Ilustrasi Sakit kanker paru-paru./Pixabay
Kanker Paru Sumbang Kematian Besar, Pemerintah Diminta Perbanyak Skrining Dini
- Kanker paru menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Di Indonesia penyakit ini menjadi salah satu penyumbang tertinggi kematian seseorang pada kategori kanker. Fatalitas kanker paru kerap terjadi karena keterlambatan diagnosis. Para pasien biasanya baru terdeteksi menderita kanker pada tahap stadium lanjut. Akibatnya, pilihan pengobatan menjadi terbatas. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa skrining kanker paru, khususnya pada kelompok berisiko tinggi, mampu mendeteksi penyakit pada tahap awal ketika pengobatan masih lebih efektif dan peluang hidup pasien meningkat. Namun hingga kini, skrining kanker paru belum terintegrasi secara optimal dalam program kesehatan nasional. Adapun faktor utama kanker paru ini yaitu berkaitan langsung dengan paparan rokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif. Atas dasar itu, perlu adanya penguatan program berhenti merokok serta kebijakan pengendalian tembakau yang tegas dan berkelanjutan. Ketua Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia (POTI) Andika Chandra Putra mengatakan, dalam upaya menekan keterpaparan kanker paru, dibutuhkan keterlibatan pemerintah. Dalam hal ini butuh dibuat regulasi ketat dalam rangka upaya pencegahan. Hal itu disampaikan Andika dalam kegiatan POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum dengan tema The Art & Science of Thoracic Oncology: Practical Implementation for Daily Practice di di Bandung, Jawa Barat. “Mortalitas kanker paru di Indonesia masih tinggi karena sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Diperlukan kebijakan nasional yang kuat untuk skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi serta program berhenti merokok yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Andika, Sabtu (17/1). Forum ini menjadi wadah strategis bagi para tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas perkembangan terkini dalam skrining, diagnosis, serta tatalaksana kanker paru, sekaligus memperkuat advokasi pencegahan melalui pengendalian rokok. Sementara itu, Ketua Panitia POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum, Yun Amril menekankan pentingnya implementasi hasil ilmiah ke praktik sehari-hari. Sehingga deteksi dini semakin efektif. “Forum ini diharapkan dapat menjembatani ilmu dan praktik klinis, sehingga deteksi dini dan tatalaksana kanker paru dapat diterapkan secara nyata dalam pelayanan kesehatan sehari-hari,” ucap Amril. Melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat, diharapkan upaya skrining dini dan pengendalian rokok dapat diperkuat, sehingga angka mortalitas kanker paru di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tag: #kanker #paru #sumbang #kematian #besar #pemerintah #diminta #perbanyak #skrining #dini