Rupiah Terus Melemah, LPEM UI: Instrumen Moneter Tak Lagi Cukup
Ilustrasi rupiah. (Shutterstock/Pramata)
17:28
22 Mei 2026

Rupiah Terus Melemah, LPEM UI: Instrumen Moneter Tak Lagi Cukup

- Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai semakin sulit dikendalikan hanya melalui instrumen moneter.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai tekanan terhadap rupiah kini lebih banyak dipengaruhi faktor fiskal dan struktural dibanding sekadar gejolak eksternal.

Pandangan itu muncul di tengah langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan di pasar keuangan domestik.

Baca juga: Rupiah Kembali Sentuh 17.717 per Dollar AS, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Ilustrasi rupiah. SHUTTERSTOCK/RODWORKS Ilustrasi rupiah.

Namun, LPEM FEB UI menilai kebijakan moneter saja tidak cukup untuk membendung tekanan terhadap rupiah yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

“Menyusul serangkaian arus modal keluar dalam beberapa minggu terakhir, rupiah melanjutkan tren pelemahannya,” tulis LPEM FEB UI dalam laporannya, dikutip pada Jumat (22/5/2026).

Secara year-to-date (ytd) atau tahun berjalan, performa rupiah disebut tertinggal dibandingkan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya.

LPEM FEB UI mencatat, sepanjang tahun berjalan rupiah telah melemah 5,50 persen. Kinerja tersebut hanya lebih baik dibandingkan Lira Turkiye dan Rupee India.

Baca juga: Purbaya Akan Dorong Rupiah ke Rp 15.000 Per Dollar AS: Pemain Valas, Cepat-cepat Jual Lah...

Dalam satu bulan terakhir, rupiah tercatat terdepresiasi 2,69 persen secara month-to-month (mtm), sementara dalam satu tahun terakhir pelemahannya mencapai 7 persen secara year-on-year (yoy).

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Pelemahan rupiah dinilai tak hanya dipicu faktor eksternal

Meski tekanan global tetap menjadi faktor penting, LPEM FEB UI menilai pelemahan rupiah kali ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi domestik.

“Walaupun tidak bisa dipungkiri ada pengaruh faktor eksternal dalam pelemahan Rupiah, seperti yang dirasakan oleh nilai tukar mata uang berbagai negara berkembang, faktor domestik juga berpengaruh signifikan terhadap melemahnya nilai tukar Rupiah,” ungkap lembaga tersebut.

LPEM FEB UI mencatat, pada Agustus 2025 rupiah masih berada di kisaran Rp 16.100 per dollar AS. Namun sejak saat itu, nilai tukar rupiah terus melemah secara konsisten.

Baca juga: Waspada Tiga Skenario Saat Rupiah Kian Melemah

Pada hari ini, rupiah ditutup melemah di level Rp 17.717 per dollar AS.

Menurut LPEM FEB UI, ada sejumlah faktor domestik yang memicu tekanan berkepanjangan terhadap rupiah.

Faktor tersebut antara lain kekhawatiran investor terhadap keseimbangan fiskal akibat rendahnya rasio perpajakan, program populis yang dinilai mahal secara fiskal, hingga risiko contingent liability dari Danantara.

Selain itu, tingginya ketidakpastian kebijakan juga disebut menjadi perhatian pasar.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.677, Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan

“Lebih lanjut, tingginya ketidakpastian kebijakan, adanya indikasi dominasi negara di berbagai sektor ekonomi, dan tergerusnya independensi bank sentral memicu kekhawatiran akan kondisi makroekonomi Indonesia, seperti yang disampaikan oleh berbagai lembaga pemeringkat global,” ujar LPEM FEB UI.

BI aktif intervensi pasar dan naikkan BI Rate jadi 5,25 persen

Di tengah tekanan tersebut, BI telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen, bank sentral juga aktif menggunakan berbagai instrumen moneter.

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

Instrumen yang digunakan antara lain Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF).

LPEM FEB UI mencatat, sepanjang 2026 BI telah meningkatkan outstanding SRBI sekitar Rp 214 triliun untuk menyerap valuta asing dari pasar.

Baca juga: Rupiah Makin Tertekan, Sentuh Rp 17.706 per Dollar AS Pagi Ini (22/5)

Selain itu, rerata tertimbang tingkat kupon SRBI juga meningkat signifikan. Hingga 13 Mei 2026, tingkat kupon SRBI tercatat sebesar 6,4 persen, naik 51 basis poin sejak April dan meningkat 150 basis poin sejak awal tahun.

Kenaikan kupon tersebut dilakukan untuk menarik aliran dana asing kembali masuk ke pasar domestik dan menopang stabilitas nilai tukar rupiah.

Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen juga mencerminkan upaya BI menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah meningkatnya arus modal keluar dan tekanan terhadap rupiah.

Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi umumnya ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menahan keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.

Baca juga: Efek BUMN Ekspor, Rupiah Diprediksi Bergerak Melemah Hari Ini (22/5)

LPEM UI: instrumen moneter saja tidak cukup

Meski BI telah melakukan berbagai intervensi, LPEM FEB UI menilai efektivitas langkah tersebut semakin terbatas karena sumber tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari sisi moneter.

“Menimbang berbagai kebijakan intervensi tersebut, pelemahan Rupiah saat ini nampaknya sulit dikendalikan hanya dengan mengandalkan instrumen moneter,” tulis LPEM FEB UI.

LPEM FEB UI menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu persoalan fiskal dan struktural yang memengaruhi persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Walaupun stabilisasi nilai tukar rupiah merupakan mandat Bank Indonesia, tekanan nilai tukar saat ini lebih didorong oleh faktor fiskal dan struktural,” lanjut laporan tersebut.

Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat: Harga Pangan hingga Risiko PHK

Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.

Menurut lembaga itu, selama kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, arah kebijakan ekonomi, dan independensi institusi masih berlanjut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tetap tinggi meski intervensi moneter terus dilakukan.

Cadangan devisa merosot

Kondisi tersebut juga terlihat dari pergerakan cadangan devisa Indonesia. Pada April 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar 146,2 miliar dollar AS atau turun 1,95 miliar dollar AS dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan itu mencerminkan besarnya intervensi yang dilakukan BI di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

LPEM FEB UI mencatat, secara kumulatif BI telah menggunakan lebih dari 10 miliar dollar AS cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Baca juga: Rupiah hingga Rupee Tertekan, Asia Hadapi Dilema Ekonomi Baru

Namun demikian, langkah tersebut dinilai belum mampu menghentikan pelemahan rupiah yang masih terus berlangsung.

“Namun, intervensi ini nampaknya tidak efektif seiring Rupiah yang terus melemah,” tulis LPEM FEB UI.

Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih dinilai berada pada level aman. Per April 2026, cadangan devisa setara dengan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran bunga utang luar negeri.

Angka itu masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di level tiga bulan impor.

Tag:  #rupiah #terus #melemah #lpem #instrumen #moneter #lagi #cukup

KOMENTAR