Ekspor Barang Murah China Melambat akibat Tarif dan Biaya Avtur
Ilustrasi China. (Shutterstock)
12:12
8 Juni 2026

Ekspor Barang Murah China Melambat akibat Tarif dan Biaya Avtur

Mesin ekspor perdagangan elektronik atau e commerce China mulai melemah.

Tekanan datang dari kenaikan biaya bahan bakar jet atau avtur akibat perang Iran, serta melemahnya daya beli konsumen berpenghasilan rendah di negara Barat.

Kondisi tersebut mengancam keuntungan platform belanja daring besar asal China, seperti Temu, Shein, dan AliExpress.

Model bisnis mereka selama ini bertumpu pada pengiriman barang murah langsung dari pabrik China ke pembeli global.

Salah satu contohnya adalah gaun seharga 5 dollar AS atau sekitar Rp 90.920.

Model tersebut sudah lebih dulu tertekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tahun lalu mengenakan tarif baru dan menghapus pengecualian bea masuk untuk paket bernilai rendah.

Kini, biaya logistik yang meningkat akibat konflik Timur Tengah menambah tekanan.

Baca juga: Produk Mebel RI 30 Persen Lebih Mahal dari Vietnam dan China, Pengusaha Ungkap Sebabnya

Perusahaan pengiriman seperti DHL Express mulai mengenakan biaya tambahan bahan bakar dalam jumlah besar.

Berdasarkan analisis data bea cukai China oleh konsultan Trade and Transport Group yang berbasis di Luksemburg, ekspor e commerce berbiaya rendah China turun 10,9 persen pada April.

Nilainya menjadi 9,81 miliar dollar AS atau sekitar Rp 178,39 triliun.

Penurunan itu menjadi kontraksi bulan kelima berturut-turut dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Biaya naik ke konsumen

Kenaikan biaya pengiriman mulai diteruskan ke pembeli.

Penjual pakaian wanita di Temu yang berbasis di Shenzhen, Diana Qiao, mengatakan ia menaikkan harga jual sebesar 2 dollar AS atau sekitar Rp 36.368.

Langkah itu dilakukan setelah biaya pengiriman per potong pakaian naik rata-rata 1 dollar AS atau sekitar Rp 18.184.

"Beban akhir pada akhirnya ditanggung oleh konsumen," kata Qiao.

Ia mengatakan kenaikan harga diperlukan untuk menjaga margin keuntungan.

Penjualan sedikit menurun, tetapi sejauh ini ia belum perlu mengubah skema pengiriman. Penurunan nilai ekspor tidak hanya mencerminkan tekanan biaya.

Baca juga: Dokumen IPO SpaceX Tak Bisa Diakses di Hong Kong dan China

Analis dan pelaku industri menilai era pertumbuhan cepat platform belanja murah China kemungkinan mulai berakhir.

Direktur Pelaksana Trade and Transport Group Frederic Horst mengatakan, platform e commerce kemungkinan akan memindahkan lebih banyak produk dalam jumlah besar ke gudang lokal.

Dengan begitu, barang dapat dikirim dari dekat konsumen, bukan diterbangkan langsung dari China.

"Itu masuk akal mengingat biaya pengiriman udara relatif terhadap nilai produk," katanya.

"Jika Anda membeli atasan dengan berat 300-400 gram, Anda sudah sampai pada tahap di mana biaya pengiriman udara mencapai 60% dari total biaya," sambungnya.

Shein telah memperluas kapasitas gudangnya di Eropa. Bulan lalu, perusahaan membuka gudang ketiga di Cannock, dekat Birmingham, Inggris.

Juru bicara Alibaba, pemilik AliExpress, mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan tetap fokus pada "mempertahankan harga yang terjangkau bagi konsumen dan menyediakan lingkungan yang stabil bagi penjual dan konsumen meskipun terjadi volatilitas dalam biaya transportasi global".

Shein dan Temu tidak menanggapi pertanyaan tentang dampak biaya pengiriman udara terhadap bisnis mereka.

Permintaan mulai melemah

Ekspor e commerce China masih jauh lebih tinggi dibandingkan dua tahun lalu. Awal 2025 juga sempat ditandai lonjakan pengiriman menjelang pemberlakuan tarif AS.

Namun, kembali ke laju pertumbuhan beberapa tahun terakhir akan makin sulit. Shein dan Temu sudah merebut pangsa pasar besar.

Pada saat yang sama, lonjakan harga bensin menekan anggaran rumah tangga di AS dan Eropa.

Uni Eropa juga akan memberlakukan biaya 3 euro untuk paket e commerce bernilai rendah mulai 1 Juli.

Nilai itu setara sekitar 3,49 dollar AS atau sekitar Rp 63.469, dengan kurs Rp 18.184 per dollar AS dan asumsi 1 dollar AS setara 0,8595 euro.

Seorang eksekutif pengiriman barang yang berbasis di China mengatakan, biaya pengiriman udara memang menekan platform e commerce.

Namun, perlambatan juga terjadi karena bisnis mereka mulai matang dan konsumsi luar negeri melemah akibat inflasi.

Eksekutif tersebut menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.

Kepala riset platform pengiriman Freightos, Judah Levine, mengatakan tarif pengiriman udara kemungkinan tetap tinggi karena harga avtur.

Tarif tersebut juga membutuhkan waktu untuk turun meski konflik Iran berakhir.

"Jika biaya tetap sangat tinggi, atau bahkan meningkat lebih lanjut, perusahaan mungkin beralih ke moda transportasi lain atau menahan beberapa pengiriman mereka," kata Kepala Operasional Pengiriman Udara Hellmann Worldwide Logistics Martin Habisreitinger.

Tag:  #ekspor #barang #murah #china #melambat #akibat #tarif #biaya #avtur

KOMENTAR