Rupiah Melemah, Biaya Impor dan Utang Industri Kian Berat
ilustrasi(canva.com)
17:44
28 Mei 2026

Rupiah Melemah, Biaya Impor dan Utang Industri Kian Berat

Pelemahan rupiah dinilai berpotensi menekan banyak sektor ekonomi pada semester II-2026, terutama industri yang bergantung pada energi dan bahan baku impor.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan dampak pelemahan nilai tukar tak hanya dirasakan sektor tertentu karena ekonomi global saat ini sudah saling terhubung.

“Masalahnya, saat ini ekonomi dunia sudah merupakan satu ekosistem, apalagi ASEAN. Jadi seluruh sektor akan terpengaruh, apalagi suku bunga juga akan cenderung naik,” ujar Wijayanto kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Baca juga: Ekonom: Rupiah Bisa Rebound jika Kebijakan Fiskal dan Moneter Solid

Ilustrasi rupiah. Ekonom Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Era Prabowo dan BJ HabibiePIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah. Ekonom Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Era Prabowo dan BJ Habibie

Menurut dia, sektor yang paling rentan terkena dampak adalah industri dengan kebutuhan impor tinggi dan biaya operasional berbasis dollar Amerika Serikat.

“Sektor paling terpengaruh adalah penerbangan, transportasi laut dan darat, farmasi, petrokimia, plastik, elektronik, otomotif, teknologi, dan konstruksi,” kata dia.

Wijayanto menjelaskan, pelemahan rupiah akan membuat biaya impor bahan baku, energi, maupun pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan margin usaha dan mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.

Baca juga: Rupiah Juga Anjlok terhadap Dollar Singapura, Apa Dampaknya bagi RI?

Di sektor penerbangan misalnya, tekanan muncul karena mayoritas biaya operasional seperti avtur, sewa pesawat, hingga perawatan dibayar menggunakan dollar Amerika Serikat.

Hal serupa juga terjadi pada industri farmasi yang masih bergantung pada impor bahan baku obat.

Sementara di sektor otomotif dan elektronik, pelemahan rupiah dinilai dapat memicu kenaikan harga produk karena tingginya komponen impor dalam rantai produksi.

Selain itu, Wijayanto menilai kenaikan suku bunga yang berpotensi terjadi akibat tekanan rupiah juga akan membebani sektor konstruksi dan properti karena biaya pembiayaan menjadi lebih mahal.

Baca juga: Rupiah di Zona Waspada, Ekonom: Pasar Sedang Uji Kredibilitas Pemerintah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah di pasar spot semakin melemah pada awal perdagangan Kamis (28/5/2026). Per pukul 09.48 WIB, rupiah terdepresiasi 69 poin atau 0,39 persen ke level 17.870 per dollar Amerika Serikat.

Rupiah melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya.

Pada Rabu (27/5/2025), rupiah di pasar spot melemah 0,03 persen ke Rp 17.801 per dollar Amerika Serikat.

Tag:  #rupiah #melemah #biaya #impor #utang #industri #kian #berat

KOMENTAR