Harga Cabai Tembus Rp84 Ribu, Ini Penyebab di Balik Kenaikan Drastis
[Antara]
15:19
5 Juni 2026

Harga Cabai Tembus Rp84 Ribu, Ini Penyebab di Balik Kenaikan Drastis

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, memberikan pandangan mendalam bahwa fluktuasi harga cabai yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh perpaduan antara faktor anomali cuaca ekstrem serta membengkaknya biaya logistik pada jalur distribusi hortikultura nasional.

Menurut analisisnya, intensitas curah hujan yang sangat tinggi di sejumlah wilayah sentra produksi utama telah meningkatkan tingkat kelembapan lahan secara drastis.

Kondisi lingkungan yang lembap ini pada akhirnya memicu perkembangan serta serangan hama dan penyakit tanaman secara masif.

“Kenaikan harga cabai utamanya dipicu oleh anomali cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi di berbagai wilayah sentra produksi utama,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Dampak dari cuaca buruk ini dirasakan langsung di tingkat produsen. Tingginya kadar air pada lahan pertanian menyebabkan pembusukan dini pada tanaman cabai, yang berujung pada penurunan tajam volume serta kualitas hasil panen para petani.

Berdasarkan pergerakan data di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, dinamika harga di pasar tradisional memang bergerak sangat liar.

Rata-rata harga nasional untuk komoditas cabai rawit merah sempat meroket hingga menembus angka Rp84.400 per kilogram (kg) pada Kamis (4/6) sebelum akhirnya mengalami koreksi turun ke kisaran Rp68.000 per kg pada perdagangan Jumat.

Pergeseran angka dalam waktu singkat ini merefleksikan betapa tingginya sensitivitas produk hortikultura terhadap keseimbangan pasokan pasar.

Lebih lanjut, Eliza menguraikan aspek hilir yang sering kali luput dari perhatian, yakni persoalan moda transportasi distribusi. Menariknya, tekanan harga di tingkat eceran tetap terjadi meskipun pemerintah mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi agar tidak naik.

Tingginya kadar air akibat hujan membuat struktur fisik cabai menjadi lebih rapuh dan cepat membusuk selama proses pengiriman jarak jauh. Guna mengompensasi risiko penyusutan muatan atau kerusakan barang di jalan, para agen angkutan logistik terpaksa menaikkan tarif jasa angkut mereka.

Di samping itu, terdapat beberapa faktor non-BBM yang ikut andil dalam menggemukkan biaya operasional pengiriman ke pasar-pasar induk di kota besar:

  • Lonjakan musiman tarif sewa armada sistem borongan menjelang perayaan hari besar.
  • Kenaikan tarif tol pada sejumlah ruas jalur distribusi utama.

Serta merangkaknya harga suku cadang kendaraan angkutan barang.“Biaya logistik dan distribusi ke pasar induk ikut membengkak meskipun harga BBM solar bersubsidi tidak mengalami kenaikan,” ungkap Eliza.

Ancaman Inflasi dan Intervensi Pemerintah

Pembengkakan biaya distribusi di lapangan ini secara otomatis ditransmisikan langsung ke dalam komponen harga jual di tingkat pedagang eceran.

Eliza mengaitkan fenomena ini dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen pada Mei 2026, yang menjadi indikasi kuat adanya kenaikan beban logistik komoditas pangan yang cepat rusak (perishable).

Data BPS juga mempertegas posisi cabai merah sebagai salah satu komoditas utama penyumbang inflasi pada Mei 2026 dengan andil sebesar 0,08 persen akibat lonjakan harga merata di berbagai daerah.

Selain cabai, pemerintah diminta meningkatkan kewaspadaan pada pergerakan harga bawang merah dan tomat yang memiliki karakteristik rentan rusak serupa.

“Komoditas hortikultura sangat sensitif terhadap cuaca dan gangguan distribusi,” tuturnya.

Sebagai langkah mitigasi jangka pendek untuk meredam gejolak di tingkat konsumen, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 2 Juni 2026 menyatakan terus memperkuat program fasilitasi distribusi antardaerah serta mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Sebagai catatan strategis, pelaksanaan GPM sepanjang tahun 2025 lalu telah berhasil digelar sebanyak 13.321 kali, dan skema serupa kembali didorong di seluruh tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tahun ini demi memastikan kelancaran pasokan dari sentra produksi langsung ke pasar konsumsi.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #harga #cabai #tembus #rp84 #ribu #penyebab #balik #kenaikan #drastis

KOMENTAR