Biaya Pupuk dan BBM Naik, Peremajaan Sawit Malaysia Melambat
Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar mulai menghambat upaya peremajaan kebun kelapa sawit di Malaysia.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak sawit global dalam beberapa tahun ke depan, di tengah tingginya kebutuhan dunia terhadap minyak nabati.
Dikutip dari The Edge Malaysia, Kamis (21/5/2026), produsen kelapa sawit di Malaysia kini menghadapi lonjakan biaya operasional yang signifikan.
Baca juga: Prabowo Dorong BBM Sawit dan PLTS, IESR Soroti Biaya
Ilustrasi pupuk NPK.
Harga pupuk disebut naik hingga 60 persen, sementara harga diesel meningkat lebih dari dua kali lipat sejak pecahnya perang Iran.
Di sisi lain, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) justru naik sekitar 10 persen sejak akhir Februari 2026.
Kenaikan harga minyak sawit itu mendorong banyak petani memilih mempertahankan produksi dibanding melakukan penanaman ulang atau replanting.
Padahal, peremajaan kebun menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan pasokan minyak sawit dunia.
Baca juga: Ekspor Sawit Lewat BUMN Dikritik, Petani Khawatir Monopoli Baru
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.
Industri sawit negara tersebut memegang peranan penting dalam perdagangan minyak nabati global karena minyak sawit digunakan secara luas, mulai dari minyak goreng hingga berbagai produk rumah tangga.
Namun, sektor ini kini menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya produksi dan ketidakpastian pasokan energi global.
Petani menunda peremajaan kebun
Ilustrasi kelapa sawit, tandan buah segar kelapa sawit.
Sejumlah petani sawit di Malaysia mengaku memilih menunda replanting karena biaya yang dinilai terlalu tinggi.
Baca juga: Ekspor Batu Bara hingga Sawit Lewat BUMN Dimulai 1 Juni 2026
Peremajaan kebun sawit membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak singkat.
Tidak seperti tanaman pangan seperti padi atau gandum yang dapat dipanen dalam hitungan bulan, pohon kelapa sawit membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk mulai menghasilkan buah setelah ditanam kembali.
Di sisi lain, harga sawit yang tinggi membuat petani cenderung mempertahankan pohon tua agar tetap menghasilkan.
Kondisi ini membuat banyak pelaku industri memilih menunda pergantian tanaman meski produktivitas kebun sebenarnya sudah mulai menurun.
Baca juga: Lahan Sawit Tak Mungkin Bertambah, Peremajaan Jadi Kunci
Pohon kelapa sawit umumnya mencapai produksi puncak pada usia sekitar 20 tahun. Setelah melewati usia 25 tahun, hasil panen biasanya mulai mengalami penurunan.
Ancaman terhadap pasokan minyak sawit
Pelambatan peremajaan kebun menjadi perhatian karena kebun sawit tua selama ini dianggap sebagai salah satu tantangan utama industri sawit di Malaysia dan Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya replanting di kedua negara sempat berjalan lambat. Industri baru mulai meningkatkan penanaman ulang pada 2025 setelah sebelumnya tertunda cukup lama.
Kondisi di Malaysia dinilai lebih kompleks karena negara tersebut menghadapi tekanan biaya pupuk yang lebih tinggi dibanding Indonesia.
Baca juga: Drop Tank Masuk Bengkulu, Bongkar Muat Sawit Jadi Lebih Cepat
Reuters melaporkan, Indonesia memiliki pasokan pupuk domestik yang lebih memadai, sehingga tekanan terhadap petani relatif lebih kecil.
Padahal, replanting dinilai penting untuk menjaga produktivitas di tengah stagnasi produksi minyak sawit global.
Ilustrasi minyak kelapa sawit.
Pasokan juga berpotensi semakin ketat karena Indonesia meningkatkan penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel.
Kenaikan harga minyak sawit saat ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap pasokan energi global setelah ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu rute penting distribusi energi dunia.
Baca juga: Skema Dana Bagi Hasil Sawit Purbaya Diprotes, Daerah Cuma Dapat 4 Persen
Ketika pasokan energi terganggu, harga minyak nabati termasuk minyak sawit ikut terdorong naik.
Petani kecil paling terdampak
Tekanan akibat kenaikan biaya produksi terutama dirasakan petani kecil.
Pelaku industri menyebut kelompok ini mulai mengurangi kegiatan replanting karena keterbatasan dukungan pendanaan.
Petani kecil menyumbang sekitar 40 persen produksi minyak sawit Malaysia. Artinya, perlambatan peremajaan kebun di kelompok ini dapat memengaruhi kapasitas produksi nasional dalam jangka panjang.
Baca juga: TAP Untuk Negeri Dorong Produktivitas Petani Sawit demi B50
Di negara bagian Sarawak, banyak petani kecil mengelola lahan berdasarkan Native Customary Rights atau hak adat.
