Harga Telur Anjlok, Kementan Surati BGN
- Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian menyatakan telah melayangkan surat ke Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap telur dari peternak lokal.
Direktur Jenderal PKH Agung Suganda, mengatakan surat itu dilayangkan di tengah anjloknya harga jual telur di tingkat kandang pada 8 Mei lalu.
Melalui surat itu, Agung minta Kepala BGN mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggunakan telur peternak lokal sebagai menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dalam surat tersebut, Kementan mengusulkan peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG,” kata Agung dalam keterangan resmi sebagaimana dikutip, Minggu (7/6/2026).
Baca juga: Stok Telur Berlebih, Wamentan Sarankan Peternakan Dibangun di Luar Jawa
Kementan meminta, SPPG membeli telur dari para peternak sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat Produsen Rp 26.500 per kilogram.
Menurut Agung, surat itu kemudian ditindaklanjuti BGN dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor SE/01/06/V/2026 yang meminta SPPG menyerap telur dari peternak lokal sesuai HAP Produsen.
Persoalan anjloknya harga telur itu juga menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi (Rakortas) di Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Kamis (4/6/2026) kemarin.
“Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti BGN,” tutur Agung.
Dalam rapat itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan menyebut, pemerintah telah meminta BGN untuk menyerap telur di daerah sentra produksi yang harganya sedang anjlok.
Budi juga menyatakan, pemerintah menetapkan telur ayam ras dan daging boleh digunakan sebagai komponen berbagai bantuan pangan ketika harga komoditas itu ambruk.
Dengan adanya permintaan itu, diharapkan harga telur bisa terkerek naik sesuai HAP Produsen.
“Kemarin ada beberapa daerah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur itu kan turun,” ujar Budi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementan Suwandi, menyebut anjloknya harga telur dalam beberapa waktu terakhir disebabkan sejumlah faktor.
Di antaranya adalah meningkatnya produksi di sejumlah sentra peternakan ayam petelur dan serapan yang lambat pada periode libur bulan Mei kemarin. Akibatnya, harga telur tertekan.
Namun, seiring aktivitas pasar yang kembali normal, serapan bertambah, dan distribusi yang membaik harga telur membaik.
Sebelumnya, peternak ayam petelur di Blitar membagikan sekitar 1 juta butor telur secara gratis kepada masyarakat.
Aksi itu merupakan bentuk protes karena harga telur tingkat kandang yang anjlok hingga di bawah harga pokok produksi (HPP).
Para peternak yang berunjuk rasa berasal dari wilayah Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.
Kenaikan harga pakan yang lebih dari 35 persennya diimpor dari luar negeri membuat peternak semakin rugi.
“Porsi bahan pakan yang impor itu sekitar 35 persen dari pakan konsentrat. Tapi naiknya komponen bahan pakan impor ini ada yang sampai 100 persen,” ujar salah satu peternak, Suryono di sela aksi bagi telur di Blitar, Senin (1/6/2026).