Kurangi Impor BBM, Prabowo Kaji Bensin Berbahan CPO
Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah sedang mengkaji produksi bensin dari minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Prabowo menyampaikan agenda tersebut saat berpidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke 19 terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027.
“Kita juga sedang mengkaji produksi bensin dari minyak kelapa sawit,” kata Prabowo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Cek Harga BBM Hari Ini 20 Mei 2026 di SPBU Pertamina Seluruh Indonesia
Pengolahan sawit menjadi bensin disiapkan sebagai salah satu langkah pemerintah menghadapi ancaman krisis energi akibat perang di Asia Barat atau Timur Tengah.
Harga minyak dunia melonjak sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Selain mengkaji produksi bensin dari CPO, pemerintah juga mempercepat produksi biosolar dari minyak sawit mentah.
Pemerintah juga akan membuat solar dari bahan baku gas dan batu bara.
“Kita juga bisa produksi energi untuk masak dengan sangat murah, dengan limbah-limbah dan batang-batang jagung,” ujar Prabowo.
Pemerintah turut menggenjot produksi listrik berbasis tenaga surya.
Prabowo mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 100 gigawatt dalam tiga tahun mendatang.
Baca juga: Lahan Sawit Tak Mungkin Bertambah, Peremajaan Jadi Kunci
Sisi hilir juga menjadi perhatian pemerintah. Prabowo menyebut masyarakat akan didorong beralih dari sepeda motor berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik.
“Insya Allah kita akan hilangkan ketergantungan kita kepada import BBM dan kita akan menghemat devisa kita yang sangat berharga,” tutur Prabowo.
Pemerintah sebelumnya juga menargetkan penggunaan etanol 20 persen pada bensin atau E20 dapat diterapkan pada 2028.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan rencana tersebut ditetapkan setelah pemerintah melihat program mandatori biodiesel dengan komposisi 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar atau B40 berhasil.
Bahlil mengatakan kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan impor minyak.
"Kalau kita mandatori 20 persen (etanol), berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter (KL)," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026).