Harga Emas Dunia Diprediksi Melesat Lagi di Tengah Gejolak Geopolitik
Reli harga emas dunia diperkirakan belum berakhir.
Setelah mengalami koreksi dari level tertinggi yang sempat dicapai pada awal tahun, logam mulia tersebut diproyeksikan kembali menguat dan bahkan berpotensi menyentuh level rekor baru pada paruh kedua 2026.
Laporan terbaru konsultan logam mulia Metals Focus memperkirakan harga emas dunia secara rata-rata pada semester II 2026 dapat mencapai 4.920 dollar AS per ons troi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat Saat Dollar AS dan Minyak Melemah
Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.
Dikutip dari Reuters, Jumat (5/6/2026), proyeksi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang kembali mendorong minat investor terhadap aset lindung nilai atau safe haven.
Prediksi itu menjadi perhatian pasar karena datang setelah periode volatilitas tinggi yang mewarnai perdagangan emas sepanjang tahun ini.
Setelah koreksi tajam, reli harga emas diperkirakan berlanjut
Harga emas dunia sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari 2026 dengan menembus level 5.595 dollar AS per ons troi.
Namun setelah itu harga mengalami penurunan sekitar 20 persen seiring perubahan sentimen investor dan perkembangan situasi geopolitik global.
Baca juga: Harga Emas Dunia Hari Ini Stabil, Investor Cermati Konflik Timteng dan Data Ekonomi AS
Meski demikian, Metals Focus menilai tren bullish emas belum berakhir. Dalam laporan tahunannya, lembaga tersebut memperkirakan harga rata-rata emas pada semester kedua tahun ini akan naik sekitar 43 persen dibandingkan rata-rata semester pertama.
Target harga 4.920 dollar AS per ons troi pun dipandang masih realistis dalam kondisi pasar saat ini.
Prospek kenaikan harga emas juga didukung oleh pandangan sejumlah pelaku pasar yang menilai ketidakpastian global masih akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan.
Ilustrasi emas, harga emas.
Dalam beberapa tahun terakhir, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset perlindungan ketika pasar menghadapi risiko geopolitik, konflik kawasan, inflasi, maupun ketidakpastian kebijakan ekonomi.
Baca juga: Emas Perhiasan Deflasi 2,67 Persen, Tekan Inflasi Mei 2026
Geopolitik menjadi faktor kunci
Ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang 2026.
Konflik di Timur Tengah, termasuk perkembangan hubungan Iran dengan negara-negara Barat, menjadi perhatian utama investor global.
Ketika risiko geopolitik meningkat, permintaan terhadap aset yang dianggap aman biasanya ikut naik dan mendorong harga emas.
World Gold Council (WGC) sebelumnya juga menilai faktor geopolitik masih akan menjadi elemen sentral dalam prospek permintaan emas tahun ini.
Baca juga: Inflasi Tahunan Mei Tembus 3,08 Persen, Pangan dan Emas Jadi Pendorong Utama
Menurut WGC, permintaan investasi dan pembelian emas oleh bank sentral masih akan didukung oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan, tekanan inflasi, serta tingginya harga emas global.
Pandangan serupa tercermin dalam laporan Mining Weekly yang menyebut momentum harga emas terus meningkat di tengah berbagai hambatan geopolitik yang masih membayangi perekonomian dunia.
Investor beralih ke emas
Perubahan perilaku investor juga menjadi salah satu pendorong utama pasar emas.
Metals Focus memperkirakan investasi emas fisik akan melampaui permintaan perhiasan untuk pertama kalinya dan menjadi kategori permintaan terbesar secara global.
Baca juga: Kekhawatiran Inflasi Bikin Harga Emas Terkoreksi, Usai Konflik AS-Iran Panas Lagi
Kondisi tersebut terjadi karena tingginya harga emas membuat konsumsi perhiasan menurun, sementara minat investasi justru meningkat.
Lembaga tersebut memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan meningkat 15 persen pada 2026 dan mencapai level tertinggi sejak 2013.
Ilustrasi emas batangan.
China diperkirakan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan permintaan investasi tersebut.
Perubahan ini menunjukkan emas semakin dipandang sebagai instrumen penyimpan nilai dibandingkan sekadar komoditas untuk kebutuhan konsumsi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Tertekan Dollar AS dan Kenaikan Harga Minyak
Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, investor cenderung mencari aset yang dinilai mampu mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, emas kembali menjadi pilihan utama.
Pengaruh dollar AS dan suku bunga
Selain faktor geopolitik, pergerakan dollar AS dan ekspektasi suku bunga juga menjadi variabel penting yang memengaruhi harga emas.
