Rusia Jual Emas Besar-besaran di Tengah Tekanan Anggaran Perang
- Cadangan emas Rusia terus menyusut di tengah tekanan fiskal akibat tingginya belanja negara dan melemahnya penerimaan energi.
Bank Sentral Rusia tercatat telah mengurangi kepemilikan emasnya selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026, menandai penurunan terdalam dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Dikutip dari Kitco, Selasa (26/5/2026), data Bank Sentral Rusia menunjukkan, per 1 Mei 2026, cadangan emas negara itu turun menjadi 73,9 juta ons troi.
Baca juga: Bisnis Emas Batangan Moncer, Penjualan Hartadinata Abadi (HRTA) Tembus Rp 20 T
Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.
Dalam satu bulan saja, volume emas berkurang sekitar 200.000 ons, sementara secara kumulatif sejak awal tahun 2026 telah menyusut 900.000 ons.
Dalam ukuran metrik, penurunan tersebut setara dengan 27,9 ton emas sepanjang Januari-April 2026. Angka itu menjadi penurunan empat bulanan terbesar sejak 2002.
Penurunan ini membuat cadangan emas Rusia berada di level terendah sejak Maret 2022, atau tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu gelombang sanksi ekonomi Barat terhadap Moskwa.
Rusia mulai menjual emas
Selama lebih dari dua dekade terakhir, Rusia dikenal sebagai salah satu pembeli emas terbesar di dunia. Bank Sentral Rusia secara agresif mengakumulasi emas sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan sistem keuangan Barat.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 26 Mei: UBS-Galeri 24 Turun, Antam Menguat
Namun, pola tersebut kini berubah.
Ilustrasi emas.
Laporan Kitco menyebutkan, dalam 24 tahun terakhir Rusia hampir tidak pernah menjual emas dalam jumlah besar. Bahkan, penurunan bulanan di atas 3,1 ton nyaris tidak pernah terjadi sejak awal 2000-an.
Mengutip New Eurasian Strategies Centre, situasi berubah sejak akhir 2025 ketika pemerintah Rusia mulai menggunakan aset dana kekayaan negara atau National Wealth Fund (NWF) untuk menutup defisit anggaran.
Penjualan emas dilakukan bersamaan dengan pelepasan aset valuta asing, terutama yuan China.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 26 Mei Turun Tipis, Cek Daftar Terbarunya
Kitco melaporkan, Bank Sentral Rusia menjual emas untuk menyesuaikan transaksi paralel yang melibatkan penjualan aset dari National Wealth Fund, yang merupakan bagian dari cadangan devisa dan emas negara tersebut.
Tekanan fiskal menjadi faktor utama di balik aksi jual tersebut. Defisit anggaran federal Rusia mencapai 4,6 triliun rubel atau sekitar 51,1 miliar dollar AS hingga akhir Maret 2026.
Kondisi itu dipicu tingginya belanja militer serta lemahnya pendapatan minyak dan gas pada awal tahun.
Analis Freedom Finance Global, Natalia Milchakova, mengatakan penjualan emas dilakukan untuk membantu menutup defisit anggaran negara.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 1 Persen saat Minyak Turun, Investor Mulai Kembali Cari Safe Haven
“Pertama-tama, ini untuk menutupi defisit anggaran,” ujar Milchakova, dilansir United24 Media.
Menurut dia, tanpa kompensasi sebagian dari bank sentral di tengah rendahnya pendapatan minyak dan gas, defisit Rusia bisa menembus 5 triliun rubel.
Dampak harga minyak dan perang
Tekanan terhadap keuangan Rusia semakin besar karena pendapatan energi melemah. Selama beberapa tahun terakhir, minyak dan gas menjadi tulang punggung penerimaan negara Rusia.
Namun pelemahan harga energi global serta pembatasan ekspor akibat sanksi membuat pemasukan negara tergerus.
Ilustrasi harga minyak mentah.
Baca juga: JPMorgan: Bank Sentral dan Investor Dorong Harga Emas Naik
Di sisi lain, pengeluaran pemerintah terus meningkat untuk membiayai perang dan kebutuhan militer.
