Survei Kadin: Perang Bikin Mayoritas Perusahaan Kencangkan Ikat Pinggang
- Survei Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Institute, mengungkap mayoritas perusahaan memilih menerapkan efisiensi biaya operasional imbas tekanan geopolitik.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, mengatakan perang di Asia Barat (Timur Tengah) membuat harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi mahal.
“Tetapi juga masuk kepada kenaikan operasional atau operational expenditure (Opex), ya tetapi tidak dibarengi dengan kenaikan daya beli,” kata Anindya dalam konferensi pers di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Anindya mengatakan, setiap menghadapi krisis industri memiliki dua pilihan yakni mengencangkan ikat pinggang atau segera mengejar pertumbuhan.
Baca juga: Inflasi Inggris Naik 3,3 Persen, Efek Perang Iran Mulai Menjalar ke Ekonomi
Namun, berdasarkan survei Kadin terhadap 210 perusahaan di 27 provinsi mayoritas pelaku usaha memilih mengencangkan ikat pinggang. “Mereka ingin melakukan efisiensi untuk bertahan tetapi berubah secepat mungkin dari survival ke growth path lagi. Karena growth-lah yang bisa membuat kita bertahan dari penciptaan lapangan kerja,” tutur Anindya.
Direktur Insight Kadin Institute Fakhrul Fulvian, menyebut, dari 210 perusahaan itu, 33,9 persen perusahaan memilih efisiensi biaya operasional.
Mereka memilih menekan biaya produksi, distribusi, dan operasional.
Strategi itu dipilih sebagai bentuk antisipasi dampak konflik di Asia Barat. “Semuanya berpikir di melakukan efisiensi biaya operasional,” ujar Fakhrul.
Meski demikian, riset juga mengungkapkan biaya 29,3 persen responden belum atau tidak melakukan langkah khusus.
Sebagian perusahaan memilih menunggu dan melihat perkembangan dinamika karena keterbatasan kapasitas adaptasi.
Sementara itu, 9,9 persen perusahaan lainnya memilih menerapkan diversifikasi mitra dagang; 9,5 persen meninjau kontrak dan rantai pasok; dan 7,1 persen diversifikasi sumber bahan baku.
“Strategi ini mencerminkan upaya mengurangi ketergantungan pada pasar atau pemasok tertentu guna meminimalkan risiko gangguan global,” ucap Fakhrul.
Selain itu, survei itu juga mengungkapkan bagi 20,9 persen perusahaan dampak terbesar gejolak geopolitik yang dirasakan perusahaan adalah lonjakan harga energi dan komoditas.
Akibatnya, biaya produksi dan operasional naik, menekan margin keuntungan di berbagai sektor bisnis.
Selain itu, 16,2 persen perusahaan tanah air juga terpukul pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan permintaan pasar.
Pelemahan nilai tukar terhadap dollar AS membuat biaya impor bahan baku membengkak. “Sementara permintaan yang menurun mencerminkan melemahnya daya beli dan aktivitas perdagangan, baik domestik maupun global,” tutur Fakhrul.
Adapun survei ini dilakukan pada 17 Maret sampai 5 April kemarin untuk memotret persepsi pelaku usaha pada kuartal (Q1) 2026.
Survei ini menggunakan metode random sampling kepada 210 anggota Kadin di 27 provinsi yang dipilih secara acak melalui WhatsApp dan Online Survey Form. Fakhrul menyebut, margin of error dari survei ini sebesar 9 persen.
Baca juga: Perang AS-Iran Memicu Krisis Energi Terburuk dalam Sejarah
Tag: #survei #kadin #perang #bikin #mayoritas #perusahaan #kencangkan #ikat #pinggang