Survei BI Ungkap Konsumsi Meningkat, Cicilan Rumah Tangga Menurun
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Maret 2026 menunjukkan kondisi keuangan konsumen tetap terjaga di tengah keyakinan terhadap ekonomi yang masih berada pada level optimistis.
Di sisi penggunaan pendapatan, terdapat pergeseran komposisi yang ditandai dengan meningkatnya porsi konsumsi, diikuti penurunan rasio pembayaran cicilan, serta stabilnya proporsi tabungan.
BI mencatat rata-rata proporsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 72,2 persen. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 71,6 persen.
Baca juga: Optimisme Konsumen Terhadap Ekonomi RI Turun Lagi Pada Maret 2026, Pertanda Apa?
Ilustrasi menabung. Tips menabung yang efektif untuk Gen Z agar keuangan tetap aman.
Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang (debt installment to income ratio) tercatat sebesar 10,2 persen, menurun dari 10,6 persen pada Februari 2026.
Adapun proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) relatif stabil di level 17,6 persen, sedikit turun dari 17,7 persen pada bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan adanya kecenderungan rumah tangga untuk meningkatkan belanja konsumsi, dengan tetap menjaga tingkat tabungan dan mengurangi beban cicilan.
Porsi konsumsi terus mendominasi struktur pengeluaran, sementara garis cicilan cenderung menurun dan tabungan relatif datar dalam beberapa periode terakhir.
Baca juga: Tren Ramadhan 2026, Konsumen Mulai Pilih Produk Bernilai Tinggi
Konsumsi menguat di berbagai kelompok
Ilustrasi belanja di supermarket. Promo JSM Superindo 27 Februari-1 Maret 2026. Promo JSM Superindo terbaru 2026.
Peningkatan rasio konsumsi tidak hanya terjadi secara agregat, tetapi juga terlihat pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Bank sentral mencatat, hampir seluruh kelompok menunjukkan kenaikan porsi konsumsi terhadap pendapatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini mengindikasikan, dorongan konsumsi tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan merata di berbagai lapisan rumah tangga.
Dengan kata lain, kenaikan belanja terjadi baik pada kelompok berpenghasilan rendah maupun menengah hingga tinggi.
Baca juga: Revenge Saving Jadi Tren, Konsumen Pilih Menabung daripada Belanja
Di sisi lain, penurunan rasio pembayaran cicilan tercatat terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Setiap kelompok mengalami penurunan porsi cicilan terhadap pendapatan.
Kondisi ini mencerminkan adanya perbaikan dalam beban utang rumah tangga, baik karena penurunan kewajiban cicilan maupun peningkatan pendapatan yang membuat rasio tersebut mengecil.
Porsi tabungan tetap stabil
Berbeda dengan konsumsi dan cicilan, porsi tabungan cenderung stabil. Pada Maret 2026, saving to income ratio berada di level 17,6 persen, hampir tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.
Stabilitas ini menunjukkan meskipun konsumsi meningkat, rumah tangga masih mempertahankan kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan.
Baca juga: IEA Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Beban Konsumen Global
Kondisi ini juga mencerminkan adanya keseimbangan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, di mana peningkatan konsumsi tidak sepenuhnya menggerus kemampuan menabung.
Keyakinan konsumen masih optismistis
Perkembangan kondisi keuangan tersebut sejalan dengan tingkat keyakinan konsumen yang masih berada pada zona optimistis.
Ilustrasi konsumen Indonesia belanja produk gaya hidup
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 tercatat sebesar 122,9, meskipun sedikit menurun dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 125,2. Indeks di atas 100 mencerminkan kondisi optimistis.
Optimisme ini didorong oleh dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 115,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 130,4.
Baca juga: Keyakinan Konsumen Turun Tipis ke Level 125,2 Pada Februari 2026
Kedua indeks tersebut masih berada di zona optimistis, mencerminkan persepsi positif terhadap kondisi saat ini maupun ekspektasi ke depan.
Grafik perkembangan IKK menunjukkan tren yang tetap berada di atas level 100 dalam beberapa periode terakhir, meskipun mengalami fluktuasi.
Persepsi penghasilan dan lapangan kerja
Dari sisi kondisi ekonomi saat ini, penguatan keyakinan konsumen ditopang oleh peningkatan persepsi terhadap penghasilan. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 129,2, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 125,0.
