Rupiah Pagi Menguat ke Level 17.827 Per Dollar
- Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (1/6/2026).
Pada pukul 09.20 WIB, mata uang Garuda berada di level 17.855 per dollar AS.
Rupiah menguat 26 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan Jumat (29/6/2026) di level Rp 17.881 per dollar AS.
Penguatan terus berlanjut ke level Rp 17.827 per dollar AS pada pukul 09.43 WIB, menguat 54 poin atau 0,30 persen.
Baca juga: Rupiah Melemah, Purbaya Yakin Tekanan Akan Mereda dalam Beberapa Bulan
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pekan ini akan berfluktuasi akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih belum menemui titik akhir.
Oleh karenanya, nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tekanan pada pekan pertama Juni 2026.
"Rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju di Rp 18.150 di minggu pertama di bulan Juni," ujarnya kepada media, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan saat ini adalah ketegangan di Selat Hormuz, Iran yang masih berlangsung di tengah negosiasi kesepakatan antara AS dan Iran.
Ketidakjelasan mengenai klausul pengayaan uranium dalam rancangan kesepakatan tersebut dinilai membuat situasi di kawasan tersebut tetap rentan.
"Keputusan untuk kesepakatan ini sudah ada di tangan Donald Trump, Presiden AS yang kemungkinan besar dalam minggu ini akan diumumkan. Apakah kesepakatan damai ini akan disetujui atau tidak tanpa adanya pengayaan uranium. Ini yang sebenarnya membuat ketegangan di Selat Hormuz masih terus terjadi," jelasnya.
Selain itu, peringatan dari otoritas perdagangan maritim Inggris mengenai masih berlakunya pembatasan lalu lintas kapal di sekitar Iran turut menambah kekhawatiran pasar.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global dan mendorong kenaikan biaya transportasi.
"Ini yang membuat transportasi masih akan tersendat sehingga ini akan membuat inflasi akan tetap tinggi," kata dia.
Ibrahim menilai tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi, khususnya bensin di AS, dapat membuat bank sentral AS (The Federal Reserve) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bahkan, menurutnya, masih terbuka peluang adanya kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi tidak mereda.
"Ini sebenarnya yang membuat dollar AS ini menguat cukup tajam," tuturnya.
Baca juga: Ancaman Spekulan di Tengah Pelemahan Rupiah