Penjualan Mobil Listrik Global Melaju, Hampir 30 Persen Pasar Dunia pada 2026
Ilustrasi mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah.(Shutterstock)
09:20
21 Mei 2026

Penjualan Mobil Listrik Global Melaju, Hampir 30 Persen Pasar Dunia pada 2026

Penjualan mobil listrik global terus menunjukkan tren pertumbuhan di tengah perubahan industri otomotif dunia.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan hampir 30 persen mobil yang terjual di dunia pada 2026 akan berupa kendaraan listrik.

Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan Global EV Outlook 2026. Lembaga energi internasional itu menyebut pertumbuhan kendaraan listrik didorong kombinasi kebijakan pemerintah, harga baterai yang makin murah, hingga konsumen yang mencari alternatif di tengah tekanan harga energi.

Baca juga: Proyeksi Harga Minyak Dunia Tetap Tinggi, Purbaya Genjot Mobil Listrik

Ilustrasi Mobil Listrik. Insentif mobil listrik impor hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026, produsen diwajibkan merakit kendaraan di dalam negeri sesuai aturan TKDN.Kindel Media Ilustrasi Mobil Listrik. Insentif mobil listrik impor hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026, produsen diwajibkan merakit kendaraan di dalam negeri sesuai aturan TKDN.

IEA mencatat penjualan mobil listrik global telah melampaui 17 juta unit pada 2024. Jumlah itu setara lebih dari 20 persen total penjualan mobil dunia.

Tambahan 3,5 juta unit mobil listrik yang terjual sepanjang 2024 bahkan disebut lebih besar dibanding total penjualan mobil listrik global pada 2020.

China masih menjadi motor utama pertumbuhan kendaraan listrik dunia. Negara tersebut mencatat lebih dari 11 juta unit mobil listrik terjual sepanjang 2024.

 “China mempertahankan keunggulannya,” tulis IEA dalam laporan tersebut, dikutip pada Kamis (21/5/2026).

Baca juga: DKI Jakarta Masih Bebaskan Pajak Motor dan Mobil Listrik

Di China, mobil listrik kini menyumbang hampir separuh total penjualan mobil baru. Dampaknya, satu dari 10 mobil yang beroperasi di jalan raya China saat ini sudah merupakan kendaraan listrik.

Sementara itu, pasar Eropa mengalami perlambatan penjualan pada 2024 setelah sejumlah subsidi dan kebijakan dukungan mulai dikurangi. Meski demikian, pangsa pasar mobil listrik di kawasan tersebut tetap berada di sekitar 20 persen.

Ilustrasi Mobil Listrik Pexels/Mike Ilustrasi Mobil Listrik

Di Amerika Serikat, penjualan mobil listrik tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan pada 2024. Porsi penjualan mobil listrik di negara tersebut kini mencapai lebih dari satu dari 10 mobil baru.

Asia Tenggara dan Amerika Latin jadi pusat pertumbuhan baru

IEA menilai negara berkembang mulai menjadi pusat pertumbuhan baru kendaraan listrik global. Penjualan mobil listrik di Asia dan Amerika Latin melonjak lebih dari 60 persen pada 2024 menjadi hampir 600.000 unit.

Baca juga: Menkeu Tegaskan Pajak Mobil Listrik Tak Naik, Hanya Ubah Skema

Angka tersebut disebut setara ukuran pasar mobil listrik Eropa lima tahun lalu.

Di Asia Tenggara, penjualan mobil listrik tumbuh hampir 50 persen dan kini mewakili sekitar 9 persen total penjualan mobil di kawasan.

Thailand dan Vietnam menjadi dua negara dengan tingkat penetrasi kendaraan listrik paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Sementara di Brasil, penjualan mobil listrik meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 125.000 unit sepanjang 2024. Pangsa pasar kendaraan listrik di negara tersebut telah melampaui 6 persen.

Baca juga: Minyak Mahal, Ekspor Mobil Listrik dan Hybrid China Naik 140 Persen

IEA menyebut dukungan kebijakan pemerintah dan masuknya mobil listrik impor dengan harga lebih terjangkau dari China menjadi faktor penting pertumbuhan pasar kendaraan listrik di negara berkembang.

Di Brasil dan Thailand, misalnya, mobil listrik asal China menyumbang sekitar 85 persen penjualan kendaraan listrik.

Secara keseluruhan, kendaraan impor asal China menyumbang 75 persen pertumbuhan penjualan mobil listrik di negara berkembang di luar China sepanjang 2024.

“Pasar ekspor kendaraan listrik China semakin beragam,” ungkap IEA.

