Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal, memberikan catatan kritis terkait rencana pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG. Ia secara tegas tidak merekomendasikan penggunaan CNG untuk kebutuhan rumah tangga karena pertimbangan faktor keamanan.
Moshe menjelaskan bahwa CNG memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan LPG. Tekanan CNG bisa mencapai 200–250 bar, sementara LPG hanya berkisar 5–10 bar. Artinya, tekanan CNG 25 hingga 30 kali lipat lebih tinggi, sehingga sangat beresiko meledak jika terjadi malfungsi pada perangkatnya.
Selain risiko keamanan, tekanan tinggi tersebut juga berdampak pada dimensi fisik kemasannya. Jika CNG dikemas dalam volume 3 kilogram, tabungnya harus dibuat jauh lebih besar dan tebal karena densitas energi CNG 2,5 kali lebih rendah dibanding LPG.
Moshe memprediksi, untuk menghasilkan kapasitas energi yang sama dengan isi 3 kg, ukuran tabung CNG justru akan lebih bongsor daripada tabung LPG 12 kilogram.
Namun demikian, jika program ini tetap dipaksakan, Moshe menyarankan agar CNG didistribusikan kepada masyarakat melalui Jaringan Gas (Jargas) skala lokal.
Sebagai contoh, di kawasan rumah susun/apartemen, atau kompleks perumahan, CNG bisa ditempatkan di satu titik pusat penyimpanan untuk kemudian dialirkan ke unit-unit rumah. Dalam pengelolaannya dapat melibatkan pihak swasta.
"Kalaupun seperti itu (dipaksakan), harus ada swasta yang mengelola. Jadi misalkan, sebuah rusun nih, atau apartemen. Enggak ada lagi beli per tabung, tapi melalui Jargas lokal," kata Moshe saat dihubungi Suara.com pada Kamis (7/5/2026).
Menurut Moshe, langkah tersebut jauh lebih aman dibandingkan distribusi menggunakan tabung. Ia menambahkan bahwa di sejumlah negara, CNG lazim disalurkan melalui jaringan pipa gas, bukan dibeli oleh masyarakat dalam bentuk tabung eceran.
"Nah, jargas itu kenapa lebih aman? Karena dari sisi pressure dari jargas itu, palingan cuma 2-3 bar. Memang harus ada tekanan untuk mengalirkan, palingan ya 2-3 bar. Jadi, kalau misalkan ada kebocoran segala macam, enggak terlalu signifikan, dibandingkan kalau tabung CNG," ujarnya.
Di sisi lain, Moshe menyebut sebenarnya terdapat alternatif selain CNG untuk menekan ketergantungan pada LPG, yakni dengan mengoptimalkan pemanfaatan kompor listrik. Menurutnya penggunaan kompor listrik jauh lebih murah, baik dari sisi daya dan perangkatnya.
"Apakah pakai listrik lebih mahal? Nggak juga. Dibandingkan pakai LPG, itu setara kok," katanya.
Moshe menyarankan pemerintah untuk memberikan subsidi pengadaan kompor listrik guna mempercepat proses transisi energi.
Menurutnya, langkah ini juga akan menguntungkan PLN karena konsumsi listrik masyarakat akan meningkat. Ia mendorong agar program-program pendukung, seperti penambahan daya gratis yang selama ini sudah berjalan di PLN, dapat kembali ditingkatkan.
Tag: #lebih #rentan #meledak #distribusi #lebih #baik #lewat #jargas