Amran: Nanti 100 Persen Tak Impor, Bensin-Solar dari Sawit
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menyebut pemerintah menargetkan menghentikan seluruh impor solar dan bensin.
Amran mengatakan, pemerintah memproyeksikan bensin dan solar dalam negeri diproduksi di dalam negeri dengan menggunakan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Menurutnya, karena wacana tersebut pemerintah mendapatkan banyak tekanan dari berbagai pihak.
Informasi itu Amran sampaikan saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026).
“Nantinya 100 persen enggak ada impor, bensinnya dari sawit solarnya dari sawit. Inilah kita diganggu terus, inilah kita diganggu terus,” kata Amran sebagaimana dikutip dari YouTube Universitas Halu Oleo.
Baca juga: Jawab “Pesta Babi”, Amran: Kita Pesta Panen, Bukan Ketergantungan Impor
Amran menuturkan, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia.
Beberapa waktu lalu, pemerintah meminta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengolah CPO menjadi bensin.
Dengan teknologi yang telah ditemukan ITS, nantinya CPO tidak hanya diolah menjadi solar atau biodiesel.
Adapun pemerintah saat ini baru menjalankan mandatory B40 atau memproduksi solar dengan komposisi 60 persen solar dan 40 persen biosolar.
“Tahun ini kita tidak impor solar 5 juta ton (solar),” ujar Amran.
Menyadari potensi produksi dalam negeri, kata Amran, Presiden Prabowo Subianto berani memutuskan Indonesia menghentikan impor solar sama sekali pada 1 Juli mendatang.
Dari kebijakan B40, pemerintah meningkatkan persentase komposisi biosolar menjadi 50 persen atau B50.
“Wassalam, 1 Juli tutup enggak ada impor solar,” tutur Amran.
Pada kesempatan tersebut, Amran mendorong Universitas Halu Oleo turut berkontribusi dalam meningkatkan hilirisasi dalam negeri di bidang tertentu.
Jika perguruan tinggi itu berhasil menghadirkan temuan baru, pemerintah mendukung terobosan tersebut.
“Pak Rektor kalau bisa yang membidangi, apa kita kerjasama. Ini kemarin (ITS) begitu berhasil kami dirikan industri,” kata Amran.
Sebelumnya, ITS berhasil mengembangkan inovasi riset bensin biogasolin sawit ITS (Benwit RON 90.
Bahan bakar dari CPO itu menjadi bahan bakar alternatif yang diproduksi dari CPO.
Dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS sekaligus ketua tim penelitian, Hosta Ardhyananta, mengatakan energi dari Benwit bisa menghemat 10 persen penggunaan bahan bakar minyak (BBM) nasional.
“Secara umum di dunia itu biogasolin itu sampai hari ini masih lima persen di dunia. Sehingga, kalau kita bisa mencapai 10 persen itu sudah hasil yang luar biasa cukup besar,” kata Hosta dalam demonstrasi yang diadakan di Galeri Riset dan Inovasi Teknologi (GRIT) ITS, Selasa (7/4/2026).
Ia menyebut, 10 kilogram CPO yang diolah Benwit menghasilkan 5 liter bensin. Artinya, persentase produk 50 persen dari bahan baku.
Saat ini, Benwit itu telah diujicobakan pada sepeda motor dan mobil secara bertahap dengan metode blending Benwit dan bensin konvensional.
“Sementara untuk mesin bakar yang ada saat ini, memerlukan hasil riset yang panjang karena itu membutuhkan modifikasi mesin yang banyak. Maka, kami lebih memilih ke blending karena tidak perlu banyak modifikasi mesin yang dilakukan sudah bisa menggunakan mesin-mesin yang ada,” kata Hosta.
Tag: #amran #nanti #persen #impor #bensin #solar #dari #sawit