Harga Minyak Terancam Tembus 150 Dollar AS, Pasar Dinilai Remehkan Krisis Hormuz
Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah. (THINKSTOCKPHOTOS)
07:19
27 Mei 2026

Harga Minyak Terancam Tembus 150 Dollar AS, Pasar Dinilai Remehkan Krisis Hormuz

Harga minyak dunia kembali bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan potensi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pasar minyak global kini menghadapi tekanan berat akibat penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan memangkas jutaan barrel pasokan harian dunia.

Dikutip dari OilPrice, Rabu (27/5/2026), pada awal pekan ini, harga minyak dunia sempat melemah setelah muncul laporan kesepakatan antara AS dan Iran segera tercapai.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Bervariasi, Selasa (26/5) Perdamaian AS-Iran Dibayangi Ketidakpastian

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Harga minyak mentah Brent bahkan turun di bawah 100 dollar AS per barrel untuk pertama kali dalam beberapa hari terakhir.

Namun optimisme pasar berubah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada urgensi untuk segera mencapai kesepakatan dan blokade di Selat Hormuz tetap berlangsung.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar kebingungan. Di sisi lain, sejumlah analis memperingatkan harga minyak dapat bertahan jauh di atas 100 dollar AS per barrel dalam jangka panjang.

Trump menyebut negosiasi dengan Iran berlangsung “tertib dan konstruktif”, sehingga memicu optimisme pasar bahwa krisis pasokan minyak akan segera berakhir.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 1 Persen saat Minyak Turun, Investor Mulai Kembali Cari Safe Haven

Optimisme tersebut sebenarnya telah muncul sejak tentara Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan rudal AS dan Israel ke wilayah Iran.

Meski penutupan itu mengganggu pasokan global, trader minyak tetap percaya gangguan hanya berlangsung singkat.

Tiga bulan setelah penutupan jalur tersebut, optimisme pasar disebut masih bertahan.

Ilustrasi harga minyak mentah dunia. Shutterstock Ilustrasi harga minyak mentah dunia.

Trader terus menambah posisi bearish

Di tengah keyakinan krisis segera berakhir, trader minyak justru terus meningkatkan posisi short terhadap minyak mentah selama tujuh pekan berturut-turut.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7 Persen, Pasar Optimistis AS-Iran Segera Damai

Analis energi John Kemp mencatat posisi bearish pada harga minyak mentah Brent naik menjadi 100 juta barrel pada 19 Mei 2026, dari sebelumnya 40 juta barrel pada akhir Maret 2026.

Sementara itu, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih nyaris tidak digunakan dan dampak gangguan mulai menyebar ke pasar energi global.

Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol sebelumnya memperingatkan penurunan stok minyak dunia, hilangnya ekspor Timur Tengah, dan kenaikan permintaan musim panas dapat mendorong pasar minyak global memasuki kondisi berbahaya pada Juli atau Agustus.

“Ini mungkin sulit dan kita mungkin akan memasuki zona merah pada bulan Juli-Agustus jika kita tidak melihat beberapa perbaikan,” ujar Birol.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 4,55 Persen, Pasar Sambut Peluang Damai AS-Iran

Menurut dia, kondisi tersebut tidak lagi sekadar ancaman teoritis karena data persediaan minyak menunjukkan tekanan pasokan semakin nyata.

Birol mengatakan stok minyak terus terkikis sementara “tidak ada minyak baru yang datang dari Timur Tengah” pada saat permintaan memasuki musim puncak perjalanan.

Ketiadaan pasokan dari Timur Tengah disebut menjadi masalah terbesar dan paling mendesak bagi pasar energi global saat ini.

Investasi minyak minim selama satu dekade

Di luar gangguan pasokan akibat Hormuz, analis sumber daya alam Leigh Goehring dan Adam Rozencwajg menilai pasar minyak juga menghadapi persoalan struktural berupa lemahnya investasi sektor minyak dan gas selama sekitar satu dekade terakhir.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah dalam Dua Pekan

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Dalam laporan kuartalan terbaru mereka, keduanya menyebut investasi energi mulai melemah sejak booming minyak serpih atau shale oil AS pada 2010-an.

Akibatnya, pertumbuhan produksi minyak global stagnan di banyak wilayah dunia, kecuali di sektor minyak serpih AS yang kini juga mulai melambat.

Dengan penutupan Selat Hormuz, pasar minyak global disebut memasuki kondisi ketat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Pasar belum pernah sebelumnya mencoba berfungsi dalam jangka waktu yang lama dengan volume yang terganggu secara bersamaan dalam jumlah yang begitu besar,” ungkap Goehring dan Rozencwajg.