Baca juga: Kolaborasi BYD dan KFC di China: Cas Mobil Listrik Sekaligus Makan, Cuma 9 Menit

Ilustrasi kendaraan listrikSHUTTERSTOCK/JEERASAK BANDITRAM Ilustrasi kendaraan listrik

Pabrikan kendaraan listrik asal China kini memperluas pasar ekspor ke Brasil, Meksiko, hingga Asia Tenggara.

Penjualan mobil listrik global 2025 diproyeksi tembus 20 juta unit

IEA memperkirakan penjualan mobil listrik global pada 2025 akan melampaui 20 juta unit. Jumlah tersebut diproyeksi mewakili lebih dari seperempat total penjualan mobil dunia.

Pada kuartal I 2025, penjualan mobil listrik global sudah tumbuh 35 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

China diperkirakan tetap menjadi pasar terbesar kendaraan listrik. Berlanjutnya insentif penggantian kendaraan lama dan penurunan harga mobil listrik diproyeksi membuat kendaraan listrik mencapai sekitar 60 persen total penjualan mobil di China sepanjang 2025.

Baca juga: Mengupas Dominasi Mobil Listrik China di Indonesia

Di Eropa, standar emisi Uni Eropa dan Inggris diperkirakan mendorong peningkatan penjualan kendaraan tanpa emisi.

IEA memproyeksi pangsa penjualan mobil listrik di Eropa akan mencapai 25 persen pada 2025.

Sementara di Amerika Serikat, arah kebijakan pemerintah membuat prospek pasar kendaraan listrik dinilai lebih tidak pasti.

Meski demikian, IEA masih memperkirakan penjualan mobil listrik di negara tersebut tumbuh sekitar 10 persen pada 2025.

Di luar China, pasar negara berkembang diperkirakan tetap tumbuh kuat. Penjualan mobil listrik di kelompok negara tersebut diproyeksi naik 50 persen hingga mencapai 1 juta unit pada 2025.

Baca juga: Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat

Dalam proyeksi jangka panjangnya, IEA memperkirakan pangsa kendaraan listrik global akan melampaui 40 persen total penjualan mobil dunia pada 2030.

Ilustrasi mobil listrik. PIXABAY/ANDREAS160578 Ilustrasi mobil listrik.

China diproyeksi tetap mendominasi dengan pangsa pasar kendaraan listrik sekitar 80 persen pada akhir dekade.

Sementara Eropa diperkirakan mencapai pangsa kendaraan listrik mendekati 60 persen pada 2030.

Untuk Asia Tenggara, IEA memperkirakan satu dari empat mobil yang terjual pada 2030 akan berupa kendaraan listrik.

Harga baterai turun dan mobil listrik kian terjangkau

IEA menilai kompetisi industri dan penurunan harga baterai mulai meningkatkan keterjangkauan kendaraan listrik di sejumlah negara.

Baca juga: Harga Bensin Naik, Penjualan Mobil Listrik Bekas Terdongkrak

Secara global, harga mobil listrik berbasis baterai turun sepanjang 2024. Meski begitu, selisih harga dengan mobil konvensional masih terjadi di sejumlah negara.

Di Jerman, harga rata-rata mobil listrik masih sekitar 20 persen lebih mahal dibanding kendaraan konvensional.

Sementara di Amerika Serikat, mobil listrik masih sekitar 30 persen lebih mahal dibanding mobil berbahan bakar minyak.

Sebaliknya, dua pertiga mobil listrik yang terjual di China pada 2024 disebut memiliki harga lebih murah dibanding kendaraan konvensional.

Baca juga: Harga Bensin Naik, Penjualan Mobil Listrik Bekas Terdongkrak

Kondisi itu membuat penjualan mobil listrik di China tetap meningkat meski insentif pemerintah mulai berkurang.

Di Thailand, harga rata-rata mobil listrik kini sudah mencapai titik setara dengan mobil konvensional.

Sementara di Brasil, selisih harga mobil listrik dan mobil konvensional turun menjadi sekitar 25 persen pada 2024, dari sebelumnya lebih dari 100 persen pada 2023.

Ilustrasi mobil listrik. PIXABAY/MENNO DE JONG Ilustrasi mobil listrik.

Penurunan harga juga terjadi di Meksiko. Selisih harga mobil listrik dan kendaraan konvensional turun menjadi sekitar 50 persen pada 2024 dari lebih dari 100 persen pada 2023.

Baca juga: Purbaya Masih Dilema Lanjutkan Insentif Mobil Listrik, Kenapa?

IEA menyebut harga mineral kritis yang lebih rendah dan persaingan antarprodusen baterai menjadi faktor utama penurunan harga baterai global.

Harga paket baterai di China turun sekitar 30 persen pada 2024. Sementara di Eropa dan Amerika Serikat penurunannya berada di kisaran 10 persen hingga 15 persen.

Infrastruktur pengisian daya jadi faktor penting

Pertumbuhan kendaraan listrik juga diikuti pembangunan infrastruktur pengisian daya.

