BI Rate 5,5 Persen, Bank KBMI 1 Terpaksa Naikkan Bunga Simpanan
- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5 persen diperkirakan akan semakin menekan bank-bank kecil, khususnya kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1.
Di tengah persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang semakin ketat, sejumlah bank kecil mulai menyiapkan strategi dengan menaikkan bunga simpanan hingga membuka peluang merger.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total DPK bank KBMI 1 pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp 928,36 triliun. Nilai tersebut turun 0,57 persen dibanding Februari 2026 dan turun 1,17 persen dibanding Januari 2026.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai bank-bank KBMI 1 akan menghadapi tekanan lebih besar dibandingkan bank besar ketika suku bunga acuan naik.
Baca juga: BI Rate Naik, Rupiah Menguat ke Rp 17.936 Seiring Dana Asing Masuk
Menurut dia, nasabah dengan dana besar cenderung memindahkan simpanannya ke bank yang lebih besar karena dianggap lebih aman saat kondisi pasar bergejolak.
"Ketika BI Rate naik, nasabah kelas atas cenderung akan memindahkan dananya yang masih ada di bank kecil kepada bank yang lebih besar karena faktor keamanan," ujar Rahma, Jumat (12/6/2026).
Selain itu, Rahma melihat adanya potensi perpindahan dana masyarakat ke instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat bank-bank kecil mau tidak mau harus menaikkan bunga simpanan agar dana nasabah tidak berpindah. Namun, langkah itu berisiko meningkatkan biaya dana atau cost of fund (COF), terutama karena sebagian besar bank KBMI 1 masih mengandalkan deposito sebagai sumber pendanaan utama.
Menurut Rahma, terdapat dua pilihan bagi bank KBMI 1 untuk bertahan, yakni melakukan merger atau tetap berdiri sendiri dengan modal yang kuat dan model bisnis yang spesifik.
"Bagi bank KBMI 1 yang strukturnya generik dan modalnya pas-pasan, bersikeras jalan sendiri justru berisiko tergilas oleh efisiensi bank-bank digital dan bank raksasa," kata Rahma.
Menanggapi kenaikan BI Rate, PT Bank Ina Perdana Tbk menyatakan akan menyesuaikan bunga simpanan guna menjaga dana nasabah tetap bertahan.
Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi mengatakan, langkah menaikkan bunga simpanan menjadi pilihan yang sulit dihindari setelah BI menaikkan suku bunga acuan.
"Bank INA akan menaikkan bunga sesuai kenaikan bunga BI, kalau tidak sebagian dana mungkin akan pergi," ujar Henry.
Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, total DPK Bank INA mencapai Rp 27,79 triliun atau tumbuh 40 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Mayoritas pendanaan bank tersebut masih berasal dari deposito yang mencapai 53,62 persen dari total DPK.
PT Bank Neo Commerce Tbk juga mengakui kenaikan BI Rate berpotensi memperketat persaingan penghimpunan dana masyarakat.
Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengatakan perseroan akan menjaga stabilitas DPK dengan melakukan penyesuaian bunga secara selektif agar biaya dana tidak melonjak.
"Bank Neo Commerce akan terus memantau dinamika dan bila diperlukan akan melakukan penyesuaian strategi secara prudent dan terukur sesuai dengan kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, serta profil risiko bank," kata Eri.
Baca juga: Usai BI Rate Naik 75 Bps, Bank Masih Tahan Kenaikan Bunga KPR
Selain itu, Bank Neo Commerce akan mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan dan meningkatkan aktivitas transaksi nasabah untuk menjaga likuiditas tetap sehat.
Hingga April 2026, total DPK Bank Neo Commerce tercatat sebesar Rp 13,14 triliun, turun 1,05 persen secara tahunan. Deposito masih mendominasi struktur pendanaan dengan porsi mencapai 68,51 persen dari total DPK.
Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk menyatakan akan mempertimbangkan berbagai opsi strategis untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat pasca kenaikan BI Rate.
Manajemen OK Bank menyebut opsi yang dipertimbangkan tidak hanya menaikkan bunga simpanan, tetapi juga peluang merger, akuisisi, hingga kerja sama strategis.
"Kami mempertimbangkan semua opsi strategis, termasuk peluang merger, akuisisi, kerja sama strategis, maupun alternatif korporasi lainnya. Namun hingga saat ini belum terdapat keputusan atau rencana yang dapat kami sampaikan kepada publik," kata manajemen.
Per April 2026, total DPK OK Bank mencapai Rp 8,93 triliun atau tumbuh 30,71 persen secara tahunan. Sama seperti bank KBMI 1 lainnya, struktur pendanaan OK Bank masih didominasi deposito yang mencapai 78,84 persen dari total DPK.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen diperkirakan akan membuat persaingan perebutan dana nasabah semakin ketat. Di tengah dominasi deposito dalam struktur pendanaan, bank-bank KBMI 1 menghadapi tantangan menjaga likuiditas tanpa mengorbankan profitabilitas akibat kenaikan biaya dana. (Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Avanty Nurdiana)
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul BI Rate Naik, Bank-Bank KBMI I Terpaksa Menaikkan Bunga Simpanan
Tag: #rate #persen #bank #kbmi #terpaksa #naikkan #bunga #simpanan