DSSA Diprediksi Didepak dari FTSE Russell, Potensi Tekanan Jual Asing Melonjak
Ilustrasi saham. (PIXABAY)
13:48
18 Mei 2026

DSSA Diprediksi Didepak dari FTSE Russell, Potensi Tekanan Jual Asing Melonjak

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten energi dan infrastruktur Grup Sinar Mas yang dikendalikan melalui PT Sinar Mas Tunggal, diprediksi bakal terdepak dari indeks global FTSE Russell setelah masuk daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Potensi keluarnya DSSA dari indeks FTSE Russell diperkirakan menambah tekanan jual asing di pasar saham domestik, setelah sebelumnya pasar diguncang rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang juga mengeluarkan sejumlah saham berkapitalisasi besar asal Indonesia dari indeks global.

Lembaga indeks global FTSE Russell diketahui bakal mendepak saham-saham asal Indonesia yang masuk daftar HSC dalam tinjauan indeks Juni 2026. Langkah tersebut diambil setelah FTSE Russell melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan pasar modal Indonesia sejak Februari 2026.

Baca juga: IHSG Merosot 3,76 Persen, Saham DSSA, TPIA, AMMN Kena ARB

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan bila dilihat dari tambahan kriteria terkait high shareholding concentration, saham DSSA berpotensi terdepak dari indeks karena dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi.

Dalam konteks ini, FTSE Russell maupun MSCI cenderung menghindari saham dengan free float rendah atau saham yang sebagian besar kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok tertentu karena dianggap kurang merepresentasikan likuiditas pasar yang sehat.

“Jika dilihat dari tambahan kriteria terkait HSC list, DSSA dengan bobot minum 4 persen menjadi konstituen yang terdepak,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC per 31 Maret 2026. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan transparansi pasar sekaligus memberikan informasi tambahan bagi investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi.

Berdasarkan data BEI, terdapat sembilan emiten yang memiliki tingkat kepemilikan oleh kelompok tertentu di atas 95 persen. Emiten tersebut meliputi, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dengan konsentrasi kepemilikan 95,47 persen, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 97,75 persen, serta PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) yang mencapai 98,35 persen.

Selain itu, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan hingga 99,77 persen, diikuti PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) sebesar 95,94 persen dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang mencapai 99,85 persen.

Baca juga: DSSA dan BREN Terancam Didepak dari MSCI, Bagaimana Nasib Sahamnya?

Sementara itu, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 95,35 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76 persen, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 97,31 persen.

Faris memastikan bila FTSE Russell mencoret DSSA dan saham lainnya dari indeks, maka kondisi ini dapat memicu tambahan force selling karena investor institusi yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan harus menyesuaikan portofolionya dengan menjual saham yang dikeluarkan dari indeks.

Namun dampaknya diperkirakan tidak sebesar MSCI karena dana kelolaan yang mengikuti FTSE umumnya lebih kecil.

“Hal ini memicu force selling tambahan meskipun tidak sebesar MSCI, namun kami belum bisa memberikan estimasi angka persis karena FTSE tidak memberi data spesifik berapa AUM yang menggunakan indeksnya sebagai benchmarking,” paparnya.

FTSE Russel dan MSCI

FTSE Russell merupakan penyedia indeks saham global terkemuka yang menyusun daftar saham pilihan dari seluruh dunia, berfungsi sebagai acuan (benchmark) utama bagi investor institusional global.

Meski mengapresiasi agenda reformasi dari otoritas bursa Indonesia, FTSE Russell memastikan tetap bersikap konservatif dalam menentukan komposisi indeks.

“FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak (HSC) dengan harga nol pada tinjauan Juni 2026, yang akan efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026,” tulis FTSE dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Keputusan penghapusan saham dengan harga nol tersebut diambil untuk menjaga integritas indeks. FTSE menerima masukan bahwa likuiditas saham-saham yang terkena peringatan HSC diperkirakan bakal merosot tajam, sehingga menyulitkan investor pasif untuk melakukan exit secara wajar.

Selain menghapus saham bermasalah, FTSE Russell juga memutuskan tetap menangguhkan penambahan anggota baru dan peningkatan bobot free float bagi emiten Indonesia. Kebijakan itu akan berlaku setidaknya hingga tinjauan indeks September 2026 mendatang.

Penangguhan tersebut mencakup penundaan masuknya emiten hasil penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), maupun emiten yang seharusnya mengalami kenaikan peringkat atau re-ranking berdasarkan kapitalisasi pasar.

“FTSE Russell akan terus menunda re-ranking indeks secara penuh, kenaikan free float, dan penambahan emiten baru hingga setidaknya tinjauan indeks September 2026, guna memberikan periode pemantauan yang lebih panjang,” lanjut keterangan tersebut.

Sepanjang periode tinjauan Juni 2026, penyesuaian dilakukan hanya mencakup pembaruan klasifikasi industri, jumlah saham kuartalan, serta pemutakhiran daftar emiten berdasarkan kriteria ESG dan syariah.

FTSE menyatakan akan terus memantau efektivitas reformasi transparansi yang dijalankan otoritas Indonesia sebelum memutuskan memulihkan kembali proses pemeringkatan indeks secara penuh pada masa mendatang.

Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam penyesuaian indeks periode Mei 2026, mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes.

Keenam saham terdiri atas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Meski dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.

Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Kemudian PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), serta PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN).

MSCI menyebut seluruh perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.

Apa langkah investor ritel ketika pasar terkoreksi?

Investor ritel saat ini dinilai bisa menyesuaikan strategi dengan profil dan gaya trading masing-masing. Dalam kondisi pasar yang masih volatil, peluang jangka pendek dinilai masih ada terutama pada saham small cap dan third liner karena pergerakannya lebih dipengaruhi sentimen teknikal dan trading momentum jangka pendek.

Namun transaksi sebaiknya tetap menggunakan ukuran dana yang kecil untuk mengurangi risiko saat pasar bergerak tidak stabil.

Sementara itu, untuk investor yang biasa melakukan swing trading pada saham berkapitalisasi besar hingga menengah, kondisi makro saat ini dinilai belum mendukung.

Tekanan dari arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, ketidakpastian global, serta sentimen rebalancing indeks masih membuat pergerakan saham-saham big caps cenderung berada dalam tekanan dan belum memiliki momentum penguatan yang kuat.

“Investor ritel dapat bersikap sesuai prefensi strategi investasinya masing-masing. Gambaran market saat ini masih cukup available untuk trading pendek di saham small cap atau third liner dengan size yang kecil. Namun, untuk tipikal swing trader di saham dengan kapitalisasi pasar besar hingga menengah secara momentum makro belum mendukung,” lanjut Faris.

Tag:  #dssa #diprediksi #didepak #dari #ftse #russell #potensi #tekanan #jual #asing #melonjak

KOMENTAR