Krisis Timur Tengah Dorong Dunia Kembali Andalkan Batu Bara
Ilustrasi batu bara, pertambangan batu bara.(PIXABAY/ANATOLY STAFICHUK)
15:24
28 Mei 2026

Krisis Timur Tengah Dorong Dunia Kembali Andalkan Batu Bara

Di tengah derasnya arus transisi energi dan kampanye global menuju energi bersih, investasi batu bara dunia justru terus meningkat.

Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah membuat banyak negara kembali mengandalkan sumber energi fosil yang dinilai paling tersedia dan paling mudah diakses dalam jangka pendek.

Laporan World Energy Investment 2026 dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis pada Kamis (28/5/2026) menunjukkan, investasi pasokan batu bara global diperkirakan mencapai 180 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.212 triliun (asumsi kurs Rp 17.846 per dollar AS) pada 2026.

Baca juga: Ketahanan Energi hingga Biaya Jadi Tantangan ESG Batu Bara

Ilustrasi batu bara.PIXABAY/BEN SCHERJON Ilustrasi batu bara.

Nilai itu menjadi yang tertinggi sejak 2012.

Kenaikan investasi tersebut terjadi ketika banyak negara menghadapi ketidakpastian pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, terutama gangguan distribusi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.

IEA menyebut, krisis terbaru ini memperkuat fokus negara-negara terhadap keamanan energi.

“Perubahan persepsi tentang risiko dan keandalan diperkirakan akan memicu minat baru pada berbagai sumber energi yang tersedia di dalam negeri; bagi importir bahan bakar utama, ini menciptakan peluang bagi energi terbarukan, nuklir, dan berpotensi juga untuk batu bara,” tulis IEA dalam laporan tersebut.

Dengan kata lain, meningkatnya persepsi risiko terhadap impor energi mendorong negara-negara kembali melirik sumber energi domestik, termasuk batu bara.

Baca juga: Ekspor CPO, Batu Bara, dan Feronikel Lewat DSI Berlaku Penuh Mulai 2027

China dan India jadi motor utama

Foto udara suasana bongkar muat di tempat penampungan sementara batu bara di Keramasan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan, nilai ekspor komoditas nonmigas unggulan batu bara dan lignit periode Januari-Maret 2026 mencapai 343,59 juta dolar AS atau turun 50,99 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 sebesar 701,13 juta dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Foto udara suasana bongkar muat di tempat penampungan sementara batu bara di Keramasan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan, nilai ekspor komoditas nonmigas unggulan batu bara dan lignit periode Januari-Maret 2026 mencapai 343,59 juta dolar AS atau turun 50,99 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 sebesar 701,13 juta dolar AS.

Kenaikan investasi batu bara global terutama ditopang oleh China dan India.

IEA mencatat, China menyumbang hampir 70 persen investasi batu bara dunia pada 2026. Negara tersebut juga menjadi pihak yang paling aktif menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Secara nominal, lebih dari 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.784 triliun investasi batu bara global berasal dari pengembangan produksi batu bara termal di China. Nilai itu naik 7 persen dibandingkan 2025 dan hampir dua kali lipat dibanding satu dekade lalu.

India menjadi investor batu bara terbesar kedua di dunia. Dalam laporan tersebut, IEA menyebut investasi batu bara India meningkat tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Baca juga: Purbaya Bongkar Under Invoicing CPO-Batu Bara, Jadi Dasar PT DSI Awasi Ekspor SDA

Menurut IEA, krisis energi saat ini kemungkinan akan memperkuat penggunaan batu bara di pasar-pasar utama Asia, setidaknya untuk jangka pendek.

“Krisis ini mungkin akan mendorong pengeluaran untuk batu bara di pasar-pasar utama Asia, setidaknya dalam jangka pendek, karena negara-negara berupaya mempertahankan aset pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada dalam sistem untuk jangka waktu yang lebih lama,” ungkap IEA.

Negara-negara Asia dinilai masih memerlukan batu bara untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan di tengah volatilitas harga minyak dan gas global.

Energi murah dan tersedia cepat

Kondisi itu menunjukkan bahwa di tengah transisi menuju energi bersih, pertimbangan keamanan pasokan dan keterjangkauan harga masih menjadi prioritas utama banyak negara.

Baca juga: Mendag: Pungutan Ekspor Sawit-Batu Bara Ditanggung PT DSI

IEA mencatat, konflik Timur Tengah mengubah cara negara dan investor melihat proyek energi.

Ilustrasi batu bara.SHUTTERSTOCK/SMALL SMILES Ilustrasi batu bara.

Jika sebelumnya fokus lebih banyak tertuju pada aspek emisi dan keberlanjutan, kini keamanan pasokan dan diversifikasi sumber energi kembali menjadi pertimbangan utama.

“Konflik di Timur Tengah memperkuat pergeseran menuju keamanan, kepercayaan, dan keragaman sebagai pertimbangan utama dalam memilih proyek dan mitra energi, di samping biaya, harga, dan kinerja lingkungan,” tulis IEA.

Batu bara dianggap masih memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan domestik dan biaya produksi yang relatif murah dibanding impor gas alam cair atau LNG.

