupa cedera regangan berulang seperti shin splints, yaitu ketika Anda mengalami peradangan tulang yang menyebabkan rasa sakit, atau peradangan tendon di sekitar lutut," jelas dr. Cheung dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Tingkat keparahan cedera ini menjadi sangat kontras ketika dibandingkan dengan olahraga tarung (combat sports), misalnya dalam ajang profesional seperti One Championship.
Berkat regulasi ketat dan kehadiran wasit, angka cedera parah pada petarung justru sangat terkendali.
Baca juga: Manfaat Latihan SoulBarre Cegah Cedera Olahraga Ekstrem
"Olahraga tarung di tingkat profesional cukup tertata dengan baik dan aman. Jadi biasanya pertarungan dihentikan sebelum atlet mengalami cedera parah. Saya melihat kasus yang tidak terlalu parah seperti gegar otak, patah tulang, dan memar," ungkap dr. Cheung yang berpengalaman menangani atlet profesional ini.
Ilustrasi padel.
Risiko cedera pada olahraga beregu
Risiko cedera berat justru lebih tinggi pada olahraga beregu yang memiliki intensitas kontak fisik tinggi di lapangan terbuka.
Salah satu ancaman terbesarnya adalah kerusakan pada sendi dan anterior cruciate ligament (ACL). ACL adalah ligamen penting di dalam lutut yang berfungsi menjaga stabilitas pergerakan kaki.
"Rugby adalah olahraga yang lebih rumit karena ada begitu banyak pemain, begitu banyak aksi, dan berdampak tinggi. Jadi, cenderung lebih banyak dislokasi bahu dan cedera lutut seperti robeknya ACL," papar dr. Cheung.
Namun, terlepas dari jenis olahraga yang dipilih, mengenali tanda-tanda cedera adalah tanggung jawab utama setiap pegiat olahraga.
Sering kali, batas antara nyeri otot wajar dan cedera serius tampak kabur, sehingga banyak orang salah langkah dalam penanganannya.
Baca juga: Salah Pilih Sepatu Lari Bisa Picu Cedera, Ini Cara Memilih yang Tepat
Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Batas nyeri yang pantang diabaikan
Menurut dr.Cheung, pegiat olahraga amatir sering menahan rasa sakit pasca-latihan karena menganggapnya bagian dari proses pembentukan otot.
"Sangat normal untuk mengalami rasa sakit, terutama nyeri otot onset tertunda, khususnya jika Anda baru mengenal olahraga tertentu," kata dr. Cheung.
Namun, jangan pernah mengabaikan rasa sakit yang bertahan beberapa hari dan memaksakan diri untuk terus berlatih tanpa jeda.
Memaksakan diri melampaui sinyal peringatan dari tubuh justru berpotensi mengubah masalah inflamasi ringan menjadi gangguan medis permanen.
Baca juga: Cara Mencegah Kram Otot Saat Race Lari di Tanjakan dan Turunan
Perempuan lebih rentan cedera ACL
Selain faktor jenis olahraga dan manajemen rasa nyeri, penting untuk menyadari bahwa anatomi tubuh juga berperan dalam kerentanan cedera, seperti faktor perbedaan gender.
Pemilihan alat beban kebugaran, misalnya, sangat memengaruhi tren cedera pasien ortopedi laki-laki.
"Pria cenderung mengalami lebih banyak cedera punggung dan tubuh bagian atas karena mereka mengangkat lebih banyak beban," sebut dr. Cheung.
Di sisi lain, kaum perempuan membutuhkan kewaspadaan ekstra terhadap anatomi sendi mereka, terutama saat berpartisipasi dalam ajang olahraga berintensitas tinggi seperti Hyrox.
"Perempuan memiliki fisiologi yang berbeda, dan sebenarnya mereka lebih berisiko mengalami cedera ACL dibandingkan pria. Hal itu bisa terjadi karena faktor mekanis, tetapi juga karena faktor hormonal yang berkaitan dengan siklus menstruasi," ucap dr. Cheung.
Baca juga: Mandi Air Dingin sampai Ngopi Setelah Olahraga, Mana yang Efektif untuk Pemulihan
Tag: #beda #olahraga #beda #cederanya #kenali #batas #nyeri #tubuh