Sementara itu, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja tetap berada pada level optimistis dengan indeks sebesar 107,8, meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada Indeks Pembelian Barang Tahan Lama yang tercatat sebesar 109,2.
Baca juga: Studi Ritel Terbaru, 45 Persen Konsumen Pakai AI buat Belanja Ramadhan
Secara spasial, peningkatan persepsi kondisi ekonomi saat ini terjadi di sejumlah kota seperti Denpasar, Medan, dan Bandung. Sebaliknya, beberapa kota seperti Pontianak, Surabaya, dan Padang mencatat penurunan indeks.
Ekspekstasi enam bulan ke depan
Untuk periode enam bulan ke depan, ekspektasi konsumen tetap kuat dengan IEK sebesar 130,4. Meskipun lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 134,4, indeks ini masih menunjukkan optimisme yang tinggi.
Ilustrasi belanja di supermarket.
Ekspektasi ini ditopang oleh tiga komponen utama, yaitu ekspektasi penghasilan sebesar 137,7, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja sebesar 128,0, dan ekspektasi kegiatan usaha sebesar 125,5.
Ketiga komponen tersebut masih berada di zona optimistis, meskipun sebagian mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca juga: Tren Belanja: Konsumen Indonesia Semakin Selektif
Dari sisi kelompok pengeluaran, ekspektasi penghasilan tertinggi tercatat pada kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta dengan indeks sebesar 139,6. Sementara dari sisi usia, indeks tertinggi berada pada kelompok usia 31 sampai 40 tahun sebesar 140,6.
Perbedaan antarkelompok dan wilayah
Secara demografis, keyakinan konsumen tetap optimistis di seluruh kelompok usia dan pengeluaran. Kelompok usia 20 sampai 30 tahun mencatat IKK tertinggi sebesar 129,6.
Di sisi lain, kelompok usia di atas 60 tahun mengalami peningkatan optimisme dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, IKK tertinggi tercatat pada kelompok dengan pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta sebesar 125,7.
Baca juga: Ekonomi Bandara Berubah: Gen Z dan Milenial Jadi Konsumen Utama Duty Free
Namun demikian, secara spasial terdapat variasi perkembangan keyakinan konsumen. Penurunan IKK terjadi di sebagian besar kota, terutama Pontianak, Surabaya, dan Padang.
Sebaliknya, peningkatan tertinggi tercatat di Bandung, Bandar Lampung, dan Samarinda.
Pola yang sama juga terlihat pada indeks ekspektasi konsumen, di mana sebagian besar kota mengalami penurunan, dengan penurunan terbesar di Pontianak, Semarang, dan Surabaya.
Sementara itu, peningkatan terjadi di beberapa kota seperti Bandung, Bandar Lampung, dan Pangkal Pinang.
Baca juga: Melihat Tren Konsumen Indonesia, Benarkah Bijak dalam Berbelanja?
Survei Konsumen BI merupakan survei bulanan yang telah dilakukan sejak Oktober 1999. Sejak Januari 2007, survei ini melibatkan sekitar 4.600 rumah tangga sebagai responden yang tersebar di 18 kota di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, hingga Denpasar.
Indeks dalam survei dihitung menggunakan metode balance score (net balance + 100). Dalam metode ini, indeks di atas 100 menunjukkan kondisi optimistis, sedangkan indeks di bawah 100 mencerminkan pesimisme.
Dengan cakupan wilayah dan jumlah responden tersebut, survei ini memberikan gambaran mengenai persepsi dan kondisi keuangan rumah tangga di berbagai daerah.
Dinamika konsumsi dan pengelolaan keuangan
Perkembangan pada Maret 2026 menunjukkan dinamika dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Peningkatan konsumsi terjadi seiring dengan optimisme terhadap kondisi ekonomi, baik saat ini maupun ke depan.
Baca juga: Tren Belanja: Konsumen Indonesia Semakin Selektif
Di saat yang sama, rumah tangga terlihat menyesuaikan struktur keuangannya dengan menurunkan porsi cicilan.
Stabilnya rasio tabungan menunjukkan bahwa rumah tangga masih menjaga keseimbangan antara konsumsi dan penyisihan pendapatan.
Dengan demikian, perubahan pada komposisi penggunaan pendapatan tidak sepenuhnya mengubah pola pengelolaan keuangan secara keseluruhan.
Tag: #survei #ungkap #konsumsi #meningkat #cicilan #rumah #tangga #menurun