Kenapa Rupiah Melemah hingga Rp 18.000 per Dollar AS? Ini Penyebabnya
Ilustrasi rupiah dan dollar AS(THINKSTOCKS)
14:00
4 Juni 2026

Kenapa Rupiah Melemah hingga Rp 18.000 per Dollar AS? Ini Penyebabnya

Penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dinilai bersumber dari keluarnya dana investor global dari pasar negara berkembang (emerging market).

Sebagai informasi, mata uang Garuda pada pukul 12.32 WIB berada di posisi Rp 18.044 per dollar AS, melemah 73,5 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Myrdal Gunarto mengatakan, investor global saat ini cenderung memindahkan dananya dari negara berkembang ke negara maju.

Baca juga: IHSG Ambles di Sesi I, Kurs Rupiah Rp 18.040 Picu Kekhawatiran Pasar

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Perpindahan dana tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor mencari instrumen investasi yang dinilai lebih aman.

"Kalau penyebab utama sih kalau saya lihat karena faktor investor global yang menarik dananya dari emerging market," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Hal tersebut, kata Myrdal, terindikasi pada perdagangan hari ini di mana tekanan terhadap mata uang negara berkembang tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga dialami sejumlah mata uang Asia lainnya seperti ringgit Malaysia dan rupee India.

Selain itu, kaburnya dana investor global ke negara maju tecermin dari indeks saham di negara-negara maju yang terus mencetak rekor tertinggi.

Baca juga: BI Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS

"Makanya kita lihat indeks di negara-negara maju kan untuk indeks saham ya banyak yang all time high. Dan kalau kita lihat kondisi ini merupakan refleksi dari aksi investor untuk cari aman di tengah kondisi global geopolitik yang kurang kondusif," ungkapnya.

Selain faktor global, investor asing juga mencermati sejumlah perkembangan domestik yang dianggap kurang ideal, mulai dari sorotan lembaga pemeringkat hingga respons pasar terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

"Kalau faktor selain itu ya investor, terutama investor global, mereka cari ini aja sentimen yang kelihatannya negatif di mata mereka," ucapnya.

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.

Myrdal mengungkapkan, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia masih cukup besar.

Baca juga: Dollar Hari Ini Tembus Rp 18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah

Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai sekitar 478,5 juta dollar AS.

Keluarnya dana asing masih berlanjut pada perdagangan Selasa (2/6/2026) sebesar 78,13 juta dollar AS.

Dia juga menyoroti aksi jual investor asing yang terjadi pada 28 Mei 2026, terutama pada saham-saham konglomerasi dan saham yang berkaitan dengan penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Senada, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan, penguatan dollar AS saat ini didorong oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca juga: Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah, Cek Kurs Dollar AS di Bank-bank Besar

"Iya situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," kata Ariston kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, tingginya harga minyak dunia akibat konflik tersebut turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah karena meningkatkan kebutuhan dollar AS untuk membayar impor energi.

"Harga minyak mentah yang tinggi juga membebani rupiah karena permintaan dollar meningkat untuk impor minyak. Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia," ujarnya.

Ariston menilai peluang penguatan rupiah sangat bergantung pada meredanya konflik geopolitik yang saat ini mendorong investor global memburu aset aman.

Baca juga: IHSG Anjlok 1,3 Persen Pagi Ini, Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS

"Kuncinya di perdamaian AS-Iran untuk memicu pelemahan dollar AS," kata dia

Tag:  #kenapa #rupiah #melemah #hingga #18000 #dollar #penyebabnya

KOMENTAR