Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa: Gaji Naik Kecil, Harga Kebutuhan Melonjak...
Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.(SHUTTERSTOCK/MELIMEY)
14:08
15 Mei 2026

Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa: Gaji Naik Kecil, Harga Kebutuhan Melonjak...

- Pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp 17.600 per dollar AS mulai dirasakan masyarakat lewat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, sementara kenaikan pendapatan dinilai tidak mampu mengimbangi lonjakan biaya hidup.

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan tekanan terbesar saat ini berasal dari imported inflation atau inflasi akibat kenaikan biaya impor pangan, energi, dan bahan baku industri.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan uang lebih besar hanya untuk memenuhi kebutuhan yang sama seperti tahun sebelumnya.

Baca juga: Sudah Budgeting, Tapi Masih Bocor? Ini Masalah Keuangan yang Sering Dialami Keluarga Muda

“Kalau kenaikan upah rata-rata hanya sekitar 3 persen sampai 4 persen, sementara inflasi kebutuhan pokok bisa naik 5 persen sampai 7 persen akibat efek kurs, maka daya beli riil masyarakat akan turun,” ujar Rahma kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Rahma menjelaskan pelemahan rupiah mulai berdampak pada komoditas pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai.

Akibatnya, harga produk seperti mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi mengalami kenaikan bertahap.

Bagi masyarakat kelas bawah, kenaikan harga tahu dan tempe menjadi sangat sensitif karena kedua bahan pangan tersebut merupakan sumber protein utama yang paling terjangkau.

Sementara kelompok kelas menengah mulai merasakan tekanan dari naiknya harga makanan olahan, biaya makan di luar rumah, hingga kenaikan ongkos transportasi.

Rahma juga menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai memicu efek domino terhadap biaya distribusi barang.

Menurut dia, kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex membuat ongkos logistik meningkat sehingga harga barang di pasar ikut terdorong naik, termasuk produk lokal.

“Sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor karena biaya transportasinya lebih mahal,” katanya.

Ia mengingatkan kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan dalam situasi saat ini karena tidak mendapat bantuan sosial, tetapi harus menghadapi kenaikan biaya hidup secara mandiri.

Banyak rumah tangga, kata Rahma, akhirnya mulai mengurangi tabungan, menunda pengeluaran kesehatan, atau menekan biaya pendidikan tambahan demi menjaga pengeluaran bulanan tetap aman.

Menurut dia, risiko akan semakin besar jika rupiah terus melemah hingga mendekati Rp 18.000 per dollar AS di tengah tingginya harga minyak dunia.

Kondisi tersebut dapat memperbesar beban subsidi energi pemerintah dan meningkatkan kemungkinan penyesuaian harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar.

“Kalau harga pangan dan energi tidak terkendali, risiko penurunan kelas ekonomi dari menengah ke bawah akan sangat besar,” ujar Rahma.

Ia memproyeksikan inflasi tahun ini berpotensi bergerak menuju level 4,5 persen hingga 4,8 persen, lebih tinggi dari target awal Bank Indonesia.

Karena itu, Rahma meminta pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan energi agar tekanan terhadap daya beli masyarakat tidak semakin dalam.

Baca juga: Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh

Tag:  #dampak #pelemahan #rupiah #mulai #terasa #gaji #naik #kecil #harga #kebutuhan #melonjak

KOMENTAR