Wall Street Cetak Rekor, Saham AI Nvidia hingga Cisco Melonjak
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (14/5/2026), didorong reli saham teknologi di tengah optimisme pasar terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta perhatian investor terhadap pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Mengutip Reuters pada Jumat (15/5/2026), ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona hijau. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi baru, melanjutkan tren penguatan dalam beberapa sesi terakhir.
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup hanya sekitar 0,3 persen di bawah rekor penutupan tertinggi sepanjang masa yang tercapai pada 10 Februari lalu.
Secara rinci, indeks Dow Jones naik 370,26 poin atau 0,75 persen ke level 50.063,46. Indeks S&P 500 menguat 56,99 poin atau 0,77 persen ke level 7.501,24, sedangkan Nasdaq Composite naik 232,88 poin atau 0,88 persen ke level 26.635,22.
Baca juga: Bukan Turun Level, OJK Target Bursa RI Bisa Setara Wall Street
Sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan indeks S&P 500, sementara sektor material mencatat penurunan terdalam.
“Semua orang bertanya sampai kapan reli ini akan berlangsung. Banyak investor menikmati reli ini, tetapi di saat yang sama juga mulai waswas,” ujar Senior Portfolio Manager Dakota Wealth Robert Pavlik.
Menurutnya, investor tidak bisa hanya menunggu di pinggir pasar ketika indeks terus mencetak rekor tertinggi baru.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping menjadi perhatian utama pasar karena membahas berbagai isu strategis, mulai dari perdagangan, penjualan senjata AS ke Taiwan, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
Trump hadir bersama sejumlah petinggi perusahaan teknologi besar, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang.
Saham Nvidia melonjak 4,4 persen setelah pemerintah AS mengizinkan penjualan chip H200 milik perusahaan tersebut ke perusahaan-perusahaan China.
“Kami senang melihat kedua pemimpin menunjukkan nada kolaboratif dan berharap itu berlanjut menjadi kesepakatan jangka panjang,” ucap Portfolio Manager Founder ETFs Michael Monaghan.
Dari sisi ekonomi, data penjualan ritel AS tercatat sesuai ekspektasi pasar. Namun, kenaikan tersebut sebagian besar ditopang lonjakan harga bensin akibat perang Iran, yang juga mendorong kenaikan harga impor terbesar sejak Oktober 2022.
Serangkaian data inflasi pekan ini memunculkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat menyebar ke barang dan jasa lain, sehingga memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid menyebut inflasi masih menjadi risiko paling mendesak bagi ekonomi AS meskipun kondisi ekonomi dinilai tetap tangguh.
Selain Nvidia, saham perusahaan semikonduktor dan AI lainnya bergerak bervariasi. Saham Qualcomm, Intel, Sandisk, dan Micron justru terkoreksi antara 3,4 persen hingga 6,1 persen.
Saham Cisco melonjak 13,4 persen hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa setelah perusahaan mengumumkan pemutusan hubungan kerja hampir 4.000 karyawan dan menaikkan proyeksi pendapatan tahunan.
Di sisi lain, saham Boeing turun 4,7 persen meski Trump menyebut China setuju membeli 200 pesawat Boeing.
Sementara itu, saham perusahaan chip AI Cerebras melesat 68,2 persen pada debut perdagangannya di bursa AS.
Tag: #wall #street #cetak #rekor #saham #nvidia #hingga #cisco #melonjak