Laporan UNN menyebutkan, pada kuartal pertama 2026 Bank Sentral Rusia telah menjual sekitar 21,8 ton emas untuk membantu menutup defisit anggaran yang diperkirakan mendekati 62 miliar dollar AS.
Laporan itu juga menyebutkan, sejak November 2025 Rusia mulai menjual emas kepada pembeli domestik seperti bank, perusahaan negara, dan institusi investasi.
Hasil penjualan kemudian sebagian besar dikonversi menjadi yuan karena akses Rusia ke pasar keuangan internasional masih terbatas akibat sanksi Barat.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS
Ekspor emas Rusia ke China melonjak tajam sepanjang 2025. Rusia dilaporkan mengirimkan 25,3 ton emas ke China, atau sembilan kali lebih tinggi dibandingkan 2024. Nilainya mencapai 3,29 miliar dollar AS.
Dari akumulasi ke pelepasan cadangan
Perubahan strategi Rusia cukup kontras dibanding kebijakan sebelumnya. Selama bertahun-tahun, Moskwa secara konsisten memperbesar cadangan emas untuk memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi tekanan geopolitik.
Data Trading Economics menunjukkan cadangan emas Rusia sempat mencapai rekor tertinggi 2.335,85 ton pada kuartal II-2024. Namun pada kuartal I-2026 jumlah itu turun menjadi sekitar 2.304,75 ton.
World Gold Council sebelumnya juga mencatat, Rusia merupakan salah satu negara dengan pembelian emas terbesar di kalangan bank sentral global. Bahkan pada 2025, ketika pembelian emas bank sentral dunia mulai melambat, Rusia masih tercatat sebagai salah satu negara yang aktif mengelola cadangan emas.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Naik
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.
Namun kini, untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, Rusia justru menjadi penjual emas.
Cadangan devisa makin tertekan
Penyusutan emas juga terjadi bersamaan dengan berkurangnya aset likuid dalam National Wealth Fund Rusia.
Sebelum perang Ukraina, dana tersebut memiliki sekitar 405,7 ton emas. Namun hingga November 2025, sekitar 57 persen atau 232,6 ton telah dilikuidasi untuk menopang anggaran negara.
Per 1 November 2025, kepemilikan emas dana itu tersisa 173,1 ton. Sementara total aset likuid, termasuk yuan, turun dari 113,5 miliar dollar AS sebelum perang menjadi hanya sekitar 51,6 miliar dollar AS.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 25 Mei 2026 Naik Rp 30.000, Cek Rinciannya
Tekanan terhadap cadangan devisa juga dipengaruhi penguatan mata uang rubel. Lembaga riset Nest Centre menjelaskan, apresiasi rubel justru mengurangi penerimaan negara dari ekspor minyak dan gas karena sebagian besar transaksi energi dilakukan dalam valuta asing.
Akibatnya, pemerintah Rusia terpaksa menjual sebagian kepemilikan emas dan yuan dari National Wealth Fund.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah Rusia juga mulai mencari sumber pembiayaan alternatif. Salah satunya melalui rencana penerbitan obligasi pemerintah denominasi yuan atau panda bonds di pasar China.
Posisi emas tetap penting
Meski cadangan emas menyusut, Rusia masih termasuk salah satu negara dengan kepemilikan emas terbesar di dunia. Cadangan emas tetap dipandang strategis karena relatif aman dari pembekuan aset oleh negara Barat dibanding aset dalam bentuk dolar atau euro.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi
Sejak sanksi ekonomi diberlakukan setelah invasi Ukraina pada 2022, Rusia memang semakin mengandalkan emas dan yuan dalam sistem keuangannya.
Emas menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas cadangan devisa ketika akses terhadap pasar keuangan Barat dibatasi.
Namun penjualan emas dalam jumlah besar menandai perubahan signifikan dalam strategi ekonomi Rusia.
Jika sebelumnya emas diposisikan sebagai aset perlindungan jangka panjang, kini emas justru digunakan sebagai sumber likuiditas untuk menopang kebutuhan fiskal negara di tengah tekanan perang dan pelemahan penerimaan energi.
Tag: #rusia #jual #emas #besar #besaran #tengah #tekanan #anggaran #perang