Media Sosial: Mesin Baru Pembuat Stres Finansial
Ilustrasi belanja online produk kecantikan.(DOK. WATSONS INDONESIA )
12:24
26 Mei 2026

Media Sosial: Mesin Baru Pembuat Stres Finansial

DI ERA digital hari ini, rasa “ingin membeli” tidak lagi datang dari kebutuhan, tapi datang dari algoritma.

Kita membuka TikTok hanya lima menit, lalu tiba-tiba merasa butuh sepatu baru, skincare baru, gadget baru, atau kopi kekinian yang sebenarnya tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Ironisnya, ketika uang di rekening tidak cukup, platform digital sudah menyediakan solusi instan, yaitu Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater. Klik. Barang datang. Bayar nanti.

Terlihat sederhana. Bahkan terasa membantu. Namun, di balik kemudahan itu, muncul fenomena baru yang mulai mengkhawatirkan: meningkatnya tekanan finansial masyarakat digital.

Studi terbaru berjudul Digital traps: The compounding impact of BNPL and social media on consumer financial stress yang diterbitkan di jurnal internasional Finance Research Letters (2026) menemukan bahwa kombinasi media sosial dan layanan PayLater dapat menjadi “jebakan digital” yang memperbesar stres keuangan konsumen.

Masalahnya bukan sekadar utang, tetapi bagaimana algoritma media sosial dan kredit digital bekerja bersama membentuk perilaku konsumsi impulsif.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia hari ini. Mulai dari TikTok Shop, Shopee PayLater, SPayLater, Kredivo, Akulaku, hingga berbagai layanan cicilan digital lainnya, semuanya menawarkan pengalaman konsumsi yang nyaris tanpa hambatan. Konsumen tidak lagi diberi waktu berpikir panjang sebelum membeli.

Baca juga: Biaya e-Commerce Bukan Tirani

Di masa lalu, seseorang mungkin harus datang ke toko, menghitung uang tunai, lalu mempertimbangkan ulang sebelum berbelanja. Hari ini, cukup satu jempol dan satu notifikasi diskon.

Yang menarik, penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial dan PayLater bukan hanya memiliki pengaruh masing-masing terhadap tekanan finansial, tetapi ketika keduanya digabungkan, dampaknya menjadi jauh lebih besar.

Mengapa? Karena media sosial bekerja menciptakan keinginan, sementara PayLater menyediakan akses instan untuk memenuhi keinginan tersebut.

TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Algoritma terus mempelajari preferensi kita. Apa yang kita lihat, apa yang kita sukai, bahkan apa yang kita tahan beberapa detik lebih lama di layar.

Akibatnya, pengguna terus-menerus dibombardir dengan gaya hidup ideal, tren konsumsi, dan tekanan sosial untuk “ikut membeli.”

Di sinilah muncul fenomena social comparison. Kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain di media sosial.

Ketika melihat orang lain memakai barang tertentu, liburan tertentu, atau menikmati gaya hidup tertentu, muncul dorongan psikologis untuk merasa “harus ikut.”

Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Namun, platform digital telah menyediakan jalan pintas yang bernama PayLater.

Dalam ilmu perilaku konsumen, kondisi ini berkaitan dengan teori mental accounting dari Richard Thaler. Ketika pembayaran dipecah menjadi cicilan kecil, otak manusia cenderung merasa harga menjadi lebih ringan daripada kenyataannya.

Rp 2 juta terasa berat. Namun, “cukup Rp 166.000 per bulan” terasa ringan. Padahal, secara total nilainya sama.

PayLater mengurangi “rasa sakit membayar” (pain of paying). Akibatnya, konsumen menjadi lebih mudah membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pengguna BNPL cenderung mengalami peningkatan utang kartu kredit, rasa tidak aman finansial, dan ketergantungan pada layanan keuangan alternatif.

Baca juga: Biaya Membesar, Untung Menipis: Masih Layak UMKM Jualan di Marketplace?

Lebih menarik lagi, efek paling berbahaya muncul pada kelompok yang aktif menggunakan media sosial sekaligus PayLater.

Artinya, semakin tinggi paparan seseorang terhadap media sosial dan kemudahan kredit digital, semakin besar potensi tekanan finansial yang dialami.

Ironisnya, banyak pengguna tidak langsung merasa dirinya sedang bermasalah secara finansial.

Mengapa? Karena media sosial menciptakan ilusi normalisasi. Ketika semua orang terlihat berbelanja, semua orang terlihat hidup mewah, dan semua orang menggunakan PayLater, perilaku konsumtif menjadi terasa wajar.

Di sinilah jebakan digital bekerja secara halus. Konsumen merasa baik-baik saja hari ini, tetapi sebenarnya sedang menumpuk tekanan finansial untuk masa depan.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa banyak anak muda hari ini terlihat “sejahtera” di media sosial, tetapi sebenarnya memiliki kondisi finansial yang rapuh.

Gaji habis sebelum akhir bulan. Cicilan menumpuk. Tagihan terus datang. Namun, gaya hidup harus tetap terlihat “baik-baik saja.”

Bagi perusahaan fintech, kondisi ini tentu menguntungkan karena konsumsi meningkat. Namun, dari perspektif sosial, fenomena ini berpotensi menciptakan generasi yang rentan terhadap stres finansial kronis.

Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk fenomena ini. Pengguna TikTok Indonesia termasuk terbesar di dunia.

Di sisi lain, layanan PayLater berkembang sangat agresif, terutama pada kelompok usia muda dan pekerja urban. Artinya, risiko “digital financial stress” juga semakin besar.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa dilihat semata-mata sebagai masalah individu yang tidak bisa mengatur uang. Ada faktor desain digital yang ikut membentuk perilaku konsumsi masyarakat.

Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian. Platform e-commerce dirancang untuk mempermudah transaksi.

PayLater dirancang untuk menghilangkan hambatan pembelian. Ketika ketiganya bertemu, lahirlah ekosistem konsumsi impulsif modern.

Baca juga: Gaji Naik, Dompet Tetap Tipis

Lalu apa solusinya?

Pertama, literasi finansial digital harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu memahami bahwa “mampu mencicil” bukan berarti “mampu membeli.”

Kedua, platform digital perlu didorong lebih bertanggung jawab. Misalnya, melalui transparansi algoritma, pengingat pengeluaran, atau fitur spending alert yang membantu pengguna lebih sadar terhadap perilaku konsumtifnya.

Ketiga, regulator perlu mulai melihat PayLater bukan hanya sebagai inovasi pembayaran, tetapi juga sebagai instrumen yang memiliki risiko psikologis dan sosial.

Pada akhirnya, masalah terbesar di era digital bukan hanya rendahnya pendapatan masyarakat, tetapi bagaimana teknologi mampu memengaruhi keputusan finansial manusia setiap hari.

TikTok tidak salah. PayLater juga tidak sepenuhnya salah. Namun, ketika algoritma konsumsi bertemu dengan kredit instan tanpa kontrol diri yang kuat, hasilnya bisa menjadi mesin baru pembuat financial stress.

Akhirnya, sering kali jebakan itu dimulai dari satu hal sederhana, yaitu “Checkout sekarang, bayar nanti”.

Tag:  #media #sosial #mesin #baru #pembuat #stres #finansial

KOMENTAR