Wall Street Menguat, Saham AI dan Chip Jadi Mesin Penggerak
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026), didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), meski pasar masih dibayangi kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dan mandeknya negosiasi damai antara AS dan Iran.
Ketiga indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau. Bahkan, indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi baru.
Melansir Reuters pada Selasa (12/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 95,31 poin atau 0,19 persen ke level 49.704,47.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 13,91 poin atau 0,19 persen menjadi 7.412,84, sedangkan Nasdaq Composite naik 27,05 poin atau 0,10 persen ke posisi 26.274,13.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham sektor energi mencatat kenaikan terbesar. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi menjadi sektor yang paling tertinggal.
Baca juga: Investor Wall Street Tunggu Data Inflasi dan Pertemuan Trump-Xi Jinping
Penguatan pasar terutama ditopang saham-saham semikonduktor. Indeks PHLX Semiconductor melonjak 2,6 persen, mencerminkan antusiasme investor terhadap sektor AI yang masih sangat kuat.
Analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield, mengatakan perdagangan saham semikonduktor dan infrastruktur AI kini memiliki momentum yang sangat besar.
“Momentum di sektor AI dan chip tampaknya berjalan sendiri, terlepas dari sentimen berita maupun pengumuman tertentu,” ujar Mayfield.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar mulai mengingatkan adanya potensi koreksi pasar. Investor Michael Burry, yang dikenal sukses memprediksi krisis finansial 2008, memperingatkan reli saham teknologi berpotensi segera berakhir.
Dalam tulisannya di platform Substack, Burry menilai pasar saat ini sudah terlalu panas. “Pasar sudah melampaui batas,” tulisnya.
Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal I-2026 juga mulai mendekati akhir. Sebanyak 440 perusahaan anggota indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangannya dan sekitar 83 persen di antaranya berhasil melampaui ekspektasi laba analis, berdasarkan data LSEG IBES.
Analis kini memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 tumbuh 28,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal April yang hanya sebesar 14,4 persen.
Chief Equity Strategist U.S. Bank Wealth Management, Terry Sandven, mengatakan reli pasar saat ini terutama ditopang pertumbuhan laba perusahaan yang solid.
Namun, perhatian investor mulai bergeser kembali ke faktor makroekonomi dan geopolitik seiring berakhirnya musim laporan keuangan.
Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian AS. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran inflasi, terutama pada harga bahan bakar yang langsung dirasakan konsumen.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting pada pekan ini, termasuk data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) dan data penjualan ritel AS guna melihat dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan belanja masyarakat.
Selain itu, data harga produsen dan produksi industri juga akan menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari perang Iran, perdagangan, senjata nuklir, Taiwan, AI, hingga potensi perpanjangan kesepakatan mineral tanah jarang.
Sejumlah emiten besar juga dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini, termasuk Cisco Systems dan Applied Materials. Sementara Nvidia dan Walmart akan melaporkan kinerja pada akhir bulan.
Saham Intel naik 3,6 persen setelah sebelumnya melonjak 14 persen pada Jumat lalu menyusul laporan kesepakatan awal produksi chip dengan Apple.
Sementara itu, saham Qualcomm melesat 8,4 persen dan mencetak rekor tertinggi baru.
Di sisi lain, saham maskapai penerbangan tertekan akibat kenaikan harga minyak yang dikhawatirkan dapat menggerus margin keuntungan perusahaan. Saham Southwest Airlines, Delta Air Lines, Alaska Air Group, dan United Airlines turun antara 2,9 persen hingga 4,4 persen.
Tag: #wall #street #menguat #saham #chip #jadi #mesin #penggerak