Krisis Energi Dunia Bikin Investasi Panel Surya Melesat, Tembus Rp 6.514 Triliun
Energi surya semakin menegaskan posisinya sebagai sektor paling agresif dalam investasi energi global di tengah ketidakpastian geopolitik dan krisis energi dunia.
Laporan World Energy Investment 2026 dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis pada Kamis (28/5/2026) menunjukkan investasi proyek tenaga surya global pada 2026 diperkirakan mencapai 365 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.514 triliun (asumsi kurs Rp 17.847 per dollar AS).
Nilai itu setara lebih dari Rp 17,8 triliun per hari.
Baca juga: RI Capai 1,3 GW PLTS Atap, Jadi Fondasi Menuju Target 100 GW Energi Surya
Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.
Investasi tenaga angin diperkirakan mencapai 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.569 triliun, sedangkan hydropower mencapai 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.338 triliun.
IEA menyebut sekitar 665 miliar dollar AS atau Rp 11.868 triliun per tahun kini mengalir ke proyek energi terbarukan secara global.
Meski total investasi energi terbarukan secara keseluruhan mengalami penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya, energi hijau masih mendominasi sekitar 70 persen belanja pembangkit listrik dunia.
Baca juga: Industri Panel Surya RI Tertekan Tarif AS, Pemerintah Perkuat Pasar Dalam Negeri
Penurunan investasi tahunan itu bukan disebabkan melemahnya minat pasar, melainkan karena biaya teknologi yang semakin murah, terutama panel surya.
Biaya panel surya turun drastis
IEA mencatat biaya investasi untuk membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya turun drastis dalam satu dekade terakhir.
Ilustrasi panel surya.
Pada 2015, pembangunan 1 gigawatt (GW) kapasitas PLTS membutuhkan investasi sekitar 3 miliar dollar AS atau Rp 53,5 triliun. Namun pada 2025, kebutuhan investasi rata-rata turun menjadi sekitar 700 juta dollar AS atau Rp 12,49 triliun per GW.
Penurunan biaya itu didorong oleh jatuhnya harga modul surya dan peningkatan skala produksi global.
Baca juga: ESDM Genjot Pembangunan PLTS 100 GW, Serap Panel Surya Dalam Negeri
IEA juga mencatat inovasi teknologi telah memangkas biaya energi surya hingga sekitar 80 persen dalam periode 2015-2026. Penurunan serupa juga terjadi pada baterai penyimpanan energi dan kendaraan listrik.
Menurut IEA, tanpa penurunan biaya teknologi tersebut, total investasi energi global yang diperkirakan terjadi pada 2026 bisa hampir dua kali lebih mahal dibanding kondisi saat ini.
“Tanpa pengurangan biaya dalam sepuluh tahun terakhir, investasi energi yang diantisipasi untuk tahun 2026 akan hampir dua kali lebih mahal,” tulis IEA dalam laporannya.
Turunnya biaya investasi membuat kapasitas PLTS global melonjak tajam. Dalam laporan itu, IEA menunjukkan tambahan kapasitas surya tahunan meningkat hampir 10 kali lipat sejak 2015.
Baca juga: Danantara Incar Investasi Energi Rp 518,74 T Singapura, Proyek Panel Surya Terbesar ASEAN
Krisis energi dorong lonjakan penggunaan energi surya
Konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global menjadi salah satu faktor yang mempercepat penggunaan energi surya di berbagai negara.
IEA menyebut negara-negara pengimpor energi kini mulai mencari sumber energi domestik yang lebih aman dan stabil untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
“Perubahan persepsi tentang risiko dan keandalan diperkirakan akan memicu minat baru pada berbagai sumber energi yang tersedia di dalam negeri,” ujar IEA.
Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Energi surya dinilai menjadi salah satu pilihan paling menarik karena tersedia hampir di seluruh wilayah dunia dan dapat dipasang dalam skala rumah tangga maupun utilitas besar.
