Transaksi Kripto Turun Awal 2026, Peluang Akumulasi Investor Mulai Terbuka
– Penurunan nilai transaksi aset kripto di awal 2026 menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Di satu sisi, kondisi ini mencerminkan tekanan global yang belum mereda. Namun di sisi lain, situasi tersebut justru membuka ruang bagi investor untuk mulai membaca peluang akumulasi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai transaksi kripto pada Februari 2026 sebesar Rp 24,33 triliun, turun dari Januari yang mencapai Rp 29,28 triliun. Koreksi ini sejalan dengan pelemahan harga aset kripto global serta ketidakpastian ekonomi internasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Adi Budiarso, menyebut tekanan tersebut tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal. Ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi, terutama di Amerika Serikat, menjadi pemicu utama pergeseran sentimen pasar.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai kondisi ini sebagai fase konsolidasi yang lazim terjadi setelah periode lonjakan.
“Kondisi ini ditandai dengan koreksi harga dan penurunan volume transaksi, yang juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, termasuk tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat,” ujar Calvin dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Iran Mulai Tarik Biaya Tol Selat Hormuz Lewat Kripto dan Yuan
Tekanan Global, Likuiditas Menyusut
Meningkatnya tensi geopolitik mendorong investor global beralih ke aset yang lebih aman (risk-off). Sementara itu, suku bunga tinggi memicu likuidasi posisi leverage di pasar kripto, yang berujung pada penurunan volume transaksi.
Dinamika ini juga tercermin dari aliran dana institusi. Produk ETF Bitcoin sempat mencatat inflow sebesar 1,13 miliar dollar AS (sekitar Rp 18,64 triliun, asumsi kurs Rp 16.500) pada Maret. Namun, tren tersebut berbalik menjadi outflow mingguan sebesar 296 juta dollar AS (sekitar Rp 4,88 triliun) di akhir bulan.
Memasuki awal April, inflow kembali muncul sebesar 69,6 juta dollar AS (sekitar Rp 1,15 triliun). Ini menunjukkan minat institusi masih bertahan, meski belum cukup kuat untuk mendorong reli pasar secara signifikan.
Baca juga: Penerimaan Pajak Kripto Rp 1,96 Triliun, INDODAX Setor Rp 907 Miliar
Akses Diperluas, Strategi Jaga Likuiditas
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai menyiapkan langkah untuk menjaga momentum. Tokocrypto, misalnya, memperluas kanal deposit dengan menggandeng PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, melengkapi opsi sebelumnya seperti PT Bank Central Asia Tbk dan QRIS.
Langkah ini bertujuan memperkuat likuiditas sekaligus menurunkan hambatan masuk bagi investor ritel.
“Dengan lebih banyak pilihan metode pembayaran, kami berharap dapat menstimulus investor untuk kembali aktif bertransaksi,” kata Calvin.
Strategi ini penting, mengingat jumlah investor kripto di Indonesia masih menunjukkan tren pertumbuhan. Hingga Februari 2026, jumlah konsumen mencapai 21,07 juta orang atau naik 1,76 persen secara bulanan.
Baca juga: Transaksi Aset Kripto RI 2025 Capai Rp 482,23 Triliun, Turun 25,9 Persen
Momentum Edukasi dan Peluang Akumulasi
Di tengah fase bearish, edukasi menjadi faktor krusial untuk menjaga keberlanjutan pasar. Momentum Bulan Literasi Kripto (BLK) pada April hingga Mei 2026 diharapkan mampu meningkatkan pemahaman investor, terutama dalam membaca siklus pasar.
Calvin menegaskan, literasi menjadi kunci agar investor tidak hanya bereaksi terhadap volatilitas, tetapi mampu memanfaatkan koreksi sebagai peluang.
Bagi investor, kondisi saat ini dapat dibaca sebagai fase awal pembentukan harga (price base). Dengan asumsi stabilisasi makroekonomi dan geopolitik mulai terjadi pada kuartal II-2026, potensi pemulihan transaksi pun terbuka.
Artinya, penurunan saat ini bukan semata sinyal pelemahan, melainkan juga fase penyeimbangan pasar—yang dalam banyak siklus sebelumnya justru menjadi titik masuk strategis bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Tag: #transaksi #kripto #turun #awal #2026 #peluang #akumulasi #investor #mulai #terbuka