Ekonom: Fundamental RI Kuat, Tapi Belum Mampu Tenangkan Pasar
- Sejumlah petinggi negara kerap mengeklaim fundamental ekonomi Indonesia kuat.
Namun benarkah demikian?
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menahan gejolak ekonomi dan keuangan yang terjadi saat ini.
Baca juga: Purbaya Sebut Fundamental Ekonomi Kuat, Mengapa Rupiah Malah Tembus 18.100-an?
Namun, kekuatan tersebut belum cukup untuk membuat pasar mengabaikan berbagai risiko kebijakan dan tekanan yang membayangi perekonomian.
Menurutnya, pemerintah memang memiliki dasar ketika menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.
Sebab, sejumlah indikator utama menunjukkan kondisi ekonomi domestik masih relatif terjaga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 masih tinggi sebesar 5,61 persen, inflasi juga masih terkendali dalam target sasaran 1,5 sampai 3,5 persen, yakni sebesar 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Baca juga: Ekonomi Indonesia di Era BANI: Ketika yang Kuat Ternyata Rapuh
Cadangan devisa masih memadai meski turun jadi 144,9 miliar dollar AS per akhir Mei 2026, hingga neraca perdagangan yang tercatat masih surplus 89,1 juta dollar AS pada April 2026.
"Kalau pemerintah mengatakan fundamental ekonomi Indonesia kuat, pernyataan itu ada benarnya. Indonesia memang belum berada dalam kondisi krisis. Sistem keuangan juga masih terjaga dan perbankan masih memiliki ketahanan yang cukup baik," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (7/6/2026).
Dia mengatakan, kondisi tersebut menjadi bantalan penting yang membedakan situasi saat ini dengan periode krisis yang pernah dialami Indonesia pada 1998.
Ilustrasi ekonomi, perekonomian.
"Jadi dari sisi ketahanan jangka pendek, ekonomi Indonesia masih punya dasar yang cukup kuat," kata Josua.
Baca juga: Diplomasi Ekonomi di Tengah Fenomena Sell Indonesia
Fundamental ekonomi tidak cukup kuat redam kekhawatiran pasar
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa klaim fundamental ekonomi yang kuat tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan tekanan yang sedang muncul.
Pasalnya, pelaku pasar kini tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Hal ini tecermin dari pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level Rp 18.000 per dollar AS, tekanan di pasar saham, arus keluar dana asing, kenaikan biaya produksi industri manufaktur, tekanan harga energi, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.
"Pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan dan inflasi. Pasar juga menilai kualitas kebijakan, konsistensi arah pemerintah, dan kemampuan APBN menahan beban ke depan," ucapnya.
Baca juga: Kerap Disebut Prabowo hingga Purbaya, Apa Itu Fundamental Ekonomi?
Oleh karenanya, Josua menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat untuk meredam gejolak dalam jangka pendek, tetapi belum cukup kuat untuk menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap risiko yang ada.
"Fundamental Indonesia cukup kuat untuk menahan gejolak, tetapi belum cukup kuat untuk membuat pasar mengabaikan risiko kebijakan," ungkapnya.
Josua menilai persoalan utama yang kini dihadapi Indonesia bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas.
Sebab, pasar akan terus mencermati apakah daya beli masyarakat membaik, industri semakin produktif, penerimaan pajak menguat, dan belanja negara benar-benar diarahkan untuk kegiatan yang produktif.
Baca juga: Purbaya: Persepsi Negatif Pasar Tak Sesuai Fundamental Ekonomi RI
"Pemerintah perlu berhati-hati dalam memakai narasi fundamental kuat. Kalau disampaikan dengan data yang lengkap, narasi itu bisa menenangkan pasar. Tetapi kalau disampaikan secara defensif dan seolah-olah tidak ada masalah, narasi itu justru bisa menurunkan kepercayaan," tukasnya.
Josua menambahkan, pemerintah perlu menunjukkan langkah konkret untuk memperkuat fondasi ekonomi, mulai dari menjaga disiplin APBN, memperkuat penerimaan negara, menjaga stabilitas rupiah, hingga meningkatkan kepastian regulasi dan daya saing industri.
Tag: #ekonom #fundamental #kuat #tapi #belum #mampu #tenangkan #pasar