2 Bulan Merugi, Peternak Keluhkan Harga Ayam di Kandang Terpuruk
Ilustrasi ayam peternak. Harga ayam hidup anjlok.(KOMPAS.COM/JUNAEDI)
18:52
5 Juni 2026

2 Bulan Merugi, Peternak Keluhkan Harga Ayam di Kandang Terpuruk

- Peternak ayam mengaku dalam dua bulan terakhir, harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang terus bergerak di bawah harga pokok produksi (HPP), membuat banyak peternak rakyat menanggung kerugian berkepanjangan.

Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan harga pakan yang terus berlanjut. Alih-alih dapat menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya produksi yang membengkak, peternak justru harus menerima kenyataan bahwa harga ayam di kandang semakin terpuruk.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo), Kusnan, mengatakan kenaikan harga pakan tidak bisa serta-merta diikuti dengan kenaikan harga jual ayam hidup karena pasar sedang mengalami tekanan.

"Harga pakan bulan ini naik lagi sekitar Rp 200 per kilogram. Tapi boro-boro peternak bisa menaikkan harga jual, harga ayam di kandang justru murah dan penyerapan dari offtaker juga lambat," kata Kusnan kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, lemahnya serapan pasar membuat posisi tawar peternak semakin lemah. Akibatnya, peternak terpaksa menjual ayam dengan harga yang jauh di bawah biaya produksi.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab

Harga ayam anjlok sejak 2 bulan terakhir

Peternak ayam mandiri, Asep Saepudin, mengaku telah mengalami kerugian selama dua bulan terakhir akibat harga ayam hidup yang terus merosot.

Ia menjelaskan, HPP ayam saat ini telah mencapai sekitar Rp 20.500 per kilogram. Namun harga jual di kandang hanya berada di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 19.000 per kilogram menjelang Hari Raya Idul Adha.

"Sudah dua bulan harga ayam anjlok terus di bawah HPP. HPP sekarang sekitar Rp 20.500 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per kilogram sampai Idul Adha,” kata Asep.

“Setelah Idul Adha, harga kembali turun. Per 3 Juni harga sudah berada di kisaran Rp 16.500 sampai Rp 17.000 per kilogram," ujar Asep.

Dengan selisih lebih dari Rp 3.000 per kilogram dibandingkan biaya produksi, banyak peternak kini menghadapi kerugian yang tidak kecil.

"Kalau HPP Rp 20.500 dan harga jual Rp 16.500, selisih ruginya sudah sangat besar. Modal peternak banyak yang terkuras. Bahkan sebagian memilih menahan produksi atau berhenti beternak sementara," katanya.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Mentan Akan Cek dan Panggil Produsen Pakan

Harga murah di kandang, konsumen tetap bayar mahal

Permasalahan lain yang menjadi sorotan adalah besarnya selisih harga antara tingkat peternak dan konsumen akhir. Berdasarkan pemantauan Permindo, harga ayam hidup di sejumlah daerah mengalami penurunan tajam.

Di Jawa Tengah, harga live bird bahkan sempat menyentuh Rp 13.000 per kilogram, sementara di Jawa Barat berada di kisaran Rp 17.000 per kilogram. Namun di sisi lain, harga ayam karkas yang dibeli masyarakat masih bertahan di sekitar Rp 30.000 per kilogram.

Kusnan menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam rantai distribusi dan tata niaga perunggasan nasional.

"Saat harga ayam hidup di kandang jatuh hingga Rp 13.000 sampai Rp 17.000 per kilogram, konsumen masih membeli karkas di kisaran Rp 30.000 per kilogram. Artinya masalah utama bukan sekadar produksi, tetapi distribusi dan lemahnya daya beli masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, penurunan harga di tingkat peternak seharusnya dapat diteruskan kepada konsumen sehingga konsumsi meningkat dan penyerapan ayam menjadi lebih cepat.

Daya beli lemah

Kusnan menjelaskan, lemahnya daya beli masyarakat menyebabkan konsumsi ayam tidak tumbuh signifikan meskipun harga ayam hidup sudah sangat rendah.

Akibatnya, penyerapan ayam dari kandang berjalan lambat. Ayam yang seharusnya segera dipanen tertahan lebih lama di kandang sehingga bobotnya terus bertambah.

"Ketika ayam terlambat terserap pasar, bobotnya terus bertambah dan populasi di kandang menumpuk. Pada akhirnya suplai membanjir dalam waktu bersamaan dan harga kembali tertekan," kata Kusnan.

Ia menilai permasalahan oversupply yang terus berulang tidak bisa hanya dibebankan kepada peternak. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan yang mampu mempercepat penyerapan produksi nasional.

Untuk mengurangi tekanan harga, peternak meminta pemerintah mengoptimalkan berbagai program penyerapan ayam dan telur yang selama ini telah berjalan.

Menurut Asep, program-program pemerintah dapat menjadi instrumen penting untuk menyerap kelebihan pasokan di pasar.

"Kami minta harga bisa kembali dikendalikan dan berada di atas HPP karena peternak sudah dua bulan merugi. Pemerintah bisa membantu melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), program penanganan stunting, bantuan sosial, maupun program lainnya yang bisa menyerap produksi ayam rakyat," ujarnya.

Selain itu, peternak juga meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan afkir dini indukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kusnan mengungkapkan adanya informasi bahwa sejumlah perusahaan diduga menunda masa afkir indukan karena tingginya harga DOC (day old chick). Praktik tersebut dinilai berpotensi memperpanjang siklus produksi dan memperbesar pasokan ayam di pasar.

"Ada indikasi sebagian perusahaan memundurkan masa afkir indukan karena harga DOC masih tinggi. Kalau ini terjadi, suplai akan terus bertambah dan tekanan harga di tingkat peternak makin berat," katanya.

Butuh sistem serapan dan distribusi yang kuat

Kusnan menegaskan bahwa produksi ayam dan telur nasional sebenarnya telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Persoalan utama saat ini bukan lagi kekurangan produksi, melainkan bagaimana mengelola kelebihan pasokan secara efektif.

Menurut dia, pemerintah perlu membangun sistem penyerapan dan distribusi yang lebih kuat agar surplus produksi tidak terus menekan harga di tingkat peternak.

"Peternak tidak membutuhkan harga tinggi sesaat. Yang dibutuhkan adalah harga yang wajar, stabil, dan berkelanjutan agar usaha peternakan rakyat tetap bisa bertahan," ujarnya.

"Kalau distribusi dan penyerapan bisa diperbaiki, pertumbuhan produksi tidak lagi menjadi sumber masalah. Justru bisa menjadi kekuatan untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak," tegas Kusnan.

Tag:  #bulan #merugi #peternak #keluhkan #harga #ayam #kandang #terpuruk

KOMENTAR