Lalu Lintas Minyak di Selat Hormuz Berpotensi Sulit Pulih Sepenuhnya
Perdagangan minyak global diperkirakan akan menghadapi realitas baru meskipun perang antara Iran-AS benar-benar usai.
Adapun volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz diprediksi tidak akan lagi kembali ke level normal seperti sebelumnya.
Mengutip CNBC, Minggu (31/5/2026), saat ini para pemilik kapal harus mempertimbangkan risiko pecahnya kembali konflik secara tiba-tiba di kawasan Teluk Persia yang dikenal sangat rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Baca juga: Trump Desak Selat Hormuz Dibuka, Iran Bahas Kendali Pelayaran
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Kapal-kapal komersial Barat juga diperkirakan akan lebih berhati-hati melintasi Selat Hormuz apabila jalur tersebut tetap berada di bawah kendali de facto Iran.
Situasi menjadi semakin rumit jika kapal-kapal tersebut harus berkoordinasi dengan Garda Revolusi Iran, yang berpotensi menimbulkan risiko pelanggaran terhadap sanksi AS.
Skenario ini dinilai memiliki konsekuensi yang sulit diprediksi mengingat peran vital Selat Hormuz dalam pasar energi global.
Sebelum perang, lalu lintas ekspor minyak memiliki kebebasan navigasi.
Baca juga: Trump Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Harga Minyak Dunia Langsung Turun
Namun, sejak terjadinya perang pada 28 Februari 2026 lalu, Iran menutup jalur pelayaran itu sebagai respons terhadap perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah dan meningkatkan tekanan terhadap AS untuk mencapai kesepakatan damai, seiring meningkatnya ancaman terhadap perekonomian global.
Teheran disebut berupaya memanfaatkan posisi tersebut untuk memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz dalam setiap penyelesaian konflik yang mengakhiri perang.
Ilustrasi kapal tanker.
Sejumlah pemimpin Timur Tengah bahkan meyakini Iran kini telah mengambil alih kendali atas Selat Hormuz.
Baca juga: Serangan AS Picu Harga Minyak Melonjak, Selat Hormuz Panas Lagi
Pandangan tersebut disampaikan mantan penasihat senior energi dan keamanan nasional Presiden AS, Joe Biden, Amos Hochstein.
Menurut Hochstein, apa pun hasil negosiasi nantinya, Iran akan tetap mengendalikan Selat Hormuz dalam jangka panjang.
“Apapun yang terjadi, Iran akan mengendalikan Selat Hormuz dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan ke depan,” kata Hochstein.
“Bahkan tidak terlalu penting apa isi kesepakatannya. Semua pihak di kawasan percaya bahwa itulah yang akan terjadi,” ujarnya.
Baca juga: Harga Minyak Terancam Tembus 150 Dollar AS, Pasar Dinilai Remehkan Krisis Hormuz
Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai volume lalu lintas kapal tanker minyak sebelum perang kemungkinan akan sulit dicapai kembali dalam waktu dekat.
Menurutnya, jika Iran tetap memiliki kendali operasional dan pengaruh signifikan atas selat tersebut, maka arus perdagangan energi melalui Hormuz akan berada di level yang jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik.
“Menurut pandangan kami, skenario apa pun yang mengakhiri konflik tetapi tetap membuat Iran memiliki kendali operasional dan pengaruh atas Selat Hormuz akan menyebabkan arus pelayaran melalui jalur tersebut berada jauh di bawah level normal,” ujar Croft.
Sementara itu, Editor-in-Chief Lloyd’s List, Richard Meade, memperkirakan lalu lintas kapal di Hormuz hanya akan kembali ke kisaran 60-70 persen dari volume sebelum perang.
Baca juga: Stok Gas Eropa Bisa Habis dalam 3 Bulan akibat Krisis Hormuz
Dalam skenario tersebut, kapal-kapal yang berafiliasi dengan China diperkirakan dapat beroperasi lebih leluasa, sedangkan kapal Barat kemungkinan harus memperoleh perjanjian bilateral khusus dengan Iran untuk mendapatkan akses.
