Induk Usaha Uniqlo Raup Pendapatan Rp 221 Triliun di Semester I 2026
Kinerja keuangan Fast Retailing, induk usaha Uniqlo, pada paruh pertama tahun fiskal 2026 menunjukkan lonjakan signifikan, ditopang oleh ekspansi global yang agresif serta permintaan kuat terhadap produk fesyen kasual.
Hasil ini mendorong perusahaan merevisi naik proyeksi kinerja tahunan, sekaligus memperkuat optimisme terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang.
Dikutip dari CNBC, Jumat (10/4/2026), saham perusahaan induk Uniqlo tersebut bahkan melonjak lebih dari 9 persen dan mencetak rekor tertinggi, menyusul pengumuman kinerja dan peningkatan panduan laba.
Baca juga: CEO Uniqlo Tadashi Yanai Dorong Asia Bersatu Hadapi Tarif AS
Ilustrasi gerai ritel mode asal Jepang Uniqlo.
Dalam pembaruan terbarunya, Fast Retailing menaikkan target laba operasional tahunan menjadi 700 miliar yen atau sekitar Rp 75,21 triliun (asumsi kurs Rp 107,44 per yen), dari sebelumnya 650 miliar yen atau setara Rp 69,84 triliun.
Chief Executive Officer Fast Retailing, Tadashi Yanai, menyampaikan keyakinannya terhadap arah bisnis perusahaan.
Dalam presentasi kinerja, ia menyebut terdapat “pertumbuhan signifikan ke depan”, mencerminkan keyakinan ekspansi global masih memiliki ruang yang luas.
Pendapatan dan laba melonjak
Berdasarkan laporan keuangan interim yang dikutip pada Jumat, Fast Retailing mencatatkan pendapatan sebesar 2,0552 triliun yen atau setara sekitar Rp 220,83 triliun pada periode fiskal enam bulan yang berakhir 28 Februari 2026. Angka ini tumbuh 14,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Baca juga: Tarif Trump 19 Persen Jadi Peluang Emas Pan Brothers, Supplier Uniqlo hingga Adidas di Indonesia
Sejalan dengan itu, laba operasional meningkat tajam 31,7 persen menjadi 400,6 miliar yen atau sekitar Rp 43,04 triliun.
Ilustrasi gerai ritel mode asal Jepang Uniqlo.
Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai 279,2 miliar yen atau sekitar Rp 29,99 triliun, naik 19,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, laba usaha (business profit) tercatat sebesar 386,9 miliar yen atau sekitar Rp 41,56 triliun, meningkat 28,3 persen secara tahunan.
Margin laba juga menunjukkan perbaikan, dengan margin laba operasional mencapai 19,5 persen, naik 2,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Terdampak Tarif Trump, Uniqlo Barencana Naikkan Harga Produknya
Dalam laporan resminya, perusahaan menyebut capaian ini sebagai “rekor kinerja dengan peningkatan pendapatan dan laba yang signifikan,” menandakan kinerja terbaik dalam sejarah perusahaan untuk periode semester pertama.
Uniqlo International jadi motor utama
Pertumbuhan Fast Retailing sebagian besar ditopang oleh kinerja kuat segmen Uniqlo International. Unit ini mencatatkan pendapatan sebesar 1,2413 triliun yen atau sekitar Rp 133,36 triliun, meningkat 22,4 persen secara tahunan.
Laba usaha segmen ini juga melonjak 37,4 persen menjadi 233 miliar yen atau sekitar Rp 25,03 triliun, dengan margin laba yang meningkat signifikan.
Dalam penjelasannya, perusahaan menyebut seluruh wilayah operasional mencatatkan pertumbuhan kuat. Kawasan China raya (mencakup China daratan, Hong Kong, Taiwan, dan Makau), Asia Tenggara, Korea Selatan, hingga pasar Barat seperti Amerika Utara dan Eropa menunjukkan peningkatan penjualan dan laba dua digit.
Baca juga: Induk Usaha Uniqlo Catat Rekor Kinerja Tertinggi 3 Tahun Berturut-turut
Di China daratan, peningkatan penjualan didorong oleh strategi penyesuaian produk terhadap kondisi cuaca serta momentum penjualan Tahun Baru Imlek. Produk seperti bawahan, sweatshirt, serta pakaian musim semi menjadi pendorong utama.
Sementara itu, di Korea Selatan, pertumbuhan ditopang oleh pemanfaatan kanal digital untuk komunikasi produk serta meningkatnya minat konsumen muda terhadap merek Uniqlo.
Peluncuran koleksi terbaru UNIQLO Spring/Summer 2025 di Senayan City, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2025).
Di kawasan Asia Tenggara, India, dan Australia, pertumbuhan juga ditopang oleh strategi penguatan stok musim dingin serta penjualan produk musim semi dan musim panas seperti linen shirts dan knitwear.
