Harga LNG Global Naik, Keseimbangan Pasokan dan Daya Saing Industri Disorot
Ilustrasi kapal tanker LNG.(PEXELS/DIEGO F PARRA)
16:52
1 Juni 2026

Harga LNG Global Naik, Keseimbangan Pasokan dan Daya Saing Industri Disorot

Gejolak geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi dunia menempatkan banyak negara, termasuk Indonesia, pada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga energi, kepastian pasokan, dan keberlanjutan sektor energi nasional.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri manufaktur mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap kenaikan harga gas dan ketidakpastian pasokan energi.

Kekhawatiran itu dinilai wajar mengingat energi, khususnya gas bumi, merupakan salah satu faktor penting yang menopang aktivitas industri nasional.

Baca juga: Siasat PGN di IPA Convex 2026, Perkuat Pasokan Gas Nasional lewat Jalur Pipa dan LNG

Ilustrasi kapal tanker LNG. WIKIMEDIA COMMONS/GORDON LEGGETT Ilustrasi kapal tanker LNG.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan situasi yang terjadi saat ini mencerminkan dilema kebijakan energi yang nyata.

“Menurut saya, situasi ini perlu dibaca sebagai dilema kebijakan energi yang sangat nyata, karena gas bumi bukan hanya komoditas tetapi juga bahan bakar produksi industri,” ujar Josua.

Menurut dia, isu harga LNG dan gas bumi tidak bisa dilihat semata-mata sebagai persoalan sektor energi. Dampaknya juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan industri nasional dan stabilitas perekonomian.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan pemanfaatan gas bumi Indonesia mayoritas digunakan untuk kebutuhan domestik dan dimanfaatkan hampir di seluruh sektor industri.

Baca juga: Menakar LNG dengan Presisi demi Menjaga Kepercayaan Pasar

“Ini menjelaskan mengapa isu harga LNG dan gas bumi tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan penyedia energi, tetapi juga sebagai persoalan industri nasional dan stabilitas ekonomi,” kata Josua.

Tekanan energi terjadi di banyak negara

Meski demikian, Josua menilai kondisi yang dihadapi Indonesia perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas.

Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.WIKIMEDIA COMMONS/JOACHIMKOHLERBREMEN Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.

Gejolak geopolitik global tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga memicu kenaikan biaya energi serta persaingan dalam mengamankan pasokan energi di berbagai negara.

Menurut dia, banyak negara di Asia kini semakin aktif mengamankan pasokan LNG untuk memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus menjaga keberlangsungan sektor industrinya.

Baca juga: Harga LNG Global Naik, Pakar Minta Pasokan Domestik Dijaga

Berdasarkan data PetroVietnam dan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) tahun 2026, harga gas di Vietnam yang semakin bergantung pada LNG telah mencapai sekitar 27,81 dollar AS per MMBtu.

Sementara itu, berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN tahun 2026, harga LNG di Filipina telah mencapai sekitar 28,50 dollar AS per MMBtu.

Singapura sebagai pusat perdagangan LNG regional bahkan mencatat harga yang lebih tinggi.

Untuk sektor bulk industri, harga LNG mencapai sekitar 40,12 dollar AS per MMBtu, sedangkan untuk sektor retail umum mencapai sekitar 47,54 dollar AS per MMBtu.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

Menurut Josua, kondisi yang kini terjadi di Filipina dan Vietnam mulai relevan bagi Indonesia, terutama terkait pasokan energi berbasis LNG yang tidak memperoleh subsidi langsung.

“Situasi pilihan sulit seperti di Filipina dan Vietnam juga mulai relevan bagi Indonesia, terutama untuk pasokan yang berbasis LNG yang tidak mendapatkan subsidi langsung. Di satu sisi, menjaga harga gas terlalu rendah membantu industri bertahan dan menjaga daya beli namun di sisi lain, jika harga jual dipaksa terlalu rendah maka penyedia energi menanggung kerugian, pasokan berisiko terganggu, dan investasi energi menjadi kurang menarik,” jelasnya.

Harga LNG Indonesia masih relatif kompetitif

Di tengah tekanan global tersebut, harga LNG domestik Indonesia setelah penyesuaian diperkirakan berada pada kisaran 21 dollar AS hingga 25 dollar AS per MMBtu.

Menurut Josua, kisaran harga tersebut masih relatif kompetitif dibandingkan sejumlah negara di kawasan maupun dibandingkan beberapa alternatif sumber energi lainnya.

