Gegara Bau Asap, Perokok Mulai Berbondong-bondong Gunakan Vape
Ilustrasi remaja menggunakan vape (Pexels/Muhamad Lutfi)
12:45
12 Juni 2026

Gegara Bau Asap, Perokok Mulai Berbondong-bondong Gunakan Vape

Produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik atau vape serta produk tembakau yang dipanaskan semakin diminati oleh perokok dewasa.

Salah satu alasan utama yang mendorong peralihan tersebut adalah keinginan untuk menghindari bau asap rokok yang menempel pada pakaian, rambut, kendaraan, hingga ruangan.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, mengatakan faktor kenyamanan menjadi pertimbangan utama bagi banyak konsumen saat memutuskan beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif.

"Dari sisi konsumen, alasan utama mereka beralih ke produk tembakau alternatif adalah karena ingin mengurangi paparan asap rokok dan bau yang menempel. Konsumen menilai penggunaan produk tembakau alternatif terasa lebih bersih, lebih ringan, dan tidak terlalu mengganggu orang sekitar," ujar Paido di Jakarta, Jumat (11/6/2026).

Ilustrasi vape [freepik/master1305]Ilustrasi vape [freepik/master1305]

Menurut Paido, semakin banyak perokok dewasa yang mencari pilihan produk yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah tidak adanya proses pembakaran tembakau yang menghasilkan asap dan tar seperti pada rokok konvensional.

Ia menjelaskan, tar yang dihasilkan dari pembakaran rokok selama ini dikenal sebagai salah satu senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Selain itu, asap hasil pembakaran juga kerap meninggalkan bau yang menempel dalam waktu lama pada lingkungan sekitar.

Paido menilai kondisi tersebut menjadi alasan mengapa minat terhadap produk tembakau alternatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

"Banyak pengguna menyampaikan bahwa bau rokok yang menempel di pakaian, rambut, kendaraan, atau ruangan menjadi salah satu alasan utama mereka mulai mencari alternatif. Dalam pengalaman konsumen, produk tembakau alternatif dianggap lebih nyaman karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau seperti rokok," tambahnya.

Pandangan tersebut turut didukung sejumlah penelitian yang membandingkan paparan udara dari produk tembakau alternatif dan rokok konvensional. Salah satunya adalah riset Universitas Chang'an, China, berjudul Characteristics of second-hand exposure to aerosols from e-cigarettes yang diterbitkan pada 2024.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kandungan zat berbahaya dari aerosol atau uap vape lebih rendah dibandingkan asap rokok.

Meski tetap terdapat partikel yang dilepaskan ke udara, tingkat polutan di sekitar pengguna tercatat lebih rendah dibandingkan paparan asap yang berasal dari proses pembakaran tembakau.

Pengalaman beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif juga dirasakan Rifqi, seorang pengguna vape. Ia mengaku merasakan perubahan kondisi fisik setelah tidak lagi mengonsumsi rokok seperti sebelumnya.

"Perubahan yang paling saya rasa jelas badan terasa lebih fit. Ternyata pembuktiannya ada di hasil medical check-up, hasil berubah jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya saat masih merokok, ungkap Rifqi.

Menurut Rifqi, proses beralih dari rokok konvensional tidak hanya bergantung pada kemauan pribadi, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain itu, Rifqi mengaku aktif mencari berbagai informasi dan hasil penelitian untuk memahami produk yang digunakannya. Salah satu referensinya adalah hasil penelitian dari UK Health Security Agency yang menyebut profil risiko produk tembakau alternatif hingga 90 persen lebih rendah dibandingkan rokok.

Menurutnya, akses terhadap informasi berbasis riset menjadi faktor penting yang membantu perokok dewasa memahami berbagai pilihan yang tersedia sebelum memutuskan untuk beralih dari rokok konvensional.

Editor: Achmad Fauzi

Tag:  #gegara #asap #perokok #mulai #berbondong #bondong #gunakan #vape

KOMENTAR