BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Dana Asing Bakal Kembali Masuk Indonesia?
Ilustrasi IHSG. (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
07:05
10 Juni 2026

BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Dana Asing Bakal Kembali Masuk Indonesia?

- Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate menjadi 5,50 persen tidak hanya bertujuan menahan pelemahan rupiah, namun berpotensi membuka kembali arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Dengan imbal hasil aset yang lebih kompetitif, investor global diperkirakan melirik kembali pasar obligasi alias bond market sebelum secara bertahap mengalirkan dana ke pasar saham, sehingga membuka peluang pemulihan likuiditas dan sentimen positif di bursa efek.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai peluang dana asing masuk cukup terbuka.

Kendati proses masuknya tidak akan terjadi secara instan ke pasar saham, tetapi melalui tahapan yang mengikuti siklus likuiditas di pasar keuangan.

Baca juga: Mengapa IHSG Melesat Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan? Ini Kata Analis

Menurutnya, instrumen yang pertama kali merespons kenaikan suku bunga biasanya pasar obligasi.

Ketika BI menaikkan suku bunga, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah ikut meningkat sehingga menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

“Potensinya sangat terbuka, tapi alurnya akan bertahap melalui siklus likuiditas. Keputusan BI menaikkan suku bunga ini instrumen pertama yang akan langsung merespons dan menarik dana asing adalah pasar obligasi, karena yield yang ditawarkan jadi jauh lebih kompetitif,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (9/6/2026).

Lalu, seberapa besar pengaruh kenaikan BI Rate terhadap valuasi saham-saham di BEI?

Kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2026 dinilai punya dampak terhadap valuasi saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Faris mencatat, secara teori dan perhitungan keuangan, kenaikan suku bunga akan memicu proses revaluasi di bursa karena investor harus menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap nilai wajar suatu saham.

“Secara matematis, kenaikan suku bunga sebesar 75 bps (basis poin) dalam waktu yang relatif singkat ini pasti akan memicu terjadinya revaluasi di pasar,” imbuhnya.

Itu terjadi karena suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan dalam menghitung valuasi saham.

Ketika tingkat diskonto naik, nilai saat ini (present value) dari potensi arus kas dan keuntungan perusahaan di masa depan menjadi lebih rendah.

Akibatnya, valuasi saham yang sebelumnya dianggap murah atau wajar bisa berubah menjadi lebih mahal, sehingga pasar cenderung melakukan penyesuaian harga.

“Suku bunga yang lebih tinggi otomatis menaikkan tingkat diskonto dalam perhitungan wajar saham, yang efeknya bisa membuat valuasi saham di BEI cenderung menyusut atau terlihat lebih ketat,” lanjut dia.

Dalam kondisi seperti ini, ruang kenaikan harga saham umumnya menjadi lebih terbatas dibandingkan saat suku bunga berada pada level rendah.

Menurut Faris, hal tersebut membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham.

Fokus pasar akan bergeser ke perusahaan yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, serta tingkat utang yang relatif rendah.

“Kondisi ini akan membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham, di mana mereka akan lebih menghindari emiten yang sensitif terhadap beban bunga tinggi,” kata dia.

Saham Bank Diprediksi Makin Cuan, Properti Justru Tertekan

Di tengah menjaga stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran dana asing, perbankan diperkirakan menjadi sektor yang paling diuntungkan.

Sebaliknya, properti berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya pinjaman dan melemahnya daya beli masyarakat.

Faris menjelaskan dampak kenaikan BI Rate terhadap sektor-sektor di pasar saham akan terlihat cukup jelas.

Sektor yang berpotensi mendapatkan manfaat adalah perbankan karena kenaikan BI Rate dapat meningkatkan margin keuntungan bank melalui kenaikan Net Interest Margin (NIM).

“Petanya akan terbagi cukup jelas. Sektor yang paling diuntungkan tentu saja perbankan alias banking, karena kenaikan suku bunga ini berpeluang besar mendongkrak Net Interest Margin mereka,” tukar Faris.

Dalam kondisi suku bunga yang lebih tinggi, bank umumnya memiliki ruang untuk menyesuaikan bunga kredit lebih cepat dibandingkan kenaikan bunga simpanan, sehingga selisih pendapatan bunga yang diperoleh menjadi lebih besar.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat kinerja keuangan bank-bank besar yang selama ini menjadi tulang punggung pasar saham.

Sebaliknya, sektor yang paling rentan terkena dampak negatif adalah properti.

Itu karena sebagian besar transaksi pembelian rumah di Indonesia masih bergantung pada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Ketika suku bunga naik, biaya cicilan yang harus dibayar masyarakat ikut meningkat sehingga kemampuan dan minat untuk membeli properti dapat menurun.

“Sebaliknya, sektor yang paling terdampak negatif adalah properti. Kita tahu mayoritas pembelian properti di Indonesia itu bergantung pada KPR, jadi kalau suku bunga naik, risiko beban bunga masyarakat membengkak dan bisa menahan minat beli,” ucapnya.

Selain sektor properti, perusahaan yang memiliki tingkat utang tinggi atau high leverage juga berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar.

Kenaikan BI Rate akan meningkatkan biaya modal (cost of capital) dan beban bunga yang harus dibayarkan perusahaan.

Kondisi tersebut dapat mengurangi profitabilitas dan membatasi kemampuan ekspansi bisnis, terutama bagi emiten yang sangat bergantung pada pinjaman untuk menjalankan operasional maupun membiayai proyek-proyek baru.

“Selain itu, emiten properti dan sektor lain yang memiliki rasio utang tinggi juga akan dirugikan karena biaya modal atau cost of capital dan beban bunga konstruksi mereka otomatis ikut mendaki,” pungkas dia.

Untuk diketahui, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Keputusan itu diumumkan setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa.

Pada hari yang sama, IHSG melonjak naik 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.747 ketika pasar ditutup Senin sore.

Sementara, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada penutupan perdagangan Selasa.

Mata uang Garuda terapresiasi 0,71 persen ke level Rp 18.058 per dollar Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Suku Bunga Acuan BI Naik Jadi 5,50 Persen, Ekonom: Jurus Pamungkas untuk Redam Penurunan Rupiah

Tag:  #rate #naik #jadi #persen #dana #asing #bakal #kembali #masuk #indonesia

KOMENTAR