Wabah Ebola di Afrika Picu Darurat Kesehatan, Ini yang Perlu Diketahui
Ilustrasi ebola. Wabah Ebola di Kongo dan Uganda memicu kekhawatiran karena menyebar di tengah konflik, perpindahan penduduk, dan belum adanya vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.(Motortion Films/SHUTTERSTOCK)
18:06
20 Mei 2026

Wabah Ebola di Afrika Picu Darurat Kesehatan, Ini yang Perlu Diketahui

Wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo dan Uganda memicu kekhawatiran serius karena jumlah kasus suspek terus bertambah, sementara penanganan di lapangan terhambat konflik, perpindahan penduduk, dan belum adanya vaksin khusus untuk varian yang sedang menyebar.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan skala dan kecepatan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda “patut menjadi perhatian serius”.

Melansir CNN (19/5/2026), lebih dari 130 kematian diduga terkait wabah ini, dengan lebih dari 500 kasus suspek.

Tedros telah menetapkan wabah tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada Sabtu. Keputusan itu diambil sebelum WHO menggelar rapat komite darurat.

Dalam pidatonya di World Health Assembly di Jenewa, Tedros menyebut ada sejumlah faktor yang membuat wabah ini berpotensi menyebar lebih luas dan menyebabkan lebih banyak kematian.

Baca juga: Virus Ebola Kembali Wabah di Uganda, 1 Perawat Meninggal

Kasus muncul di wilayah perkotaan

Salah satu hal yang menjadi perhatian WHO adalah munculnya kasus di wilayah perkotaan.

CNN melaporkan, kasus telah ditemukan di Kampala, Uganda, serta Goma dan Bunia di DRC.

Menurut Tedros, Bunia merupakan kota besar. Kondisi ini membuat pengawasan menjadi lebih penting karena mobilitas penduduk di wilayah perkotaan biasanya lebih tinggi.

Selain itu, WHO juga menyoroti adanya tanda penularan yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan setelah kematian dilaporkan terjadi pada tenaga kesehatan.

Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi atau kontak dengan jenazah orang yang meninggal karena penyakit tersebut.

Gejala Ebola dapat meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, nyeri perut, hingga gangguan fungsi ginjal dan hati. Pada sebagian pasien, penyakit ini dapat menyebabkan perdarahan internal maupun eksternal.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global

Varian Bundibugyo belum punya vaksin khusus

Para dokter berjalan di dalam bagian isolasi Ebola Rumah Sakit Rujukan Regional Mubende, di Mubende, Uganda Kamis, 29 September 2022. Wabah Ebola di Kongo dan Uganda memicu kekhawatiran karena menyebar di tengah konflik, perpindahan penduduk, dan belum adanya vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.AP PHOTO/HAJARAH NALWADDA Para dokter berjalan di dalam bagian isolasi Ebola Rumah Sakit Rujukan Regional Mubende, di Mubende, Uganda Kamis, 29 September 2022. Wabah Ebola di Kongo dan Uganda memicu kekhawatiran karena menyebar di tengah konflik, perpindahan penduduk, dan belum adanya vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.

Wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo.

Melansir Reuters (19/5/2026), belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui secara khusus untuk varian Bundibugyo.

Reuters melaporkan, panel ahli yang dipimpin WHO bertemu secara virtual pada Selasa untuk membahas kemungkinan pilihan vaksin yang dapat membantu mengatasi wabah tersebut.

Dr. Mosoka Fallah, penjabat direktur departemen sains Africa CDC, mengatakan para ahli akan menilai bukti yang tersedia sebelum memberi rekomendasi.

“Ketika ada wabah dengan strain yang tidak memiliki penanggulangan, kami akan memberikan saran tentang pendekatan terbaik yang dapat diambil,” kata Fallah.

Ia menambahkan, para ahli akan melihat bukti yang ada sebelum mengambil keputusan. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah Kongo dan Uganda.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?

Konflik membuat respons lebih sulit

Tantangan lain datang dari kondisi keamanan di wilayah terdampak.

Melansir The Guardian (19/5/2026), konflik, ketidakpercayaan masyarakat, dan keterlambatan deteksi dapat mempersulit respons terhadap wabah Ebola yang disebabkan varian Bundibugyo.

Wabah Ebola besar di Kivu Utara pada 2018–2020 juga tidak hanya dipengaruhi oleh virus, tetapi ikut diperburuk oleh tekanan sosial, politik, ekonomi, serta konflik di wilayah tersebut.

Daniela Manno, epidemiolog klinis dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan wabah saat ini memiliki beberapa faktor rumit yang serupa dengan wabah sebelumnya.

“Pertama, jumlah kasus suspek yang dilaporkan sebelum konfirmasi menunjukkan penularan mungkin telah berlangsung selama beberapa minggu sebelum wabah secara resmi dikenali,” kata Manno.

Ia juga menyebut wabah terjadi di wilayah yang terdampak ketidakamanan, perpindahan penduduk, dan mobilitas tinggi.

Faktor-faktor tersebut dapat mempersulit pengawasan, pelacakan kontak, dan pemberian layanan kesehatan.

Baca juga: Subvarian Baru Ebola Diwaspadai, Seberapa Besar Ancamannya? Ini Kata Pakar

Deteksi dini menjadi kunci

CNN melaporkan, kasus suspek pertama adalah seorang tenaga kesehatan yang mulai mengalami gejala pada 24 April 2026 dan kemudian meninggal di pusat medis di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri.

WHO menerima peringatan tentang “penyakit tidak diketahui” dengan tingkat kematian tinggi di provinsi tersebut pada 5 Mei 2026.

Setelah penyelidikan oleh tim respons cepat pada 13 Mei, wabah dikonfirmasi sebagai virus Bundibugyo pada 15 Mei 2026.

Dengan kondisi tersebut, deteksi dini, pelacakan kontak, perlindungan tenaga kesehatan, dan koordinasi lintas negara menjadi langkah penting untuk menahan penyebaran wabah Ebola.

Tag:  #wabah #ebola #afrika #picu #darurat #kesehatan #yang #perlu #diketahui

KOMENTAR