IEA mencatat jumlah stasiun pengisian daya publik global telah meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir.

Baca juga: Cukup 20 Menit, Sinergi PLN, MEBI, dan Huawei Percepat Pengisian Mobil Listrik

China dan Uni Eropa disebut berhasil menjaga laju pembangunan pengisian daya publik seiring pertumbuhan kendaraan listrik.

Sebaliknya, di Amerika Serikat dan Inggris, pembangunan pengisi daya umum dinilai belum mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan listrik.

Jumlah pengisi daya ultra cepat dengan kapasitas 150 kilowatt atau lebih juga meningkat sekitar 50 persen sepanjang 2024.

Saat ini, pengisi daya ultra cepat menyumbang hampir 10 persen total pengisi daya cepat publik di dunia.

Baca juga: Harga Bersaing, Minat Pembiayaan Mobil Listrik Kian Tinggi

Di Eropa, lebih dari tiga perempat jalan tol kini telah memiliki stasiun pengisian cepat setidaknya setiap 50 kilometer.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding Amerika Serikat yang masih berada di bawah separuh jaringan jalan tol.

Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik. SHUTTERSTOCK/HALFPOINT Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik.

Menurut IEA, kapasitas pengisian daya publik global perlu meningkat hampir sembilan kali lipat hingga 2030 untuk mendukung pertumbuhan kendaraan listrik sesuai target kebijakan saat ini.

Meski demikian, kendaraan listrik diperkirakan hanya menyumbang sekitar 2,5 persen total permintaan listrik global pada 2030.

Baca juga: Produksi Mobil Listrik di Indonesia, Hyundai Tanam Investasi 3 Miliar Dollar AS

IEA juga menilai pengembangan teknologi pengisian cepat mulai mendekati pengalaman pengisian bahan bakar kendaraan konvensional.

“Inovasi teknologi baterai dalam beberapa tahun terakhir juga memungkinkan pengisian daya tinggi yang aman dan secepat pengisian bahan bakar mobil konvensional,” jelas IEA.

Truk listrik mulai berkembang

Selain mobil penumpang, kendaraan listrik untuk sektor logistik juga mulai berkembang. IEA mencatat penjualan truk listrik global tumbuh hampir 80 persen pada 2024.

Pangsa pasar truk listrik kini mendekati 2 persen total penjualan truk dunia.

Baca juga: INDEF Ingatkan Risiko Fiskal Jika Insentif Mobil Listrik Dihentikan

China kembali menjadi pasar terbesar dengan penjualan sekitar 75.000 unit truk listrik sepanjang 2024.

Jumlah model truk listrik yang tersedia di pasar global juga meningkat signifikan, dari kurang dari 70 model pada 2020 menjadi lebih dari 400 model saat ini.

Meski harga beli truk listrik masih dua hingga tiga kali lebih mahal dibanding truk diesel, IEA menilai biaya operasional yang lebih rendah membuat kendaraan tersebut semakin kompetitif.

IEA memperkirakan pada 2030 biaya kepemilikan truk listrik di Eropa dan Amerika Serikat akan mencapai titik setara dengan truk diesel untuk operasi jarak jauh.

Baca juga: Pernah Diragukan Elon Musk, Mobil Listrik China BYD Kini Ungguli Tesla

Ilustrasi kendaraan listrik.(Dok. Shutterstock/ BigPixel Photo) Ilustrasi kendaraan listrik.

Sementara di China, kondisi tersebut disebut sudah mulai terjadi.

Di sisi lain, pengembangan kendaraan listrik juga dipandang mampu mengurangi konsumsi minyak global.

IEA memperkirakan penggunaan kendaraan listrik di berbagai sektor transportasi akan menggantikan konsumsi lebih dari 5 juta barel minyak per hari pada 2030.

Sekitar separuh penghematan tersebut berasal dari adopsi kendaraan listrik di China.

Baca juga: Kemenperin Ajukan Insentif Mobil Listrik 2026, Menkeu Purbaya: Saya Belum Baca

Sementara itu, IEA mengingatkan ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan perdagangan, hingga potensi tarif baru masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi perkembangan pasar kendaraan listrik dunia.

Harga minyak yang lebih rendah juga dinilai dapat mengurangi penghematan biaya bahan bakar yang menjadi salah satu daya tarik kendaraan listrik.

Namun, IEA menyebut kendaraan listrik tetap menawarkan penghematan biaya operasional dibanding mobil konvensional, bahkan ketika harga minyak dunia berada di level 40 dollar AS per barel atau sekitar Rp 706.400 per barel dengan asumsi kurs Rp 17.660 per dollar AS.

Tag:  #penjualan #mobil #listrik #global #melaju #hampir #persen #pasar #dunia #pada #2026

KOMENTAR