Perang Iran Telan Biaya hingga Rp 800 Triliun, Pentagon Kesulitan Dana
- Pentagon mulai menghadapi tekanan anggaran serius di tengah operasi militer berkepanjangan melawan Iran. Kondisi ini membuat sejumlah aktivitas rutin militer AS, mulai dari pelatihan hingga pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista), mulai terganggu.
Para petinggi militer AS kini mendesak Kongres untuk segera menyetujui tambahan anggaran pertahanan agar operasional militer tidak semakin terdampak.
Pejabat tertinggi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, mengatakan, anggaran tahun 2026 Angkatan Laut tidak memasukkan biaya Operasi Epic Fury, yaitu operasi militer Presiden AS Donald Trump terkait perang Iran.
Akibatnya, Angkatan Laut harus mengurangi sejumlah kegiatan rutin seperti latihan militer, jam latihan terbang, hingga pelatihan rekrutan baru.
Baca juga: Perang Iran Tekan Ekonomi, 27 Negara Cari Akses Cepat ke Dana Bank Dunia
“Rekor perekrutan personel yang saya capai akan terganggu tanpa tambahan pendanaan untuk memindahkan personel dari kamp pelatihan dan membayar bonus perekrutan maupun perpanjangan kontrak,” ujar Caudle di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS seperti dikutip dari CNN, Kamis (28/5/2026).
Tekanan anggaran juga dialami Angkatan Darat AS. Korps Lapis Baja III yang berbasis di Texas dan mengawasi sekitar 70.000 tentara serta ratusan tank mengalami pemotongan anggaran pelatihan hampir 292 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,2 triliun (kurs Rp 17.800 per dollar AS) pada akhir April.
Selain itu, lembaga pendidikan medis militer AS membatalkan puluhan kursus serta menghentikan pendanaan terpusat untuk sejumlah program pendidikan lainnya.
Pentagon sendiri menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Dalam sistem anggaran militer AS, setiap pos pengeluaran memiliki alokasi khusus dan tidak dapat dipindahkan tanpa persetujuan Kongres. Biaya pelatihan militer umumnya berasal dari akun Operations and Maintenance (O&M) atau Operasi dan Pemeliharaan.
Pakar anggaran pertahanan dari American Enterprise Institute, Todd Harrison, menjelaskan akun O&M digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pelatihan, pengerahan pasukan, bahan bakar, perjalanan dinas, perbaikan peralatan, hingga pembayaran pegawai sipil Pentagon.
Menurut Harrison, sangat mungkin Pentagon kini mulai melakukan penghematan dengan mengurangi perjalanan yang tidak mendesak maupun membatalkan sebagian latihan militer.
Pada awal konflik Iran, pemerintahan Donald Trump sempat membahas tambahan anggaran militer hingga 200 miliar dollar AS (Rp 3.560 triliun). Namun, pemerintah kemudian menyebut angka tersebut terlalu tinggi dan belum memberikan rincian resmi terkait kebutuhan tambahan dana.
Sementara itu, Pentagon memperkirakan biaya konflik saat ini mencapai sekitar 29 miliar dollar AS (Rp 516,2 triliun).
Pelaksana Tugas Pengawas Keuangan Pentagon, Jules Hurst III, mengatakan, estimasi tersebut hanya mencakup biaya amunisi dan pesawat yang hancur, belum termasuk biaya pembangunan kembali pangkalan militer.
Sumber CNN menyebut total biaya perang sebenarnya bisa mencapai 40 miliar hingga 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp 712 triliun hingga Rp 890 triliun.
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.
Masalah anggaran militer biasanya muncul menjelang akhir tahun fiskal AS pada September. Namun pada 2026, tekanan anggaran datang lebih cepat akibat meningkatnya biaya operasi dan konflik berkepanjangan di Iran.
Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal Kenneth Wilsbach, mengatakan, konflik Iran memperburuk masalah kesiapan tempur yang sebelumnya sudah dihadapi militer AS.
Di Kongres, anggota DPR dari Partai Republik Ken Calvert mendesak Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth segera mengajukan tambahan anggaran.
“Kita perlu mengembalikan dana akun O&M yang kemungkinan besar digunakan untuk membiayai operasi militer yang sedang berlangsung,” kata Calvert.
Harrison menilai biaya tersembunyi dari perang akan terus meningkat dalam jangka panjang karena penggunaan alutsista secara intensif akan mempercepat kerusakan dan meningkatkan kebutuhan perawatan.
Selain itu, Pentagon juga membutuhkan tambahan dana untuk mengisi kembali stok rudal pertahanan udara dan rudal ofensif yang mulai menipis.
Baca juga: IMF: Ekonomi Singapura Melambat akibat Perang Timur Tengah
Tag: #perang #iran #telan #biaya #hingga #triliun #pentagon #kesulitan #dana