IATA: Trafik Penumpang Pesawat Global Merosot Imbas Konflik Timur Tengah
Ilustrasi pesawat, penerbangan.(PIXABAY/???????? )
19:44
15 Mei 2026

IATA: Trafik Penumpang Pesawat Global Merosot Imbas Konflik Timur Tengah

- Pertumbuhan lalu lintas penumpang penerbangan global melambat tajam pada Maret 2026. 

Ini seiring dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu operasional maskapai dan memukul trafik internasional.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA) mencatat, pertumbuhan global Revenue Passenger Kilometers (RPK) atau ukuran permintaan penumpang hanya mencapai 2,1 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada Maret 2026.

Baca juga: IEA: Industri Petrokimia dan Penerbangan Paling Terdampak Konflik Timur Tengah

Ilustrasi pesawat, penerbangan.PIXABAY/TOBIAS REHBEIN Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Angka ini turun signifikan dibandingkan pertumbuhan 6,1 persen pada Februari 2026 dan menjadi pertumbuhan terlemah sejak pemulihan pasca pandemi Covid-19. 

Dalam laporan Air Passenger Market Analysis March 2026, IATA menyebut perlambatan tersebut terutama dipicu gangguan operasional penerbangan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

“Volume lalu lintas yang diangkut oleh maskapai penerbangan Timur Tengah menyusut lebih dari setengahnya, di tengah dampak konflik di wilayah tersebut,” tulis IATA dalam laporannya, dikutip pada Jumat (15/5/2026).

Secara keseluruhan, total RPK industri penerbangan global mencapai 754 miliar pada Maret 2026.

Baca juga: Kemenhub Terbitkan Aturan Baru Fuel Surcharge, Asosiasi Maskapai: Bantu Industri Penerbangan

Namun secara musiman (seasonally adjusted), lalu lintas penumpang global hanya 1,3 persen lebih tinggi dibanding Maret 2025 dan turun 4,7 persen dibanding Februari 2026.

Meski pertumbuhan melambat, tingkat keterisian penumpang atau Passenger Load Factor (PLF) justru mencetak rekor tertinggi untuk bulan Maret, yakni 83,6 persen.

Ilustrasi pesawat.PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH Ilustrasi pesawat.

Hal ini terjadi karena kapasitas penerbangan global yang diukur melalui Available Seat Kilometers (ASK) turun 1,7 persen secara tahunan, sementara permintaan masih tumbuh.

Trafik penerbangan internasional tertekan

IATA mencatat, penurunan terbesar terjadi pada penerbangan internasional. Trafik penumpang internasional turun 0,6 persen secara tahunan pada Maret 2026, berbalik dari pertumbuhan 6,2 persen pada Februari 2026.

Baca juga: InJourney Airports Berangkatkan 126.097 Jemaah Haji, Ketepatan Penerbangan Capai 96 Persen

Kapasitas penerbangan internasional turun lebih dalam, yakni 6,2 persen (YoY).

Karena penurunan kapasitas lebih besar dibanding permintaan, PLF internasional justru naik 4,7 poin persentase menjadi 84,1 persen dan menjadi rekor tertinggi untuk Maret pada segmen internasional.

Sebaliknya, penerbangan domestik masih tumbuh positif. Trafik penerbangan domestik meningkat 6,5 persen (YoY) pada Maret 2026, sedikit lebih tinggi dibanding Februari 2026 yang sebesar 6,1 persen.

Kapasitas domestik naik 5,6 persen, sedangkan PLF domestik meningkat 0,7 poin persentase menjadi 83 persen.

Baca juga: Airbus Jajaki Kerja Sama Strategis Pengembangan Bandara dan Layanan Penerbangan RI

IATA menyebut, ketika trafik internasional melemah, pasar domestik menjadi satu-satunya penopang pertumbuhan lalu lintas penumpang global pada Maret 2026.

