Mengapa IHSG Melesat Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan? Ini Kata Analis
IHSG( ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
05:57
10 Juni 2026

Mengapa IHSG Melesat Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan? Ini Kata Analis

- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) alias BI Rate menjadi 5,50 persen seharusnya menjadi kabar yang kurang bersahabat bagi pasar saham domestik, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Di tengah keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) malah melesat tajam dan menunjukkan awal pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan hebat.

Fenomena itu memunculkan pertanyaan, mengapa pasar saham justru menguat ketika suku bunga naik?

Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyebutkan bahwa secara teori, pasar saham memiliki korelasi negatif terhadap kenaikan suku bunga.

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp 18.058 Setelah BI Naikkan Suku Bunga

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, menekan aktivitas ekonomi, dan membuat instrumen pendapatan tetap seperti deposito maupun obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan saham.

“Secara teori pasar saham itu biasanya punya korelasi negatif dengan kenaikan suku bunga. Tapi uniknya, kali ini respons pasar cenderung berbeda,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (9/6/2026).

Untuk diketahui, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Keputusan itu diumumkan setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa.

Pada hari yang sama, IHSG melonjak naik 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.747 ketika pasar ditutup Senin sore.

Penguatan tajam ini menjadi salah satu reli harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir, setelah pasar saham sebelumnya mengalami tekanan akibat aksi jual yang masif.

Sementara, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada penutupan perdagangan Selasa.

Mata uang Garuda terapresiasi 129,50 poin atau 0,71 persen ke level Rp 18.058 per dollar Amerika Serikat (AS).

Namun, dinamika saat ini berbeda karena fokus utama investor pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Karena itu sikap BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen justru dipandang positif oleh pasar saham.

“Langkah BI menaikkan suku bunga ke level 5,50 persen justru dinilai sebagai langkah taktis yang tepat untuk menahan kejatuhan rupiah sekaligus menarik kembali dana asing masuk ke Indonesia,” paparnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, pelemahan rupiah menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar investor karena berpotensi memicu keluarnya modal asing dan meningkatkan ketidakpastian di pasar modal.

Melalui kenaikan suku bunga, BI berupaya meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Imbal hasil yang lebih tinggi membuat investor asing memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia.

Di saat yang sama, kebijakan tersebut juga membantu menahan tekanan terhadap rupiah sehingga risiko volatilitas nilai tukar dapat dikurangi.

Karena itu, pelaku pasar tidak melihat kenaikan suku bunga kali ini sebagai ancaman terhadap pertumbuhan pasar saham, melainkan langkah preventif menjaga stabilitas rupiah.

Keputusan tersebut menciptakan keyakinan bahwa otoritas moneter masih memiliki komitmen kuat untuk menjaga kondisi pasar keuangan tetap kondusif.

“Hasilnya bisa kita lihat, pelaku pasar justru merasa lebih aman, dan dana asing (foreign flow) relatif bertahan tanpa ada aksi keluar (outflow) yang masif dari pasar equity kita. Jadi, pasar meresponsnya sebagai sinyal stabilitas,” tukas dia.

Meski IHSG melonjak lebih dari 7 persen, investor asing masih melakukan aksi jual bersih alias net sell senilai Rp 2,58 triliun.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tekanan jual investor asing masih terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham dengan nilai jual bersih terbesar atau mencapai Rp 477 miliar.

Selanjutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan net sell Rp 468 miliar, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 268 miliar.

Aksi pelepasan saham oleh investor asing juga terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai Rp 261 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp 141 miliar.

Di sisi lain, investor asing juga melakukan akumulasi pada beberapa saham tertentu.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham dengan nilai beli bersih atau net buy terbesar, yakni Rp 26 miliar.

Selain itu, investor asing juga mencatatkan net buy pada pada saham PT Timah Tbk (TINS) Rp 11 miliar, PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 10 miliar, serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Rp 8 miliar.

Lebih jauh, Faris menilai dampak kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2026 belum sepenuhnya tecermin atau priced in di pasar saham.

Hal ini karena transmisi kebijakan suku bunga ke perekonomian riil tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan waktu untuk memengaruhi aktivitas bisnis, permintaan kredit, konsumsi masyarakat, hingga kinerja keuangan perusahaan yang tecermin dalam laporan keuangan emiten.

Efek penuh dari kenaikan suku bunga biasanya baru akan terlihat dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan.

Dalam periode tersebut, pelaku pasar akan mulai melihat bagaimana biaya pendanaan yang lebih tinggi memengaruhi pertumbuhan kredit perbankan, ekspansi dunia usaha, daya beli masyarakat, serta profitabilitas perusahaan di berbagai sektor.

“Kalau dibilang sudah sepenuhnya priced in, menurut saya belum ya. Dampak riil dari total kenaikan 75 basis poin sepanjang tahun ini biasanya tidak instan, melainkan butuh waktu sekitar tiga sampai enam bulan ke depan untuk benar-benar merembes ke sektor riil dan laporan keuangan emiten,” lanjutnya.

Meski demikian, pasar saham sejauh ini memberikan respons yang cukup positif terhadap langkah BI.

Investor menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk tindakan proaktif untuk menjaga stabilitas makroekonomi, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

“Meski transmisinya butuh waktu, respons awal dari pasar saat ini sudah mencerminkan reaksi yang positif karena mereka mengapresiasi langkah BI yang proaktif dalam menjaga stabilitas makroekonomi kita,” imbuh Faris.

Baca juga: Perry Warjiyo Akui Rupiah Melemah Lebih Dalam dari Proyeksi, BI Kembali Naikkan Suku Bunga

Tag:  #mengapa #ihsg #melesat #usai #naikkan #suku #bunga #acuan #kata #analis

KOMENTAR