Baca juga: Dari Energi Surya hingga Limbah Kardus, Cara Amman Raih Proper Hijau
IEA mencatat impor panel surya China ke negara berkembang di Asia dan Afrika melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
Filipina menjadi tujuan terbesar ekspor panel surya China di antara negara berkembang pada kuartal I-2026, dengan volume mencapai tiga kali lipat dibandingkan level 2025.
Di Afrika, sebanyak 15 negara melaporkan impor panel surya tertinggi sepanjang sejarah dengan nilai lebih dari 400 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,13 triliun hanya pada kuartal pertama 2026.
Angka itu mendekati total impor sepanjang 2025 yang mencapai 650 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,6 triliun.
Baca juga: Prabowo di Jepang: dalam 3 Tahun Kita Ingin Capai 100 GW Energi Surya
IEA menyebut rumah tangga dan pelaku usaha mulai memanfaatkan panel surya dan baterai untuk melindungi diri dari lonjakan harga energi dan risiko gangguan pasokan, terutama di wilayah yang masih bergantung pada generator diesel.
Asia Tenggara jadi pasar yang tumbuh cepat
Laporan IEA juga menunjukkan Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan energi bersih paling cepat akibat tekanan krisis energi.
Thailand, Filipina, dan Vietnam disebut kembali menegaskan komitmen pengembangan listrik bersih guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Secara global, pangsa investasi pembangkit listrik rendah emisi meningkat dari sekitar 60 persen pada 2019 menjadi 75 persen saat ini di sejumlah pasar yang terdampak krisis energi.
Baca juga: Efek Perang Iran, Inggris Wajibkan Rumah Baru Pasang Panel Surya
Data IEA juga memperlihatkan ekspor panel surya China ke Asia Tenggara melonjak sekitar 150 persen pada kuartal I-2026 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor ke Afrika naik sekitar 120 persen.
Ilustrasi panel surya yang menjadi salah satu energi baru terbarukan.
Selain sektor pembangkit listrik besar, penggunaan energi surya rumah tangga dan sistem penyimpanan energi juga mulai meningkat seiring kebutuhan masyarakat terhadap sumber listrik yang lebih stabil dan murah.
Dominasi China dalam industri surya
Di balik pesatnya perkembangan energi surya global, China memegang posisi sangat dominan dalam rantai pasok energi bersih dunia.
IEA mencatat China menyumbang sekitar 75 persen investasi manufaktur energi bersih global pada 2025. Negara itu juga menguasai sekitar 95 persen kapasitas produksi wafer panel surya dunia serta 80 persen rantai pasok baterai lithium-ion global.
Baca juga: PLTD di Pulau Terluar Akan Diganti Pembangkit Surya
Dominasi tersebut membuat penurunan biaya teknologi surya berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir karena skala produksi yang besar.
Namun IEA juga mengingatkan, ketergantungan rantai pasok global pada satu negara dapat memunculkan tantangan baru terkait keamanan energi dan diversifikasi industri.
Selain investasi pembangkit energi terbarukan, dunia kini juga mulai mengalokasikan dana besar untuk pengembangan jaringan listrik dan baterai guna menopang sistem energi yang semakin bergantung pada listrik.
IEA memperkirakan investasi jaringan listrik global mencapai sekitar 550 miliar dollar AS atau Rp 9.815 triliun pada 2026. Sementara investasi baterai sektor ketenagalistrikan melampaui 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.784 triliun.
Baca juga: Dugaan Produk Transhipment Jadi Biang Kerok Panel Surya RI Kena Tarif 104,38 Persen di AS
Menurut IEA, pergeseran investasi tersebut menunjukkan sistem energi global bergerak menuju era elektrifikasi yang lebih kuat.
“Pengeluaran terkait listrik sudah mencakup hampir 60 persen dari seluruh investasi energi global,” ujar IEA.
Tag: #krisis #energi #dunia #bikin #investasi #panel #surya #melesat #tembus #6514 #triliun