Kolaborasi Bank dan Pindar Jadi Kunci Perluas Kredit ke Segmen Mikro
Ketua Bidang Pengembangan Produk Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Michellina Laksmi Triwardhany dalam diskusi White Paper Perbanas dan Aftech(Dok. Perbanas)
15:44
15 April 2026

Kolaborasi Bank dan Pindar Jadi Kunci Perluas Kredit ke Segmen Mikro

Perbankan nasional didorong memperluas akses pembiayaan melalui kolaborasi dengan platform peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) khususnya segmen yang belum terlayani secara optimal.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan standar kemitraan yang sesuai tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang kuat.

Ketua Bidang Pengembangan Produk Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Michellina Laksmi Triwardhany mengatakan, kolaborasi ini memungkinkan bank menjangkau nasabah baru dengan lebih cepat dan efisien, tanpa harus membangun seluruh infrastruktur dari awal.

Baca juga: KB Bank Biayai PNM Rp 500 Miliar, Dorong Akses Modal Jutaan Usaha Mikro

Ilustrasi pinjaman online, pinjol. Pinjol resmi OJK Februari 2026. Pinjol OJK Februari 2026. Pinjol resmi Februari 2026. Pinjol OJK terbaru.(Shutterstock/Melimey) Ilustrasi pinjaman online, pinjol. Pinjol resmi OJK Februari 2026. Pinjol OJK Februari 2026. Pinjol resmi Februari 2026. Pinjol OJK terbaru.

“Ada keunggulan dari P2P lending yang bisa dikombinasikan dengan kemampuan bank supaya bank bisa memberikan pembiayaan produktif. Dengan menggunakan kemampuan P2P lending, bank bisa leverage dan perluas aksesnya,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).

Menurut perempuan yang karib disapa Dhany tersebut, P2P lending dapat lebih mudah menjangkau segmen mikro atau ultramikro yang acapkali kesulitan mengakses pembiayaan dari bank.

“Ada bank sukses dengan bisnisnya di segmen mikro atau ultramikro. Tapi selalu langkah tersebut membutuhkan biaya yang lebih mahal dan human capital yang lebih besar,” kata Dhany.

Dari perspektif perbankan, Dhany menyebut, kerja sama ini juga membuka peluang diversifikasi portofolio, penguatan ekosistem, hingga pembagian risiko.

Baca juga: Pangkas Birokasi NIB untuk Usaha Mikro, Kementerian Investasi Terbitkan Surat Edaran

“Setiap bank memiliki risk appetite dan pendekatan bisnis yang berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan standar kemitraan yang jelas sebagai acuan bersama,” imbuh dia.

Ilustrasi kredit, kredit perbankan. SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO Ilustrasi kredit, kredit perbankan.

Standar tersebut menjadi fondasi agar kolaborasi berjalan sehat dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, standar tersebut mencakup tata kelola yang baik, akuntabilitas, transparansi, serta pengelolaan risiko yang kuat.

Oleh karena itu, asosiasi industri perlu berperan dalam merumuskan standar kemitraan untuk menjaga stabilitas ekosistem.

Baca juga: PIP Luncurkan Skema Baru Pembiayaan UMi untuk Usaha Mikro

“Bank menyimpan dana masyarakat. Reputation is number one. Jika bank terekspos risiko, hal itu akan berdampak ke reputasi bank,” kata dia.

Berdasarkan data White Paper Perbanas dan Aftech, rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Pada periode 2024–2025, rasio kredit Indonesia tercatat sekitar 36,4 persen, jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di Asia Timur dan Pasifik yang mencapai 74,46 persen.

Dhany menilai kondisi ini menunjukkan masih besarnya ruang ekspansi pembiayaan formal, terutama bagi segmen underbanked dan pelaku usaha skala kecil yang belum sepenuhnya terlayani bank.

Baca juga: Kemenkeu Minta Bunga Kredit Ultra Mikro Tak Lebih dari 4 Persen

Di sisi lain, industri P2P lending mencatat pertumbuhan paling cepat dalam beberapa tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 34 persen pada periode 2019–2024.

“Bank memiliki kekuatan dari sisi permodalan dan biaya dana yang lebih rendah. Sementara P2P lending unggul dalam kecepatan proses, teknologi underwriting digital, serta pemanfaatan data alternatif. Ini kombinasi yang saling melengkapi,” kata Dhany.

Dalam paparannya, Dhany menyebut model kolaborasi bank dan P2P lending kini semakin berkembang, seperti joint financing, channeling, hingga banking-as-a-service.

Dari sisi produk, kolaborasi juga mencakup white label lending dan ecosystem lending, seperti pembiayaan invoice, supply chain financing, BNPL, dan payday loan.

Baca juga: Nasabah BPD Bali Kini bisa Akses Asuransi Kredit Perumahan dan Mikro Askrindo

Ilustrasi bank. SHUTTERSTOCK/ANTON_AV Ilustrasi bank.

Menurut dia, variasi model tersebut memungkinkan bank tetap berada dalam kerangka kehati-hatian, sekaligus memperluas jangkauan pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang membutuhkan proses lebih cepat dan fleksibel.

Namun, ia menyampaikan pertumbuhan tidak boleh mengorbankan kualitas.

“Elemen paling krusial dalam kolaborasi ini adalah manajemen risiko. Tanpa penyelarasan risk appetite, komunikasi terbuka, dan review kualitas portofolio yang disiplin, kolaborasi bisa menjadi sumber risiko baru,” ungkap dia.

Data dalam white paper menunjukkan, porsi outstanding kredit bank yang disalurkan melalui P2P lending meningkat signifikan dari sekitar 0,05 persen dari total keseluruhan kredit bank melalui berbagai saluran pada Januari 2021 menjadi sekitar 1,30 persen pada April 2025.

Baca juga: HSBC dan YCAB Perkuat Ketangguhan Ekonomi Pelaku Usaha Mikro Perempuan

“Kalau dijalankan dengan tata kelola yang kuat, kolaborasi ini bisa menjadi akselerator inklusi keuangan sekaligus tetap menjaga kualitas aset perbankan,” tutup Dhany.

Tag:  #kolaborasi #bank #pindar #jadi #kunci #perluas #kredit #segmen #mikro

KOMENTAR