Investasi AI di Indonesia Tetap Jalan Meski Rupiah Lemah
Ilustrasi AI. (Dok: Pexels.com)
19:59
10 Juni 2026

Investasi AI di Indonesia Tetap Jalan Meski Rupiah Lemah

PT Lintasarta mengaku bakal terus melakukan investasi di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia meskipun nilai tukar Rupiah melemah ke Dolar AS beberapa waktu belakangan.

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan bercerita kalau pihaknya sudah melakukan investasi berupa GPU Nvidia sejak 2025 lalu, yang mana komponen ini juga menjadi tantangan di industri AI.

Namun untuk selanjutnya, Armand mengakui kalau Lintasarta tidak akan langsung investasi besar tanpa perhitungan matang. Sebab mereka hanya akan menyediakan layanan yang dibutuhkan pengguna.

"Jadi dengan investasi yang sudah dilakukan di 2025, dan kita juga masih punya kapasitas yang kita bisa offer ke pelanggan, kita juga tetap aktif melakukan sharing infrastructure kalau ada yang membutuhkan," katanya dalam Media Gathering di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Ia menilai fenomena rupiah lemah belum tentu membuat pelanggan Lintasarta menghentikan belanja teknologi untuk kebutuhan bisnis. Tapi tak menutup kemungkinan bahwa mereka perlu menyesuaikan cakupan proyek bisnis.

Armand lalu memastikan investasi berbasis teknologi AI tetap dilanjutkan sesuai kebutuhan pelanggan, industri, maupun regulasi.

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan saat Media Gathering yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan saat Media Gathering yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

"Investasinya akan kita lakukan dengan hati-hati dan berhubungan dengan kebutuhan pelanggan, kebutuhan industri, dan juga kebutuhan regulasi," jelas Armand.

Demi memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia, Lintasarta memperkenalkan layanan Intelligent Core. Ini adalah strategic foundation yang mengintegrasikan empat kapabilitas utama yang dimiliki Lintasarta yaitu Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI (yang biasa disebut 4C capability) dalam satu end-to-end digital solution yang dapat secara signifikan meningkatkan Customer Experience (CX).

Armand menyebut, fondasi ini dibangun di atas tiga prinsip utama yaitu Sovereign melalui sovereign infrastructure dan sovereign AI, Integrated melalui one end-to-end solution unifying the 4Cs, serta Seamless Experience yang menghadirkan pengalaman digital bagi pelanggan (CX) yang terintegrasi, andal, dan efisien.

“Di era AI, perusahaan membutuhkan fondasi yang mampu menghubungkan teknologi menjadi hasil bisnis yang nyata. Melalui Intelligent Core ini, kami membantu pelanggan mengintegrasikan infrastruktur digital dan AI dalam satu Solusi Digital yang aman, andal dan saling terhubung, sehingga pelanggan dapat lebih fokus pada inovasi, pertumbuhan, dan daya saing bisnis,” ungkapnya.

Lintasarta menghadirkan berbagai solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri meliputi Secure Banking Stack untuk sektor keuangan, Sovereign Government Stack untuk sektor pemerintahan, Smart Factory Stack untuk manufaktur, Connected Healthcare untuk layanan kesehatan, serta Omnichannel Retail untuk sektor ritel.

Setiap solusi dirancang untuk membantu organisasi mempercepat transformasi digital dan AI, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keandalan dan keamanan, serta menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Adapun saat ini Lintasarta melayani lebih dari 2.300 pelanggan korporasi dengan 74.196 jaringan di berbagai sektor industri di seluruh Indonesia, basis yang menjadikan integrasi 4C dalam satu arsitektur digital sebagai keunggulan nyata, bukan sekadar konsep.

Editor: Dicky Prastya

Tag:  #investasi #indonesia #tetap #jalan #meski #rupiah #lemah

KOMENTAR