Ilustrasi fasilitas LNG.PEXELS/TOM FISK Ilustrasi fasilitas LNG.

Baca juga: IEA: Krisis Timur Tengah Ganggu Pasokan LNG Global hingga 2027

Namun, ia mengingatkan, mempertahankan harga LNG yang tidak mencerminkan kondisi pasar dapat memunculkan risiko baru terhadap ketahanan energi nasional.

Josua menilai risiko terbesar apabila LNG yang tidak memperoleh subsidi tetap dipaksa dijual tanpa penyesuaian harga adalah munculnya tekanan terhadap penyedia energi yang pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan pasokan.

“Padahal, di situasi seperti saat ini hal terpenting adalah ketersediaan dan kepastian pasokan energi ketimbang harga murah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketidakpastian harga yang tidak sesuai dengan keekonomian pasar dapat membuat penyedia energi lebih berhati-hati dalam mengambil kontrak jangka panjang maupun membeli pasokan tambahan yang mengacu pada harga pasar global.

Baca juga: LNG Qatar Diserang Iran, Bos Energi: Sudah Diingatkan sejak Awal

“Kepastian pasokan bisa melemah (jika tidak ada penyesuaian harga) karena penyedia energi akan lebih berhati-hati mengambil kontrak jangka panjang atau membeli pasokan tambahan yang mengacu pasar global. Lalu, investasi hulu migas dapat tertahan karena investor melihat harga domestik tidak mencerminkan keekonomian proyek,” kata Josua.

Risiko ketergantungan impor energi

Menurut Josua, dampak lanjutan dari lemahnya investasi di sektor hulu minyak dan gas adalah meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, termasuk LNG.

Ketergantungan tersebut pada akhirnya dapat membuat Indonesia semakin rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

“Dan justru semakin rentan terhadap gejolak harga global,” imbuhnya.

Baca juga: QatarEnergy Hentikan Produksi LNG Usai Diserang Iran, Pasokan Global Terancam

Karena itu, Josua menilai kebijakan energi perlu diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan sektor energi nasional.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Ia menyarankan agar penyesuaian harga dilakukan secara bertahap ketika harga LNG global meningkat. Sebaliknya, ketika harga global turun, manfaat penurunan tersebut juga perlu diteruskan kepada pelaku industri.

“Jalan tengahnya adalah penyesuaian harga yang bertahap, bantuan yang tepat sasaran, kontrak pasokan yang lebih panjang, efisiensi energi di industri, percepatan produksi gas domestik, dan kepastian investasi hulu migas. Dengan pendekatan itu, Indonesia bisa menjaga industri tetap hidup tanpa merusak fondasi ketahanan energi jangka panjang,” ujarnya.

Ketersediaan energi dinilai lebih penting

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar sekaligus Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB UB) Candra Fajri Ananda.

Baca juga: Gangguan Selat Hormuz, Harga LNG Global Terancam Naik 130 Persen

Menurut Candra, penyesuaian harga energi, terutama LNG yang semakin dibutuhkan berbagai sektor, merupakan langkah yang perlu dilakukan.

Ia menegaskan bahwa dalam sektor energi, harga harus mampu menutup biaya produksi agar keberlangsungan pasokan tetap terjaga.

“Dalam situasi seperti sekarang yang terpenting adalah ketersediaan energi. Bukan harga. Sekarang yang perlu dilakukan pemerintah adalah memastikan bahwa energi tidak akan langka,” kata Candra.

Menurut dia, dinamika harga energi global juga memberikan pelajaran penting bahwa penyesuaian harga perlu dilakukan agar perekonomian tidak selalu bergantung pada kebijakan subsidi.

Baca juga: Purbaya Soroti Megaproyek LNG Abadi Masela yang Tak Kunjung Beroperasi

“Kalau mau jujur, subsidi tetap tidak menjadikan ekonomi efisien. Subsidi ibarat vitamin yang sebentar terasa sehat tapi sebenarnya rapuh,” ujarnya.

Candra menambahkan, skema yang terlalu mengandalkan subsidi juga berpotensi mengurangi daya tarik sektor energi bagi investor. Padahal, keberlanjutan investasi dibutuhkan untuk menjaga pasokan energi dalam jangka panjang.

Karena itu, menurut dia, keseimbangan antara kepentingan pengguna energi dan penyedia energi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor energi nasional.

Tag:  #harga #global #naik #keseimbangan #pasokan #daya #saing #industri #disorot

KOMENTAR