Baca juga: Skema Ekspor Batu Bara hingga CPO Lewat BUMN, Emiten Berisiko Tertekan Margin

Di saat yang sama, investasi gas global juga menghadapi tantangan. IEA menyebut, krisis gas yang terjadi dua kali dalam lima tahun terakhir mulai memengaruhi kepercayaan negara-negara importir terhadap keandalan pasokan LNG.

Hal itu mendorong sebagian negara mempertahankan pembangkit batu bara yang sudah ada lebih lama dari rencana sebelumnya.

Investasi energi global tetap naik

Secara keseluruhan, investasi energi global diperkirakan mencapai 3,4 triliun dollar AS atau sekitar Rp 60.680 triliun pada 2026, naik 5 persen dibandingkan 2025.

Dari total tersebut, sekitar 2,2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 39.263 triliun mengalir ke sektor energi bersih seperti energi terbarukan, jaringan listrik, baterai, nuklir, elektrifikasi, dan efisiensi energi.

Baca juga: Ekspor Batu Bara hingga Sawit Lewat BUMN Dimulai 1 Juni 2026

Sementara sekitar 1,2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 21.416 triliun masih mengalir ke minyak, gas, dan batu bara.

Meski investasi energi bersih tetap lebih besar, IEA menilai krisis terbaru menunjukkan bahwa bahan bakar fosil masih memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi global.

Dalam sektor pembangkit listrik, energi terbarukan memang masih mendominasi investasi global. IEA mencatat investasi energi terbarukan mencapai sekitar 665 miliar dollar AS atau sekitar Rp 11.868 triliun per tahun.

Ilustrasi energi terbarukan.SHUTTERSTOCK/BOY ANTHONY Ilustrasi energi terbarukan.

Dari jumlah itu, investasi tenaga surya mencapai 365 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.514 triliun.

Baca juga: China Jadi Mitra Utama Batu Bara RI, Kolaborasi Industri Kian Luas

Namun, laju pertumbuhan investasi energi terbarukan mulai melambat sejak 2024. Penurunan biaya teknologi menjadi salah satu penyebab, tetapi perubahan kebijakan di China dan Amerika Serikat juga meningkatkan ketidakpastian proyek baru energi bersih.

Di sisi lain, investasi jaringan listrik dan penyimpanan energi justru meningkat tajam.

Investasi jaringan listrik global diperkirakan mencapai 550 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.815 triliun pada 2026, sedangkan investasi baterai sektor ketenagalistrikan menembus 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.784 triliun.

Negara berkembang masih tertinggal

Laporan IEA juga menunjukkan ketimpangan investasi energi global masih cukup besar. Negara maju dan China menyumbang lebih dari 70 persen total investasi energi dunia pada 2026.

Baca juga: ESG Sektor Batu Bara Dinilai Perlu Dipantau hingga Dampak Hilir

Sebaliknya, negara berkembang selain China hanya memperoleh kurang dari 30 persen investasi energi global dan sekitar 20 persen investasi sektor ketenagalistrikan, meski menampung dua pertiga populasi dunia.

IEA menilai biaya pendanaan menjadi tantangan utama negara berkembang dalam menarik investasi energi.

“Biaya pembiayaan yang lebih tinggi juga akan menempatkan pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang pada posisi yang sangat tidak menguntungkan,” terang IEA.

Negara berkembang disebut menghadapi biaya modal proyek energi yang bisa mencapai dua kali lebih tinggi dibanding negara maju dan China. Kondisi itu membuat banyak proyek energi, termasuk energi bersih, menjadi lebih sulit terealisasi.

Baca juga: Industri Batu Bara RI-China Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Tambang Hijau

Ilustrasi kilang minyak.DOK. Shutterstock Ilustrasi kilang minyak.

Ketahanan energi kembali jadi prioritas

Krisis Timur Tengah juga memperlihatkan bagaimana gangguan pada jalur distribusi energi dapat memengaruhi investasi global.

IEA mencatat, lebih dari 30 fasilitas energi di Timur Tengah mengalami kerusakan akibat konflik, termasuk kilang minyak, fasilitas petrokimia, hingga fasilitas LNG besar di Qatar.

Selain itu, sekitar 20 kapal tanker dilaporkan terkena serangan rudal atau drone. Biaya perbaikan infrastruktur energi di kawasan tersebut diperkirakan mencapai puluhan miliar dollar AS.

Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran negara-negara importir energi terhadap ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Baca juga: Purbaya Tunda Bea Keluar Batu Bara dan Nikel, Potensi Penerimaan Rp 200 Triliun Melayang

IEA menyebut, pengalaman krisis energi sebelumnya juga menunjukkan gejolak geopolitik sering kali memicu lonjakan investasi energi domestik. Setelah krisis minyak 1973-1974, investasi hulu minyak dan gas meningkat tajam di Amerika Utara, Eropa, dan Eurasia.

Kini, pola serupa kembali terlihat.

Di tengah dorongan transisi energi global, batu bara masih bertahan sebagai salah satu pilihan utama banyak negara untuk menjaga keamanan pasokan energi dan stabilitas ekonomi domestik.

Tag:  #krisis #timur #tengah #dorong #dunia #kembali #andalkan #batu #bara

KOMENTAR