Harga emas pada awal Juni 2026 kembali menguat lebih dari 1 persen setelah dollar AS melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun.
Baca juga: Emas Dunia Menguat usai Trump Pertimbangkan Gencatan Senjata AS-Iran
Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap.
Harga emas spot sempat mencapai sekitar 4.505 dollar AS per ons troi, sedangkan kontrak berjangka emas AS bergerak ke kisaran 4.533 dollar AS per ons troi.
Pelemahan dollar AS biasanya membuat emas lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga meningkatkan permintaan global.
Sebelumnya, reli harga emas juga didukung ekspektasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Baca juga: Harga Emas Dunia Diprediksi Melandai pada 2026, Investor Mulai Berpaling?
Mengutip Mining.com, sondisi suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan bunga.
Ilustrasi emas batangan
Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities, mengatakan pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS.
“Harga emas tampaknya bereaksi terhadap melemahnya dollar,” kata Melek.
Bank sentral tetap menjadi penopang
Meski permintaan investasi meningkat, pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi salah satu fondasi penting pasar logam mulia.
Baca juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah Dua Bulan, Pasar Cemaskan Hal Ini
Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral di berbagai negara berkembang aktif menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan perlindungan terhadap risiko nilai tukar.
Laporan pasar menyebutkan, pembelian bank sentral tetap menjadi sumber dukungan struktural bagi harga emas meskipun volumenya diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Metals Focus memperkirakan pembelian bersih bank sentral akan menurun pada 2026. Namun penurunan tersebut belum cukup besar untuk mengubah tren permintaan jangka panjang terhadap emas.
Di saat yang sama, sejumlah bank sentral masih menghadapi tantangan depresiasi mata uang akibat tingginya harga energi global, sehingga emas tetap dipandang sebagai instrumen perlindungan cadangan devisa.
Baca juga: Harga Emas Jatuh akibat Inflasi dan Suku Bunga, Serangan AS-Iran Berdampak
Pasokan tambang bertambah, tetapi tidak menahan harga
Dari sisi pasokan, produksi tambang emas global terus meningkat.
Data yang dikutip Mining Weekly menunjukkan produksi tambang emas dunia pada 2025 tumbuh 2 persen menjadi 3.817 ton.
Kenaikan tersebut didorong oleh beroperasinya tambang baru, ekspansi proyek yang sudah ada, serta peningkatan produksi penambangan skala kecil.
Pada 2026, pasokan tambang emas global diperkirakan kembali meningkat 2,4 persen menjadi sekitar 3.907 ton. Pertumbuhan produksi diproyeksikan terjadi hampir di seluruh kawasan dunia kecuali Oseania dan Eropa.
Ilustrasi emas.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 1 Persen saat Minyak Turun, Investor Mulai Kembali Cari Safe Haven
Namun kenaikan pasokan tersebut belum cukup untuk menekan harga emas secara signifikan.
Salah satu alasannya adalah biaya produksi yang juga terus meningkat.
Global all-in sustaining cost industri tambang emas tercatat naik 12 persen menjadi 1.552 dollar AS per ons troi akibat tekanan inflasi dan kenaikan berbagai biaya operasional.
Dengan biaya produksi yang lebih tinggi dan permintaan investasi yang masih kuat, pasar emas dinilai tetap memiliki fondasi yang kokoh.
Baca juga: Rusia Jual Emas Besar-besaran di Tengah Tekanan Anggaran Perang
Pasar menunggu arah konflik dan kebijakan The Fed
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada dua faktor utama, yakni perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter AS.
Perkembangan menuju perdamaian di Timur Tengah sempat mengurangi tekanan di pasar keuangan dan menekan harga minyak.
Namun, sejumlah analis menilai tanpa kesepakatan yang benar-benar permanen, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas masih akan bertahan.
Pada saat yang sama, data ekonomi AS, terutama pasar tenaga kerja dan inflasi, akan menjadi penentu ekspektasi suku bunga The Fed.
Baca juga: JPMorgan: Bank Sentral dan Investor Dorong Harga Emas Naik
Jika The Fed mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter, pasar menilai kondisi tersebut dapat kembali menjadi katalis positif bagi emas.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, meningkatnya permintaan investasi, pembelian bank sentral, dan potensi perubahan arah suku bunga global, harga emas masih menjadi salah satu aset yang paling diperhatikan investor sepanjang 2026.
Proyeksi harga emas dunia menuju level 4.920 dollar AS per ons troi menunjukkan pasar masih melihat ruang kenaikan yang signifikan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Tag: #harga #emas #dunia #diprediksi #melesat #lagi #tengah #gejolak #geopolitik