“Situasi ini memang tidak serta-merta memicu resesi seperti yang digambarkan dalam sejumlah skenario terburuk yang pernah dibahas sebelumnya, tetapi juga tidak memungkinkan terjadinya pemulihan ke tingkat aktivitas sebelum perang,” kata Meade.
Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.
“Yang muncul justru sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sebuah selat yang terbelah secara permanen, di mana akses ditentukan oleh keselarasan politik, bukan oleh prinsip kebebasan bernavigasi,” tambahnya.
Pelajaran dari krisis laut merah
Krisis Laut Merah menjadi contoh bagaimana ketidakstabilan geopolitik dapat mengganggu jalur perdagangan strategis jauh lebih lama dari yang diperkirakan.
Baca juga: AS-Iran Dekati Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan
Analis risiko maritim Lloyd’s List, Tomer Raanan mengatakan, salah satu pelajaran utama dari krisis di Laut Merah adalah bahwa tidak diperlukan armada laut yang besar untuk menciptakan gangguan besar pada jalur pelayaran strategis.
“Untuk menciptakan disrupsi besar di sebuah titik sempit jalur pelayaran maritim (maritime chokepoint), Anda tidak perlu memiliki angkatan laut yang sangat besar,” ujar Raanan.
Sementara itu, Kepala Risiko Negara Kawasan Timur Tengah di S&P Global Market Intelligence Jack Kennedy mengatakan, serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal komersial sejak November 2023 menyebabkan lalu lintas harian di Selat Bab el-Mandeb anjlok lebih dari 50 persen.
Meski serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah telah mereda sejak akhir tahun lalu, volume pelayaran hingga kini belum kembali ke level normal sebelum krisis.
Baca juga: Hormuz Diblokade Iran, UEA Kebut Pembangunan Jalur Pipa Minyak Alternatif
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman keamanan maritim dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap pola perdagangan global.
Namun, para analis menilai terdapat perbedaan mendasar antara Laut Merah dan Selat Hormuz.
Jika kapal-kapal masih dapat menghindari Laut Merah dengan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, Selat Hormuz tidak memiliki alternatif yang setara.
Jalur ini merupakan titik sempit strategis yang sangat penting bagi distribusi energi dunia.
Baca juga: FAO Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dalam 12 Bulan, Imbas Krisis Selat Hormuz
Ilustrasi kapal tanker LNG.
Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz.
Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah memanfaatkan jaringan pipa untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak mereka ke Laut Merah dan Teluk Oman, kapasitas tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan peran Hormuz.
“Memang bisa mengalihkan sebagian pengiriman melalui jaringan pipa, tetapi tidak semua komoditas dapat disalurkan lewat pipa,” kata Raanan.
“Kita tidak hanya berbicara soal minyak yang harus keluar melalui Selat Hormuz,” lanjutnya.
Baca juga: Selat Hormuz Masih Tertutup, Cadangan Minyak Global Kian Kritis
Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur penting bagi perdagangan LNG, pupuk, dan berbagai komoditas lainnya.
Karena minimnya alternatif, pelaku industri pelayaran kemungkinan harus beradaptasi dengan kondisi baru di Hormuz, meskipun tingkat risikonya lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah negara Teluk mulai mempercepat pembangunan jalur alternatif.
Uni Emirat Arab, misalnya, tengah mempercepat pembangunan pipa kedua yang menghindari Selat Hormuz dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Baca juga: IEA Peringatkan Krisis Minyak Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, bahkan memperkirakan pentingnya Selat Hormuz terhadap pasar energi global akan berangsur menurun seiring bertambahnya infrastruktur alternatif di kawasan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peran negara-negara Teluk sebagai produsen energi utama dunia tetap akan sangat penting bagi pasokan energi global.
“Menggunakan blokade seperti ini hanya bisa dilakukan sekali. Akan ada jalur-jalur lain yang digunakan untuk menyalurkan energi keluar dari Teluk Persia,” kata Wright.
“Kita akan melihat berkurangnya peran strategis Selat Hormuz, tetapi bukan berarti pentingnya produksi dan pasokan energi dari negara-negara di kawasan tersebut ikut menurun,” tegasnya.
Tag: #lalu #lintas #minyak #selat #hormuz #berpotensi #sulit #pulih #sepenuhnya