Di Balik Transaksi Jumbo Grup Bakrie Akumulasi Saham BIPI
Aburizal Bakrie (Suara.com/M Yasir)
07:32
16 April 2026

Di Balik Transaksi Jumbo Grup Bakrie Akumulasi Saham BIPI

Grup Bakrie melalui entitas investasinya, Bakrie Capital Indonesia, terpantau semakin agresif dalam memperkuat posisinya di PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis pada Rabu (15/4/2026), Bakrie Capital kembali melakukan pembelian saham dalam jumlah besar untuk meningkatkan porsi kepemilikannya.

Dalam aksi korporasi terbaru ini, Bakrie Capital memborong sebanyak 464,5 juta lembar saham BIPI. Transaksi tersebut setara dengan 0,73% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Rincian Transaksi dan Akumulasi Investasi

Pembelian saham kali ini dilakukan pada harga rata-rata Rp250 per saham, yang berarti Bakrie Capital mengucurkan dana segar sebesar Rp116,1 miliar.

Melalui transaksi ini, struktur kepemilikan langsung Bakrie Capital di BIPI mengalami kenaikan menjadi 6,73%, meningkat dari posisi sebelumnya yang berada di level 6%.

Secara historis, Bakrie Capital pertama kali masuk secara signifikan ke BIPI pada 24 Februari 2026 dengan mengakuisisi 6% saham di harga Rp248 per saham senilai Rp948 miliar.

Jika diakumulasikan, hingga pertengahan April 2026, Grup Bakrie telah menggelontorkan dana investasi total sekitar Rp1,06 triliun untuk emiten infrastruktur energi ini.

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/4), saham BIPI sendiri merespons positif dengan penguatan 0,7% ke posisi harga Rp278.

Langkah Bakrie Capital menambah saham di BIPI dinilai sebagai sinyal dukungan terhadap transformasi agresif yang tengah dilakukan manajemen BIPI.

Saat ini, BIPI sedang dalam fase transisi dari ketergantungan pada bisnis batu bara menuju pengembangan energi terbarukan.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, dalam risetnya menyebutkan bahwa BIPI kemungkinan besar akan mencari pendanaan ekuitas baru tahun ini untuk mempercepat transisi tersebut. Meskipun demikian, dalam jangka pendek, BIPI masih diuntungkan oleh bisnis batu bara yang solid.

Kenaikan harga energi global akibat dinamika geopolitik, termasuk dampak dari Perang Iran, serta peningkatan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dari pemerintah, diprediksi akan mendorong kinerja laba positif bagi BIPI pada tahun 2026.

Perseroan telah menyusun rencana jangka menengah dan panjang untuk memperkuat arus kas melalui berbagai proyek energi bersih, di antaranya:

Gas Alam Cair (LNG): Mengembangkan fasilitas dengan kapasitas awal 2,5 mmscfd pada semester II-2026, dengan target peningkatan hingga 20 mmscfd pada 2027–2028. Rencana ekspansi juga mencakup fasilitas di Batam dan Aceh yang ditargetkan beroperasi secara komersial mulai 2029 hingga 2031.

Waste to Energy (WTE): Menjalin kemitraan dengan Danantara Indonesia melalui skema tender pemerintah, termasuk partisipasi dalam proyek pengolahan limbah di Yogyakarta berkapasitas 1.500 ton.

Energi Panas Bumi (Geotermal): Pengembangan proyek di Ponorogo, Jawa Timur, dengan kapasitas 150 Megawatt (MW) yang dijadwalkan mulai berproduksi pada 2031.

Sebagai bagian dari strategi penguatan ekosistem hijau, BIPI juga baru saja menuntaskan akuisisi 20% saham di unit pengolahan limbah milik PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).

Editor: M Nurhadi

Tag:  #balik #transaksi #jumbo #grup #bakrie #akumulasi #saham #bipi

KOMENTAR