Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Emiten
Harga BBM Pertamina terbaru per 18 April 2026 mengalami lonjakan tajam, terutama pada Dexlite dan Pertamina Dex yang naik hingga Rp 9.400 per liter. Sementara itu, harga Pertamax dan BBM subsidi masih ditahan di level sebelumnya.()
18:12
20 April 2026

Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Emiten

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mempengaruhi margin emiten transportasi dan manufaktur.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan pilihan yang sulit dihindari pemerintah, di tengah dinamika global yang masih bergejolak.

Menurutnya, pergerakan harga energi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan dan pasokan, tetapi juga risiko geopolitik Timur Tengah, khususnya terkait jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.

Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, Simak Emiten yang Diuntungkan dan Terimbas

Selat Hormuz memiliki peran vital bagi perdagangan energi dunia, karena lebih dari 20 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut.

Dalam situasi konflik, langkah buka-tutup jalur distribusi menjadi hal yang wajar, sehingga menciptakan ketidakpastian pasokan di pasar global.

Dalam konteks itu, penyesuaian harga BBM di dalam negeri merupakan respons terhadap tekanan eksternal.

Pasar pada dasarnya telah mengantisipasi risiko tersebut.

“Dari sisi makro dan sentimen pasar memang kenaikan BBM nonsubsidi ini harus dilakukan karena adanya kenaikan harga minyak global. Kalau dinamika selat Hormuz kan memang terjadi pembukaan jalur atau penutupan jalur kan,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Dampak Kenaikan BBM ke Emiten

Nafan memandang dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap emiten di bidang transportasi, logistik, dan manufaktur berbasis energi tidak bersifat seragam, melainkan bergantung pada struktur biaya dan kebijakan yang menyertainya.

Jika terdapat skema subsidi atau perlakuan harga khusus untuk sektor-sektor tertentu, maka tekanan terhadap biaya operasional masih dapat diredam, sehingga kenaikan harga energi tidak sepenuhnya langsung diterjemahkan menjadi penurunan margin.

“Kalau misalkan terdapat subsidi, misalnya untuk emiten berbasis transportasi dan logistik dan manufaktur, tentunya masih bisa menekan cost structure. Bisa menekan cost-nya,” paparnya.

Ia menilai sektor transportasi dan logistik tertentu masih memiliki ruang efisiensi karena sebagian aktivitasnya menggunakan BBM bersubsidi, terutama yang berkaitan dengan distribusi kebutuhan pokok.

Hal itu menjadi upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen agar tidak terjadi lonjakan inflasi yang lebih luas.

Untuk industri, harga BBM yang digunakan kerap mengikuti dinamika pasar, sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi global dibandingkan dengan sektor yang masih mendapat perlindungan subsidi.

“Bagi energi kan sedang tinggi permintaan naik, permintaan tinggi tapi harganya naik masalahnya. Cuma kalau misalnya untuk BBM buat industri biasanya si beda lagi kan harganya, bisa jadi yang mengikuti dinamika market, tentunya juga berdampak kejadian ini kan bisa menekan harga emiten di sektor tersebut,” sebut Nafan.

Namun secara keseluruhan, kenaikan biaya energi tetap berpotensi menekan kinerja emiten di sektor-sektor tersebut, baik melalui peningkatan biaya langsung maupun dampak tidak langsung terhadap permintaan.

Sebaliknya, sektor energi justru berada dalam posisi yang lebih diuntungkan karena kenaikan harga komoditas memberikan ruang peningkatan pendapatan.

Meski demikian, efektivitas dampak positif ini tetap bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat, karena jika konsumsi melemah, maka tekanan terhadap kinerja emiten juga akan semakin besar.

Dalam beberapa waktu terakhir, emiten-emiten yang berbasis konsumsi domestik menunjukkan tren penurunan harga atau downtrend, yang sejalan dengan melemahnya permintaan di pasar.

Nafan memandang dinaikkan itu tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari daya beli masyarakat yang cenderung stagnan sejak pandemi Covid-19.

Kelas menengah, yang menjadi penopang konsumsi, juga belum sepenuhnya pulih, bahkan menunjukkan kecenderungan menurun.

Akibatnya, pertumbuhan konsumsi menjadi terbatas, sehingga kinerja emiten ritel dan konsumsi ikut tertekan.

Dalam situasi ini, pasar sudah lebih dulu mengantisipasi risiko pelemahan melalui koreksi harga saham di sektor terkait.

Lebih jauh, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, saat biaya energi yang meningkat, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai dilirik sebagai alternatif, terutama oleh kelompok masyarakat menengah ke atas.

Kelompok pengguna BBM dengan oktan tinggi seperti Pertamax Turbo atau Pertamina Dex memiliki kecenderungan lebih besar untuk beralih ke kendaraan listrik.

Menurutnya, peralihan ini didorong oleh pertimbangan efisiensi biaya jangka panjang di tengah tren kenaikan harga energi. “Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengkonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex ya ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV,” ungkap Bhima kepada Kompas.com.

Namun, situasinya berbeda bagi kelompok menengah yang masih cenderung menahan keputusan untuk beralih.

Keraguan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, salah satunya gangguan rantai pasok global yang turut berdampak pada industri kendaraan listrik.

Ketidakpastian di jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz ikut mempengaruhi ketersediaan komponen dan biaya produksi EV. Akibatnya, harga jual kendaraan listrik juga mengalami penyesuaian, sehingga belum sepenuhnya menjadi alternatif yang lebih terjangkau bagi sebagian masyarakat.

“Tapi untuk yang kelompok menengah masih menimbang-nimbang gitu ya kenapa? Karena efek dari gangguan produksi dan juga rantai pasok di selat hormuz itu berpengaruh juga terhadap komponen dan juga biaya produksi bagi EV, harga jual EV-nya juga mengalami penyesuaian ya,” sebutnya.

Selain itu, faktor kebijakan juga menjadi pertimbangan penting. Berkurangnya insentif kendaraan listrik yang direncanakan pada 2026 membuat daya tarik EV bagi kelas menengah menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

“Kemudian juga mempertimbangkan insentif-insentif EV, kan yang banyak berkurang di 2026 ini Jadi memang setiap kelompok masyarakat itu akan memiliki perilaku konsumsi terhadap EV yang berbeda-beda,” lanjut Bhima.

Baca juga: INDEF: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Inflasi dan Migrasi EV

Tag:  #dampak #kenaikan #harga #nonsubsidi #emiten

KOMENTAR