IDI dan IDAI Soroti Susu Formula di MBG, Khawatir Ganggu ASI Eksklusif
Ilustrasi susu bubuk untuk bayi. IDI dan IDAI mengingatkan pemberian susu formula dalam program MBG jangan sampai memicu turunnya ASI eksklusif pada bayi.(SHUTTERSTOCK/DRAGANA GORDIC)
19:42
28 Mei 2026

IDI dan IDAI Soroti Susu Formula di MBG, Khawatir Ganggu ASI Eksklusif

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti rencana pemberian susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dinilai berisiko mengganggu program ASI eksklusif bagi bayi.

Melansir Antara, Selasa (26/5/2026), polemik ini muncul setelah Badan Gizi Nasional (BGN) membuka opsi pemberian susu formula lanjutan untuk anak usia 6–12 bulan dan formula pertumbuhan untuk balita usia 1–3 tahun dalam program MBG.

Ketua IDI Kota Mataram dr. H Emirald Isfihan mengatakan pihaknya tidak menolak program pemerintah, tetapi mengingatkan agar implementasi di lapangan tidak mengganggu program ASI eksklusif yang selama ini terus digalakkan.

“Kami bukan berarti menolak tapi memberikan masukan agar sesuai teknis arah pemberian MBG tidak menggagalkan program yang sudah ada selama ini,” kata Emirald di Mataram, seperti dikutip dari Antara, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, ASI memiliki kandungan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan susu formula.

“Ada hal-hal atau kandungan ASI yang memang tidak bisa digantikan oleh susu formula,” ujarnya.

Baca juga: Susu Formula dalam MBG Ramai Dibahas, Ini Respons Kemenkes dan Catatan IDAI

IDAI soroti risiko salah tafsir di masyarakat

Kekhawatiran serupa sebelumnya disampaikan IDAI melalui surat terbuka kepada Kepala BGN Dadan Hindayana pada 21 Mei 2026.

Dalam surat tersebut, Satgas ASI dan UKK Nutrisi Penyakit Metabolik IDAI menilai distribusi susu formula secara massal tanpa indikasi medis berpotensi membuat ibu menghentikan laktasi lebih cepat.

IDAI juga mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 menegaskan susu formula hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter berdasarkan indikasi medis tertentu.

Susu formula disebut sebagai pangan olahan diet khusus, bukan produk pangan umum yang dapat dibagikan bebas.

Emirald menilai persoalan ini juga berpotensi memunculkan multi-tafsir di tengah masyarakat.

“Masyarakat menganggap susu formula yang dibagikan untuk menggantikan ASI. Kondisi itu tentu akan menjadi beban kami ke depannya,” katanya.

Ia berharap BGN dapat menerjemahkan kebijakan secara lebih tepat agar tidak menimbulkan salah persepsi soal pentingnya ASI eksklusif.

Baca juga: 3 Hal yang Wajib Dicek Orangtua Sebelum Memilih Susu Formula Anak

ASI disebut punya komponen hidup yang tak bisa ditiru

Ilustrasi ASI. IDI dan IDAI mengingatkan pemberian susu formula dalam program MBG jangan sampai memicu turunnya ASI eksklusif pada bayi.Unsplash Ilustrasi ASI. IDI dan IDAI mengingatkan pemberian susu formula dalam program MBG jangan sampai memicu turunnya ASI eksklusif pada bayi.

ASI bukan sekadar makanan, melainkan sistem nutrisi hidup yang diproduksi tubuh ibu sesuai kebutuhan bayi.

ASI mengandung antibodi, bakteri baik, DHA, AA, hormon, hingga enzim aktif seperti lysozyme dan lactoferrin yang membantu melindungi bayi dari infeksi.

Penelitian modern juga menemukan adanya sel punca atau stem cells dalam ASI yang disebut berperan dalam perkembangan jaringan tubuh dan otak bayi.

Studi Universitas Istanbul Medipol yang diterbitkan di Scientific Reports pada Oktober 2025 bahkan menunjukkan sel punca dalam ASI terlibat dalam proses remodeling seluler di jaringan otak.

Karena itu, para dokter menilai belum ada laboratorium yang mampu meniru seluruh komponen hidup di dalam ASI melalui susu formula.

Baca juga: Anak di Atas 2 Tahun Tak Wajib Minum Susu, Ini Kata Dokter

Risiko susu formula juga jadi perhatian

Selain tidak memiliki komponen hidup seperti ASI, susu formula juga dinilai memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.

Protein utama pada susu formula berbahan susu sapi berupa kasein disebut lebih sulit dicerna sistem pencernaan bayi dibandingkan protein whey yang dominan dalam ASI.

Susu formula juga tidak mengandung leptin, hormon pengatur rasa kenyang yang membantu bayi mengetahui kapan harus berhenti menyusu.

Di sisi lain, susu formula bubuk bukan produk steril. Produk ini berisiko terkontaminasi Cronobacter sakazakii, bakteri yang dapat menyebabkan meningitis dan sepsis pada bayi.

WHO dan FAO sebelumnya mencatat ratusan kasus infeksi Cronobacter di berbagai negara terkait penyeduhan atau penyimpanan susu formula yang tidak tepat.

Meski begitu, BGN menegaskan program MBG tidak menyediakan susu formula untuk bayi usia 0–6 bulan guna menjaga ASI eksklusif.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan susu formula hanya menjadi opsi untuk kelompok usia tertentu dengan rekomendasi tenaga kesehatan seperti ahli gizi, bidan, atau puskesmas setempat.

Di tengah polemik tersebut, para dokter berharap perlindungan terhadap ASI eksklusif tetap menjadi prioritas utama dalam kebijakan pemenuhan gizi anak di Indonesia.

Baca juga: BPOM Tarik Susu Formula Bayi Nestlé, 53 Negara Keluarkan Peringatan

Tag:  #idai #soroti #susu #formula #khawatir #ganggu #eksklusif

KOMENTAR