Maskapai Timur Tengah terpukul

Kawasan Timur Tengah menjadi wilayah yang mengalami tekanan paling besar akibat konflik geopolitik, khususnya konflik Iran dan penutupan wilayah udara di sejumlah negara.

IATA mencatat, trafik penumpang maskapai Timur Tengah anjlok 58,6 persen secara tahunan pada Maret 2026.

Ilustrasi pesawat.Pexels/Pixabay Ilustrasi pesawat.

“Maskapai penerbangan Timur Tengah mengalami penurunan tajam dalam lalu lintas penumpang, turun 58,6 persen (YoY) pada Maret. Hal ini mencerminkan dampak meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Iran dan penutupan wilayah udara yang meluas di kawasan tersebut,” ungkap IATA.

Baca juga: Pelaku Industri Penerbangan Berkumpul di IAS 2026, Bahas Masa Depan Aviasi

Penurunan trafik juga diikuti penyusutan kapasitas sebesar 54,7 persen (YoY). Akibatnya, tingkat keterisian penumpang maskapai Timur Tengah turun 6,3 poin persentase menjadi 68,3 persen.

Kondisi tersebut berbeda dengan kawasan lain yang umumnya masih mencatat pertumbuhan. Afrika menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 20,6 persen (YoY), jauh di atas rata-rata industri global sebesar 2,1 persen.

Sementara itu, maskapai Asia Pasifik membukukan pertumbuhan trafik sebesar 11,5 persen (YoY), didorong kuatnya pasar internasional dan domestik di negara-negara utama seperti China.

Maskapai Eropa mencatat pertumbuhan 7,5 persen (YoY), sedangkan Amerika Latin dan Karibia tumbuh 8,4 persen. Di Amerika Utara, trafik penumpang meningkat 2,3 persen secara tahunan.

Baca juga: Antisipasi Gangguan Penerbangan Haji 2026, Menhub Siapkan Rute Alternatif

Asia Pasifik catat tingkat keterisian penumpang tertinggi

Maskapai Asia Pasifik mencatat tingkat keterisian penumpang tertinggi di dunia pada Maret 2026, yakni 87,2 persen. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk kawasan tersebut.

Permintaan penumpang di kawasan Asia Pasifik naik 11,5 persen (YoY), sedangkan kapasitas hanya tumbuh 6 persen sehingga PLF naik 4,3 poin persentase.

IATA menilai, penutupan sejumlah hub utama di Timur Tengah ikut mendorong perpindahan trafik ke maskapai dan rute alternatif di Asia Pasifik serta Eropa.

Ilustrasi pesawat Airbus A350-900 yang dioperasikan maskapai Qatar Airways.WIKIMEDIA COMMONS/4300STREETCAR Ilustrasi pesawat Airbus A350-900 yang dioperasikan maskapai Qatar Airways.

“Kinerja ini menggarisbawahi dampak penutupan di pusat-pusat penerbangan Timur Tengah, yang berfungsi sebagai jembatan global yang penting, khususnya pada rute Asia Pasifik-Eropa,” jelas IATA.

Baca juga: Lima Negara Asean Bertemu Bahas Tren Keselamatan Penerbangan Regional dan Global

Maskapai Eropa juga menikmati kenaikan PLF menjadi 82,1 persen, naik 3,2 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, PLF maskapai Afrika naik 6,5 poin persentase menjadi 76,2 persen dan menjadi kenaikan terbesar di antara seluruh kawasan.

China dan Brasil dorong pasar penerbangan domestik

Di pasar domestik, China menjadi motor pertumbuhan utama. Trafik domestik China meningkat 13,7 persen YoY pada Maret 2026.

IATA menyebut kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi periode akhir perjalanan Tahun Baru Imlek yang berlanjut hingga Festival Lentera atau Yuan Xiao pada 4 Maret 2026.

