Profil 'Super-Trader' Danantara Sumberdaya Indonesia, Sang Penyelamat Rp15.400 Triliun
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). [Suara.com/Achmad Fauzi].
09:06
22 Mei 2026

Profil 'Super-Trader' Danantara Sumberdaya Indonesia, Sang Penyelamat Rp15.400 Triliun

Lahirnya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada 20 Mei 2026 langsung menjadi sorotan utama di bursa maupun ring satu pemerintahan.

Bukan sekadar anak perusahaan biasa, DSI dibentuk sebagai "kepanjangan tangan" super-power dari pemerintah untuk mengambil alih kendali ekspor komoditas paling strategis di Indonesia.

Berikut adalah deretan fakta menarik di balik profil sang trader tunggal baru ini:

1. Mengguncang Bursa Saham Sebelum Resmi Diumumkan

Kekuatan DSI sudah terasa bahkan sebelum entitas ini resmi diluncurkan. Hanya dari rumor pembentukannya saja yang beredar di kalangan pelaku pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok 3,46% ke level 6.370,68 pada Selasa (19/5/2026).

Investor melakukan aksi jual massal karena menyadari besarnya intervensi yang akan dilakukan badan ini terhadap pasar komoditas.

2. Misi Utama: Menyumbat Kebocoran "Gila"

Selama 34 Tahun DSI lahir bukan tanpa alasan. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa badan ini adalah senjata utama pemerintah untuk menghentikan praktik nakal eksportir (seperti under-invoicing dan manipulasi harga) yang sudah berlangsung selama 34 tahun.

Berdasarkan data PBB, praktik culas ini telah membuat Indonesia kehilangan potensi penerimaan negara hingga USD908 miliar, atau setara dengan Rp15.400 triliun!

3. Dinakhodai oleh Para Veteran Korporasi Raksasa

Untuk menjalankan misi raksasa, DSI tidak dipimpin oleh nama sembarangan. Dokumen Kemenkumham mencatat posisi Direktur DSI diduduki oleh Luke Thomas Mahony, seorang profesional kawakan yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur di perusahaan tambang nikel raksasa, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).

Di kursi Komisaris, ada Harold Jonathan Dharma TJ, mantan Direktur PT Mandiri Sekuritas.

4. Status Kepemilikan Unik: Swasta Rasa BUMN

Secara administratif (berdasarkan dokumen AHU Kemenkumham per 19 Mei 2026), DSI terdaftar sebagai perseroan swasta nasional. Sahamnya dikuasai oleh PT Danantara Investment Management (99 lembar) dan PT Danantara Mitra Sinergi (1 lembar). Namun, manajemen Danantara menegaskan DSI berstatus resmi sebagai BUMN karena ada 1% saham krusial yang dimiliki langsung oleh BP BUMN.

5. Evolusi Cepat: Dari "Pengawas" Menjadi "Penguasa Mutlak"

DSI tidak akan langsung memonopoli pasar dalam semalam. Ada dua fase operasi yang akan mereka jalankan:

  • Fase 1 (Mulai 1 Juni 2026): Bertindak sebagai "wasit" atau perantara dan pengawas transaksi ekspor untuk memastikan harga jual sesuai harga pasar.
  • Fase 2 (Target 2027): Berevolusi menjadi trader tunggal. DSI akan membeli langsung komoditas dari pengusaha dalam negeri, menanggung semua risiko jual-beli, dan menjualnya sendiri ke pasar internasional.

6. Sang Penguasa Tiga Komoditas Utama (Kecuali Migas)

Pada tahap awal, "taring" DSI hanya akan difokuskan pada tiga komoditas ekspor primadona penyumbang devisa terbesar: Batu Bara, Minyak Kelapa Sawit (CPO), dan Paduan Besi (Ferro Alloys).

Meski ke depan seluruh SDA strategis akan dikelola satu pintu lewat DSI, sektor hulu Minyak dan Gas Bumi (Migas) mendapat pengecualian khusus dari Presiden dan tetap diizinkan mengekspor secara langsung.

Editor: Nur Khotimah

Tag:  #profil #super #trader #danantara #sumberdaya #indonesia #sang #penyelamat #rp15400 #triliun

KOMENTAR