Baca juga: Uni Eropa Perkirakan Harga Minyak dan Gas Tetap Mahal sampai 2027

Mereka menilai industri minyak memasuki fase pasokan ketat secara struktural setelah bertahun-tahun kekurangan investasi, tepat ketika pasar menghadapi hambatan fisik terbesar dalam sejarah modern.

Menurut keduanya, apabila blokade di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, harga minyak mentah Brent berpotensi bergerak di kisaran 120 dollar AS hingga 150 dollar AS per barrel dalam beberapa tahun mendatang.

Kenaikan tersebut diperkirakan terjadi ketika pelaku pasar mulai menyadari skala persoalan pasokan minyak global yang selama ini dinilai diremehkan.

“Setidaknya 15 juta barrel per hari pasokan tampaknya akan dikurangi secara langsung. Dari segi volume saja, gangguan ini melebihi setiap krisis minyak sebelumnya,” ucap mereka.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Sepekan Turun, Pasar Cermati Peluang Damai AS-Iran

Meski demikian, harga dated minyak mentah Brent pada puncaknya disebut hanya melampaui rekor 2008 sekitar 4 dollar AS per barrel.

Menurut mereka, pasar seolah menganggap gangguan energi terbesar dalam sejarah tersebut hanya sebagai persoalan sementara yang dapat segera diatasi.

Ilustrasi harga minyakSHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE Ilustrasi harga minyak

Ancaman lonjakan harga pada Juli 2026

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Chairman Emeritus FGE NexantECA Fereidun Fesharaki.

Dalam wawancara dengan CNBC, Senin (25/5/2026), Fesharaki mengatakan pasar minyak dan pasar saham saat ini cenderung menanggapi positif setiap sinyal terkait potensi kesepakatan AS-Iran.

Baca juga: Hormuz Diblokade Iran, UEA Kebut Pembangunan Jalur Pipa Minyak Alternatif

“Tidak ada yang mau memikirkan skenario terburuk. Jadi semua orang menganggap setiap berita adalah berita baik,” terang Fesharaki.

Menurut dia, pasar terlalu optimistis terhadap kemungkinan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.

“Mereka benar-benar berpikir ini adalah perubahan. Tidak ada perubahan. Kita tidak lebih dekat dengan kesepakatan perdamaian daripada beberapa minggu yang lalu,” katanya.

Kesepakatan yang tengah dibahas disebut bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri perang, dan membuat Iran menghentikan program pengayaan uranium.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran

Tahap pertama kesepakatan akan berupa perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode tersebut, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akan kembali dibuka dan negosiasi nuklir terus berlangsung.

Namun, Fesharaki mengingatkan pasar seharusnya lebih memperhatikan kekurangan pasokan minyak mentah dan produk energi yang tidak dapat keluar melalui Selat Hormuz.

Menurut dia, pasar fisik minyak pada akhirnya akan mencapai titik kritis akibat kekurangan pasokan tersebut.

“Cepat atau lambat kita akan sampai pada titik pemicunya,” ujar Fesharaki.

Baca juga: Ini 20 Perusahaan Minyak Terbesar di Dunia, Adakah Pertamina?

Ia memperkirakan pasar minyak dapat mencapai titik pemicu lonjakan harga pada Juli mendatang.

Ilustrasi harga minyak dunia.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

“Pada titik tertentu di bulan Juli, pasar minyak akan mencapai titik pemicu di mana harga akan melonjak tajam,” kata dia.

Fesharaki menilai harapan bahwa pasar akan segera pulih atau Trump mampu menegosiasikan kesepakatan dengan cepat merupakan bentuk salah membaca kondisi pasar minyak saat ini.

Pasar dinilai meremehkan krisis pasokan

Goehring dan Rozencwajg menilai meskipun kesepakatan tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, sistem energi global tetap menghadapi ancaman besar akibat skala kekurangan pasokan yang mencapai sekitar 15 juta barrel per hari.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 1,9 Persen Usai Iran Kukuh Pertahankan Pengayaan Uranium

Menurut mereka, mengembalikan produksi dalam jumlah sebesar itu tidak dapat dilakukan secara cepat.

Apalagi, jika kesepakatan tidak segera terwujud, optimisme trader diperkirakan mulai memudar ketika dampak krisis semakin terasa di pasar fisik minyak.

“Minyak bergerak lambat melalui sistem global,” tulis Goehring dan Rozencwajg.

“Begitu pula dengan informasi. Dalam kedua kasus tersebut, kondisi pasar yang sebenarnya sering kali baru terungkap setelah ketidakseimbangan yang mendasarinya menjadi jauh lebih serius daripada yang diperkirakan sebelumnya,” lanjut mereka.

Tag:  #harga #minyak #terancam #tembus #dollar #pasar #dinilai #remehkan #krisis #hormuz

KOMENTAR