Baca juga: Krisis Bahan Bakar Jet Mengancam Eropa, Risiko Pemangkasan Penerbangan Meningkat

Kapasitas domestik China naik 13,1 persen, sedangkan tingkat keterisian penumpang meningkat menjadi 84,5 persen.

Brasil juga mencatat pertumbuhan kuat dengan kenaikan trafik domestik sebesar 10,8 persen (YoY). Ini menjadi bulan keempat berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.

Di Australia, trafik domestik kembali tumbuh positif sebesar 8,8 persen (YoY) setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada Februari 2026. Sementara Jepang mencatat kenaikan trafik domestik 4,8 persen (YoY) dengan tingkat keterisian penumpang mencapai 88,5 persen.

Amerika Serikat mencatat pertumbuhan domestik yang lebih moderat, yakni 1,4 persen (YoY).

Baca juga: Cathay Pacific Pangkas Penerbangan hingga Juni 2026, Imbas Harga Avtur Melonjak

Berbeda dengan negara lain, India menjadi satu-satunya pasar domestik utama yang mengalami kontraksi. Trafik domestik India turun 1 persen (YoY) pada Maret 2026.

Ilustrasi pesawat, ilustrasi penerbangan.SHUTTERSTOCK/Skycolors Ilustrasi pesawat, ilustrasi penerbangan.

IATA menyebut penurunan itu berkaitan dengan gangguan akibat konflik Timur Tengah, mengingat banyak penumpang India menggunakan penerbangan domestik menuju hub internasional sebelum melanjutkan perjalanan ke negara-negara Teluk untuk bekerja.

Rute Asia-Eropa melonjak

Perubahan pola perjalanan akibat konflik Timur Tengah juga terlihat pada rute internasional utama.

IATA mencatat lalu lintas penerbangan antara Eropa dan Asia melonjak 29,3 persen (YoY) pada Maret 2026.

Baca juga: Krisis Avtur Membayangi, Maskapai Global Mulai Kurangi Penerbangan

Menurut IATA, konflik di Timur Tengah mendorong peralihan penumpang dari transit melalui hub Timur Tengah menuju penerbangan langsung antara Asia dan Eropa.

“Mengingat peran Timur Tengah sebagai pusat utama lalu lintas transit antara Eropa dan Asia, khususnya untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara—konflik di kawasan tersebut menyebabkan pengalihan lalu lintas yang signifikan menuju layanan langsung antara kedua wilayah tersebut,” tutur IATA.

Rute Amerika Utara–Asia dan Pasifik barat daya-Asia juga ikut terdorong masing-masing sebesar 12,2 persen dan 21,1 persen (YoY).

Sementara itu, koridor Timur Tengah–Asia justru mengalami penurunan tajam sebesar 55,9 persen (YoY).

Baca juga: Maskapai Asia Tertekan Krisis Energi, Penerbangan Dikurangi

Pada saat yang sama, tingkat keterisian penumpang di rute Eropa–Asia dan Amerika Utara–Asia melampaui 90 persen, masing-masing mencapai 93,6 persen dan 92,9 persen.

Kapasitas global diperkirakan pulih pada Mei 2026

IATA memperkirakan kapasitas kursi penerbangan global masih akan tertekan pada April 2026. Kapasitas kursi terjadwal diproyeksikan turun 0,7 persen (YoY), terutama akibat pemangkasan besar-besaran oleh maskapai di Timur Tengah.

Kapasitas maskapai Timur Tengah sendiri diperkirakan turun 38,4 persen pada April 2026.

Namun untuk Mei 2026, IATA memperkirakan kapasitas global kembali tumbuh positif sekitar 2 persen (YoY), seiring mulai membaiknya kapasitas penerbangan menuju kawasan Timur Tengah dibanding April.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan

Meski demikian, kapasitas penerbangan di Timur Tengah masih diperkirakan turun 18,3 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tag:  #iata #trafik #penumpang #pesawat #global #merosot #imbas #konflik #timur #tengah

KOMENTAR