3 Kapal Tanker Raksasa Berbendera China dan Liberia Lintasi Selat Hormuz
Sebanyak tiga kapal tanker raksasa (supertanker) dilaporkan melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/2/2026), berdasarkan data pelayaran.
Pergerakan itu menjadi indikasi awal kapal-kapal kembali keluar dari kawasan Teluk sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Blokade yang dilakukan Teheran terhadap selat tersebut, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global, sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026 telah mengganggu pasokan energi dunia dan mendorong lonjakan harga minyak.
Baca juga: Buntu soal Nuklir dan Selat Hormuz, AS Hentikan Perundingan Damai dengan Iran
Mengutip CNBC internasional pada Minggu (12/4/2026), data LSEG menunjukkan kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Liberia, Serifos, serta dua VLCC berbendera China, Cospearl Lake dan He Rong Hai, memasuki dan keluar dari jalur “Hormuz Passage trial anchorage” yang menghindari Pulau Larak milik Iran.
Masing-masing kapal memiliki kapasitas angkut hingga 2 juta barel minyak.
Kapal Serifos, yang mengangkut minyak mentah dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sejak awal Maret, diperkirakan tiba di Pelabuhan Malaka, Malaysia, pada 21 April, berdasarkan data LSEG dan perusahaan analitik Kpler.
Sementara itu, Cospearl Lake mengangkut minyak dari Irak, sedangkan He Rong Hai membawa minyak mentah asal Arab Saudi.
Kedua kapal berbendera China tersebut diketahui disewa oleh Unipec, unit perdagangan dari raksasa energi China, Sinopec.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kekecewaannya terhadap Iran yang masih membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan pada Selasa malam, Trump mengatakan AS bersedia menyepakati penghentian permusuhan selama dua pekan, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dan segera.
Baca juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Tugu Insurance Jamin Proteksi Risiko
Namun, sejak saat itu, arus kapal yang melintasi selat tersebut masih tetap terbatas, hampir sama ketatnya seperti sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Dalam unggahan di Truth Social pada Kamis malam, Trump juga menyoroti laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintas.
“Ada laporan bahwa Iran memungut biaya terhadap kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, itu tidak boleh terjadi, dan jika benar, harus segera dihentikan,” tulisnya.
Dalam unggahan lanjutan, Trump menilai Iran tidak menjalankan kesepakatan dengan baik. “Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa disebut tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melintas di Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kami buat,” tegasnya.
Perundingan AS dan Iran Gagal
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan pihaknya memutuskan meninggalkan perundingan damai dengan Iran, setelah tidak tercapai kesepakatan terkait komitmen pengembangan senjata nuklir.
Dalam konferensi pers di Pakistan, Minggu (12/4/2026) dini hari, Vance mengungkapkan bahwa pembicaraan yang berlangsung selama 21 jam menghasilkan sejumlah diskusi substantif, namun belum membuahkan kesepakatan.
“Kami telah berunding selama 21 jam dan melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,” ujar Vance dalam konferensi pers usai perundingan.
Menurutnya, titik krusial yang menjadi penghambat adalah keengganan Iran untuk menghentikan ambisinya dalam mengembangkan senjata nuklir.
“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya,” katanya.
Ia menambahkan, hal tersebut merupakan tujuan utama Presiden Donald Trump dalam negosiasi. “Namun, mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” lanjutnya.
Selama proses negosiasi, Vance mengaku berkomunikasi intensif dengan sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper.
“Kami terus berkomunikasi dengan tim karena kami bernegosiasi dengan itikad baik,” kata Vance, yang berbicara didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Pemerintah AS telah mengajukan proposal final yang disebut sebagai penawaran terbaik. Namun, keputusan akhir kini berada di tangan Iran.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah kerangka kesepahaman yang menjadi penawaran final dan terbaik kami. Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya,” ucap Vance.
Sementara itu, berbagai laporan media pemerintah Iran menyebut adanya perbedaan tajam dalam negosiasi sebagai penyebab kegagalan pembicaraan, termasuk terkait permintaan pemindahan material nuklir ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kantor berita Tasnim menyebut tuntutan AS yang “berlebihan” menghambat tercapainya kesepakatan.
Perundingan itu berakhir hanya beberapa hari setelah diumumkannya gencatan senjata selama dua pekan yang masih rapuh. Pernyataan Vance tidak menjelaskan apa yang akan terjadi setelah periode tersebut berakhir atau apakah gencatan senjata akan tetap berlaku.
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf juga membahas dengan pihak AS dan Pakistan mengenai upaya melanjutkan gencatan senjata, yang terancam oleh perbedaan mendalam, serta serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas telah melampaui 2.000 orang.
Tag: #kapal #tanker #raksasa #berbendera #china #liberia #lintasi #selat #hormuz