Skema tersebut tidak memberikan kepemilikan formal atas lahan sehingga menyulitkan akses pembiayaan.
Presiden Sarawak Dayak Oil Palm Planters Association Napoleon R Ningkos mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian petani kesulitan melakukan penanaman ulang.
"Jika mereka tidak melakukan replanting, hasil panen pasti akan terus turun dan ini akan memengaruhi volume produksi beberapa tahun ke depan," kata Ningkos.
Baca juga: Indonesia Tambah Sumber Genetik Sawit dari Tanzania, Ini Tujuannya
Menurut dia, tanpa dukungan yang memadai, petani kecil akan semakin berat melakukan investasi jangka panjang untuk memperbarui kebun mereka.
Ilustrasi pupuk urea dari ammonium
Biaya pupuk sendiri menjadi komponen utama dalam operasional kebun sawit. Industri menyebut sekitar separuh biaya operasional lapangan berasal dari penggunaan pupuk.
Dengan lonjakan harga pupuk hingga 60 persen, banyak petani memilih menekan pengeluaran dan mempertahankan pohon yang ada dibanding menanam ulang.
Perusahaan besar relatif aman
Di tengah tekanan terhadap petani kecil, perusahaan perkebunan besar disebut masih mampu mengelola kenaikan biaya.
Baca juga: B50 Picu Lonjakan Permintaan CPO, Pemerintah Kejar Produktivitas Sawit
Sejumlah perusahaan besar telah mengamankan harga dan volume pupuk lebih awal sehingga dampak kenaikan biaya belum terlalu terasa dalam jangka pendek.
Johor Plantations Group Bhd, salah satu produsen besar di Malaysia, menyatakan perusahaan relatif terlindungi dari tekanan kenaikan harga pupuk karena telah mengunci harga dan volume kebutuhan pupuk untuk 2026.
Meski demikian, pelaku industri menilai target menjaga tingkat replanting nasional tetap menjadi tantangan.
Chief Executive Officer Malaysian Palm Oil Association Roslin Azmy Hassan mengatakan mempertahankan tingkat replanting sebesar 3 persen hingga 4 persen pada tahun ini kemungkinan tidak mudah dilakukan.
Baca juga: Wacana Penutupan Pabrik Kelapa Sawit Tanpa Kebun Dinilai Ancam Petani Swadaya
"Menjaga tingkat replanting yang sehat sebesar 3 persen sampai 4 persen di Malaysia tahun ini mungkin akan menjadi tantangan karena ketidakpastian saat ini," ujar Roslin.
Pada 2025, tingkat replanting sawit Malaysia tercatat mencapai 3,4 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding rata-rata sekitar 2 persen per tahun dalam lima tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong percepatan replanting oleh perusahaan perkebunan besar dan dukungan pemerintah terhadap petani kecil.
Namun, kenaikan biaya produksi dan tingginya harga minyak sawit membuat momentum peremajaan kebun kembali menghadapi hambatan.
Baca juga: Kebijakan Limbah Sawit Perlu Dikaji Ulang, Berisiko Picu Biaya dan Ekologi
Ilustrasi minyak kelapa sawit
Harga tinggi mengubah keputusan petani
Tingginya harga minyak sawit saat ini memberikan insentif jangka pendek bagi petani untuk terus memanen pohon tua.
Ketika harga CPO meningkat, petani memperoleh pendapatan lebih besar dari hasil panen yang ada.
Situasi itu membuat keputusan melakukan replanting menjadi semakin sulit karena petani harus menghentikan produksi selama beberapa tahun sebelum pohon baru menghasilkan.
Bagi petani kecil dengan keterbatasan modal, kehilangan pendapatan selama masa tunggu tersebut menjadi risiko besar.
Baca juga: Rencana Pajak Air Permukaan Picu Kekhawatiran, Bisa Ganggu Investasi dan Daya Saing Sawit
Karena itu, banyak petani memilih mempertahankan kebun yang sudah tua meski produktivitasnya terus menurun.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan jangka panjang bagi industri sawit Malaysia.
Jika peremajaan kebun terus tertunda, produktivitas nasional dapat turun secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.
Di saat yang sama, permintaan minyak sawit global masih tinggi karena komoditas tersebut menjadi bahan baku utama berbagai industri makanan dan produk rumah tangga.
Baca juga: Februari 2026: Produksi Sawit RI 5,5 Juta Ton, Ekspor 3,29 Juta Ton
Tekanan terhadap pasokan juga diperkirakan meningkat seiring bertambahnya kebutuhan biodiesel di Indonesia.
Pelaku industri kini berharap stabilitas harga energi dan pupuk dapat kembali membaik agar program replanting tidak semakin tertunda.
Bagi Malaysia, menjaga keberlanjutan produksi sawit menjadi penting untuk mempertahankan posisi negara tersebut dalam pasar minyak nabati global.
Tag: #biaya #pupuk #naik #peremajaan #sawit #malaysia #melambat