Musim Liburan Usai, Saham Sektor Konsumer Masih Layak Koleksi?
Ilustrasi saham.(SHUTTERSTOCK/FEYLITE)
07:44
24 April 2026

Musim Liburan Usai, Saham Sektor Konsumer Masih Layak Koleksi?

- Sektor konsumer pada kuartal II-2026 ini menghadapi tantangan setelah usainya musim liburan sebagai momentum meningkatnya konsumsi rumah tangga.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah juga membawa risiko peningkatan harga bahan baku kemasan manufaktur sektor konsumser yang didominasi oleh plastik.

Pada akhir perdagangan Kamis (23/4/2026), sektor konsumer non-siklikal melemah 0,59 persen.

Equity Research Analyst di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, prospek sektor konsumer cenderung moderat pada kuartal II-2026 ini.

"Dengan pertumbuhan yang relatif terbatas seiring konsumsi rumah tangga yang masih pulih secara bertahap," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: IHSG Turun 2,16 Persen, Asing Kaburdari Saham Big Caps, Minati Saham Komoditas-Energi

Ia menambahkan, tidak adanya katalis musiman seperti Ramadhan atau Lebaran membuat kinerja kuartal II-2026 cenderung lebih normal.

Dengan demikian, pertumbuhan bisnis sektor konsumer lebih bergantung pada volume penjualan dan stabilitas harga.

Aziz menuturkan, sektor konsumer masih tergolong defensif karena didukung kebutuhan sehari-hari.

Namun demikian, dalam kondisi saat ini ketahanannya mulai tertekan oleh pelemahan daya beli serta kenaikan biaya bahan baku dan operasional.

"Sehingga margin menjadi lebih sensitif," imbuh dia.

Saat ini, Kiwoom Sekuritas lebih menyarankan untuk trading jangka pendek seperti ULTJ dengan target 1,640-1,710 dan support 1,475-1,400.

Baca juga: Perang Iran-Israel Ancam IHSG, Cek Saham Sektor Komoditas yang Berpeluang Tetap Cuan

Sektor konsumer masih jadi pilihan defensif

Sedikit berbeda, Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih berpandangan, sektor konsumsi primer masih menjadi salah satu pilihan defensif di tengah volatilitas pasar.

Secara umum pada kuartal IV-2025 mayoritas emiten mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih (bottom line) dua digit.

Hal ini mengindikasikan permintaan terhadap kebutuhan primer masih stabil.

Dari sisi profitabilitas dan valuasi, tiap-tiap emiten menunjukkan karakteristik yang berbeda.

PT Campina Ice Cream Industri Tbk (CAMP) memiliki gross profit margin (GPM) 47,5 persen. Angka tersebut mencerminkan kekuatan pricing power dan positioning produk, dengan valuasi yang relatif moderat pada level price to earning ratio (P/E) sebesar 17,0 kali.

Price to earning ratio (PER) merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk membandingkan harga saham saat ini dengan laba bersih per saham. Rasio ini digunakan untuk mengukur apakah valuasi sebuah saham wajar atau mahal.

Biasanya angka PER yang rendaha atau di bawah 10 diasumsikan sebagai harga yang murah. Sementara itu, PER yang tinggi mengindikasikan ekspektasi pertumbuhan tinggi atau harga yang terlalu mahal.

Baca juga: Peluang Sektor Konsumer Dorong Kinerja di Tengah Stabilitas Kurs Rupiah

Kemudian, Ratih menjelaskan saham Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk (ULTJ) memiliki GPM 31,7 persen dengan valuasi paling rendah di antara peers pada P/E 11,1 kali.

Angka tersebut menjadikan saham menarik dari perspektif value.

Di sisi lain, Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) memiliki margin yang lebih rendah yaitu 27,4 persen. Namun, saham ini diperdagangkan pada valuasi lebih tinggi atau dengan rasio P/E sebesar 18,8 kali.

Ratih menyampaikan, pasar menantikan rilis kinerja keuangan kuartal I-2026 yang diperkirakan tumbuh moderat, sejalan dengan pola yang terlihat pada kuartal IV-2025.

Momentum musiman dari hari besar keagamaan diperkirakan tetap menjadi pendorong utama konsumsi domestik dalam jangka pendek pada kuartal I-2026.

Baca juga: IHSG Naik 8 Persen Usai Reformasi Transparansi, Tak Ada Ancaman “Turun Kelas” dari MSCI

Tantangan sektor konsumer di kuartal II-2026

Namun demikian, Ratih bilang, prospek sektor konsumer ke depan tidak sepenuhnya tanpa risiko.

"Memasuki kuartal II-2026, terdapat potensi perlambatan kinerja baik secara kuartalan maupun tahunan," ungkap dia.

Ia menjelaskan, dari sisi konsumen mulai terlihat adanya pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 122,9 pada Maret 2026 dari bulan sebelumnya 125,2.

"Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan pada persepsi dan kemampuan konsumsi rumah tangga akibat kondisi suku bunga yang tinggi, depresiasi rupiah, hingga kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah," ucap dia.

Baca juga: Apakah IHSG Mampu Kembali ke Level 8.000? Simak Saham Sektor Tambang hingga Properti Berikut

Dari sisi emiten, Ratih berujar, tantangan juga datang dari kenaikan cost of goods sold (COGS) yang dipicu oleh tekanan harga bahan baku maupun pelemahan nilai tukar.

Kondisi ini berisiko menekan margin apabila emiten tidak menaikkan ASP (penyesuain harga jual) di tengah melemahnya konsumsi domestik.

Secara keseluruhan, menurut Ratih, sektor konsumsi primer diperkirakan tetap defensif, tetapi dengan laju pertumbuhan moderat ke depan.

Emiten dengan efisiensi operasional tinggi, kemampuan menjaga margin, serta pricing power yang kuat akan mampu bertahan di tengah tekanan tersebut.

Baca juga: Melihat Prospek Saham-saham Sektor Perbankan, Layak Koleksi?

Ratih sendiri memberikan pilihan saham dan rencana trading plan secara teknikal yang dapat diperhatikan oleh investor.

1. Buy CMRY Rp 4.630 dengan target harga pada resistance di level Rp 4.900 serta pertimbangkan support di level Rp 4.400.

2. Buy ULTJ closing price Rp 1.565 dengan target harga pada resistance di level Rp 1.660 serta pertimbangkan support di level Rp 1.530.

3. (Buy) MYOR closing price Rp 1.820 dengan target harga pada resistance di level Rp 1.950 serta pertimbangkan support di level Rp 1.750

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #musim #liburan #usai #saham #sektor #konsumer #masih #layak #koleksi

KOMENTAR