AI Bisa Sarankan Alternatif Kemoterapi, Studi Ungkap Risikonya
Penggunaan artificial intelligence (AI) untuk mencari informasi kesehatan kini semakin umum, tetapi temuan terbaru menunjukkan adanya risiko serius.
Sebuah studi menemukan bahwa chatbot AI dapat memberikan alternatif pengobatan kanker di luar kemoterapi, termasuk metode yang belum terbukti secara ilmiah.
Penelitian ini dilaporkan oleh NBC News (20/4/2026). Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran karena informasi yang diberikan berpotensi membahayakan pasien.
Baca juga: AI Bisa Deteksi Kanker Hanya dari Suara, Ini Temuan Terbaru
Chatbot AI bisa beri saran pengobatan yang belum terbukti
Peneliti dari Lundquist Institute for Biomedical Innovation di Harbor-UCLA Medical Center menguji beberapa chatbot AI populer. Beberapa di antaranya termasuk Gemini, DeepSeek, Meta AI, ChatGPT, dan Grok.
Mereka mengajukan pertanyaan seputar kanker, vaksin, nutrisi, dan topik kesehatan lain yang rentan disinformasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa chatbot dapat memberikan jawaban yang tidak sepenuhnya akurat atau kurang lengkap.
Baca juga: Studi Ungkap AI Bisa Deteksi Penurunan Kognitif Lebih Dini dari Catatan Dokter
Hampir setengah jawaban dinilai bermasalah
Ilustrasi AI. Studi terbaru menemukan chatbot AI bisa memberikan alternatif kemoterapi yang belum terbukti secara ilmiah dan berpotensi menyesatkan pasien kanker.
Dalam studi yang dipublikasikan di BMJ Open, hampir setengah dari respons chatbot dikategorikan bermasalah.
Sebanyak 30 persen dinilai “cukup bermasalah” karena tidak memberikan konteks yang memadai.
Sementara itu, sekitar 19,6 persen dianggap “sangat bermasalah” karena mengandung informasi yang tidak akurat.
Peneliti utama, Nick Tiller, mengatakan pola pertanyaan pengguna turut memengaruhi jawaban AI.
“Banyak orang memang mengajukan pertanyaan seperti itu,” ujarnya.
Baca juga: Walau Ada AI, Dokter Tetap Jadi Pilar Utama Penanganan Pasien
AI tetap sebut alternatif kemoterapi meski peringatkan risiko
Dalam beberapa kasus, chatbot memberikan daftar terapi alternatif untuk kanker. Alternatif tersebut mencakup akupunktur, pengobatan herbal, hingga pola makan tertentu.
Padahal, chatbot juga mengingatkan bahwa metode tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Fenomena ini disebut sebagai “false balance”, yaitu ketika informasi ilmiah dan tidak ilmiah disajikan seolah setara.
Baca juga: Bukan Hanya untuk Perempuan, Vaksin HPV Juga Lindungi Pria dari Kanker
Ahli khawatir pasien bisa mengambil keputusan yang salah
Dr. Michael Foote dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center menyebut informasi semacam ini bisa berdampak langsung pada pasien.
“Beberapa hal ini bisa membahayakan orang secara langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian terapi alternatif belum diuji oleh otoritas kesehatan seperti FDA.
Menurutnya, risiko terbesar muncul ketika pasien memilih meninggalkan pengobatan medis yang sudah terbukti.
AI juga bisa menyesatkan dalam kondisi medis serius
Studi ini juga menunjukkan bahwa AI dapat memberikan respons yang menyesatkan dalam situasi klinis.
Beberapa pasien bahkan datang dengan kekhawatiran berlebihan setelah membaca hasil dari chatbot.
Foote mengungkapkan ada pasien yang percaya prediksi AI tentang harapan hidup mereka.
“Saya pernah menemui pasien yang datang menangis karena chatbot mengatakan mereka hanya punya waktu enam hingga 12 bulan,” ujarnya.
Baca juga: Vidi Aldiano Meninggal Dunia karena Kanker Ginjal, Kenali Penyebab dan Faktor Risikonya
Penggunaan AI untuk kesehatan perlu lebih hati-hati
Dr. Ashwin Ramaswamy dari Mount Sinai Hospital menilai perkembangan AI masih belum sepenuhnya siap untuk digunakan dalam konteks medis.
Menurutnya, sistem yang diperlukan untuk memastikan keandalan AI belum sepenuhnya tersedia.
“Teknologi dan metode yang dibutuhkan untuk membangun kepercayaan masih belum ada,” ujarnya.
AI tetap berguna, tetapi bukan pengganti dokter
Meski memiliki potensi besar, penggunaan AI untuk informasi kesehatan harus disertai kehati-hatian.
Studi ini menjadi pengingat bahwa chatbot tidak dapat menggantikan peran tenaga medis profesional.
Pasien disarankan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan terkait pengobatan.
Pemahaman yang tepat menjadi kunci agar teknologi tidak justru membawa risiko.
Baca juga: James Van Der Beek Meninggal di Usia 48 karena Kanker Usus Besar, Ini Cara Mencegahnya
Tag: #bisa #sarankan #alternatif #kemoterapi #studi #ungkap #risikonya