''Babak Belur'' UMKM, Terpukul Lonjakan Harga Plastik
- Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) babak belur dipukul mahalnya harga plastik selama beberapa waktu terakhir.
Lonjakan harga plastik membuat para pelaku UMKM tertekan karena laba mereka berkurang dari 16 persen sampai 25 persen.
Pedagang beras di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Timan harus mengeluarkan modal lebih banyak gara-gara lonjakan harga plastik.
“Keuntungannya yang seharusnya sekarung ibaratnya (laba) Rp 30 ribu, ya dikurangi Rp 5 ribu buat nambah ongkos itu, plastik itu,” kata Timan saat ditemui di kiosnya, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Harga Plastik Naik Tajam, UMKM Kuliner Paling Terdampak
TIman mengaku tidak bisa menaikkan harga beras karena komoditas tersebut diatur Harga Eceran Tertinggi (HET) dari pemerintah.
Akhirnya, Timan tidak memiliki pilihan selain menekan keuntungan menjual beras meski belanja modal lebih besar.
“Ya kita ya ngurangin keuntungan sama nambah modal akhirnya,” ujar Timan.
Menurutnya, para pelaku UMKM sangat merasakan dampak kenaikan harga plastik.
Adapun Timan menggunakan berbagai ukuran plastik untuk membeli beras kiloan.
Plastik yang biasanya dibeli Rp 65.000 per ikat kini melonjak jadi Rp 135.000. Artinya, kenaikan mencapai 100 persen.
Selain itu, harga karung juga ikut naik. Karung ukuran 10 kilogram dan 20 kilogram melonjak Rp 1.000 per lembar.
“Waduh luar biasa kenaikannya,” keluh Timan.
Seperti halnya Timan, pedagang kecil juga dibuat babak belur karena harga plastik.
Pedagang pukis di Pasar Lenteng Agung, Sata menyebut harga plastik yang biasa dibelinya melonjak dari Rp 8.000 menjadi Rp 12.000 per pack dan mika dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000.
Dihadapkan pada kenaikan itu ia memilih menahan harga jual pukisnya karena takut pelanggan pergi.
Akhirnya, laba dari jualan pukis merosot sampai 25 persen.
“Seperempatnya sih, misalnya sehari dapat Rp 100.000 jadi Rp 75.000,” kata dia.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Laba UMKM Turun sampai 25 Persen
Harga Plastik Naik Setiap Hari
Kenaikan harga plastik tidak saja membuat pelaku UMKM babak belur. Pedagang plastik sendiri bahkan merasa bingung.
Pemilik toko plastik di Pasar Lenteng Agung, Halimah, menyebut harga plastik bisa melonjak setiap hari.
Kenaikan sebenarnya mulai terjadi sejak Ramadhan atau awal Maret lalu.
Kondisi itu berangsur-angsur hingga akhirnya harga jual dari distributor pada siang dan malam hari saat ini bahkan bisa berbeda.
“Setiap hari naiknya. Kita sebagai pedagang kadang bingung,” kata Halimah saat ditemui di tokonya.
Baca juga: Harga Plastik Naik, UMKM Pilih Pangkas Untung demi Jaga Harga
Ia mencontohkan, salah satu jenis plastik dibeli dari distributor Rp 9.500 per pack.
Hanya dalam waktu sehari, distributor memasok plastik dengan harga Rp 11.000 per pack.
“Nanti masih ada harga baru lagi malamnya tuh bisa jadi Rp 11.000 gitu,” tutur Halimah.
Lonjakan harga plastik, menurutnya, membuat pelaku UMKM kaget. Mereka akhirnya mengurangi volume belanja.
Pelaku UMKM tak berani membeli plastik dalam jumlah banyak. Mereka hanya membeli plastik untuk jualan satu hari.
“Kayak tukang es atau tukang makanan gitu yang biasa beli sedus biasa isinya 20 pack belinya dua biji gitu, dua pack doang buat sehari-hari doang,” ujar Halimah.
Baca juga: PNM Jadi Bank UMKM: Lompatan Besar atau Tambal Sulam Baru?
Pemerintah Cari Solusi Jangka Pendek-Panjang
Tekanan terhadap pelaku usaha kecil itu diamini Menteri UMKM Maman Abdurrahman.
Pemerintah telah menerima banyak aduan terkait keuntungan pelaku UMKM yang merosot imbas kenaikan harga plastik.
Kebanyakan dari mereka memutuskan tidak menaikkan harga jual agar tidak kehilangan pelanggan.
“Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuman akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, karena kos produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik gitu,” kata Maman saat ditemui di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menghadapi persoalan ini, kata Maman, pemerintah kini sedang mencanangkan solusi jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk menjaga harga dan pasokan plastik dalam negeri, pemerintah dan industri plastik mencari pasokan bahan baku dari negara selain Asia Barat (Timur Tengah).
Baca juga: Menteri Maman: Rumput Laut dan Singkong Bisa Jadi Bahan Plastik
Adapun plastik terbuat dari nafta, produk petrokimia berbahan dasar minyak bumi. Sebanyak 70 persen nafta dunia dipasok dari Asia Barat yang kini sedang terdampak perang.
Menurut Maman, saat ini industri plastik sudah mendapatkan sumber nafta baru yakni Afrika, India, dan Amerika Serikat.
“Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macemnya,” ucap Maman.
Sementara, untuk solusi jangka panjang pemerintah mengkaji produksi plastik dari bahan baku yang tersedia di dalam negeri.
Maman menyebut, singkong dan rumput laut bisa menjadi alternatif bahan baku plastik.
“Rumput laut, singkong. Ini baru dua itu saja ya baru dua itu yang yang bisa dipakai untuk plastik ini,” kata Maman.
Terpisah, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, menyebut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) juga bisa menjadi bahan baku plastik.
Menurutnya, industri plastik tanah air harus bisa menggunakan bahan baku dan tidak hanya mengandalkan nafta yang didapatkan dari negara lain.
“Perlu memang diversifikasi pengganti nafta baik dari gas maupun dari nabati. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang buat CPO misalnya,” kata Faisol saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Tag: #babak #belur #umkm #terpukul #lonjakan #harga #plastik