Perusahaan juga menyoroti bahwa ekspansi toko flagship dan toko berformat besar di berbagai negara menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat brand positioning di pasar global.
Baca juga: Uniqlo Naikkan Gaji Karyawannya hingga 40 Persen
Kinerja domestik dan segmen lain
Di pasar domestik, Uniqlo Jepang mencatatkan pendapatan sebesar 581,7 miliar yen atau sekitar Rp 62,51 triliun, tumbuh 7,4 persen. Laba usaha meningkat 13,4 persen menjadi 110,7 miliar yen atau sekitar Rp 11,89 triliun.
Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan penjualan toko sejenis (same-store sales) sebesar 6,5 persen, yang didorong oleh kombinasi produk sepanjang musim dan penjualan koleksi musim dingin saat suhu menurun.
Namun, perusahaan mencatat adanya tekanan pada margin laba kotor akibat kenaikan biaya penjualan yang dipicu pelemahan nilai tukar yen terhadap mata uang lainnya dalam kontrak pembelian.
Segmen GU mencatatkan kinerja yang relatif stabil dari sisi pendapatan, yaitu sebesar 168,4 miliar yen atau sekitar Rp 18,09 triliun, naik 1,6 persen. Namun, laba usaha melonjak 20,1 persen menjadi 15,7 miliar yen atau sekitar Rp 1,69 triliun.
Baca juga: Geser Bos Uniqlo, Masayoshi Son Jadi Orang Terkaya di Jepang
Peningkatan laba ini didorong oleh strategi efisiensi operasional, termasuk penyederhanaan lini produk dan fokus pada item dengan penjualan tinggi.
Selain itu, tren fesyen mass market yang berhasil ditangkap oleh produk GU juga meningkatkan daya tarik merek di kalangan konsumen muda.
Sebaliknya, segmen Global Brands mengalami tekanan. Pendapatan turun 7,5 persen menjadi 62,7 miliar yen atau sekitar Rp 6,74 triliun, dan mencatatkan kerugian usaha sebesar 0,7 miliar yen atau sekitar Rp 75,2 miliar.
Model menampilkan koleksi UNIQLO Spring/Summer 2026.
Kinerja negatif ini terutama disebabkan oleh melemahnya bisnis merek Theory di Amerika Serikat, termasuk dampak dari kinerja buruk department store mitra serta penutupan outlet e-commerce pada 2025.
Baca juga: Konsumen Kembali Belanja di Uniqlo, Orang Terkaya Jepang Makin Tajir
Selain itu, adanya piutang tak tertagih dari mitra yang bangkrut turut menekan profitabilitas.
Revisi naik proyeksi tahunan
Seiring kinerja semester pertama yang melampaui ekspektasi, Fast Retailing merevisi naik proyeksi kinerja untuk tahun fiskal 2026.
Perusahaan kini memperkirakan pendapatan tahunan mencapai 3,9 triliun yen atau sekitar Rp 418,99 triliun, meningkat 14,7 persen secara tahunan.
Laba usaha diproyeksikan mencapai 690 miliar yen atau sekitar Rp 74,13 triliun, sementara laba operasional ditargetkan 700 miliar yen atau sekitar Rp 75,21 triliun.
Baca juga: Miliarder Pendiri Uniqlo Ingin Jabatannya Digantikan oleh Perempuan
Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk diperkirakan mencapai 480 miliar yen atau sekitar Rp 51,57 triliun, meningkat 10,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Revisi ini mencakup peningkatan estimasi pendapatan sebesar 100 miliar yen, laba usaha 40 miliar yen, laba operasional 50 miliar yen, dan laba bersih 30 miliar yen dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Perusahaan menyebut revisi ini didorong oleh tiga faktor utama, yaitu kinerja semester pertama yang lebih kuat dari perkiraan, prospek penjualan semester kedua yang membaik, serta penyesuaian asumsi nilai tukar yen yang melemah.
Faktor eksternal dan strategi mitigasi
Di tengah kinerja positif, Fast Retailing juga menyoroti tantangan dari faktor eksternal, khususnya konflik di Timur Tengah yang mulai berdampak pada biaya operasional.
Baca juga: Fesyen dan Kriya Jadi Tulang Punggung Ekspor Ekonomi Kreatif
UNIQLO : C Spring/Summer 2025 yang ditampilkan di showroom Uniqlo di Jakarta Selatan, Selasa (25/2/2025).
Perusahaan menyebut, kenaikan biaya transportasi di beberapa pasar menjadi salah satu dampak langsung dari situasi tersebut.
Namun, langkah-langkah penyesuaian produksi dan logistik yang telah dilakukan sebelumnya dinilai mampu meredam risiko.
“Hal ini tidak akan berdampak besar dari perspektif produksi dan distribusi,” demikian pernyataan perusahaan, menegaskan gangguan terhadap rantai pasok dinilai tidak signifikan.
Selain itu, perusahaan juga telah memasukkan potensi dampak tersebut dalam proyeksi tahunannya, termasuk dalam perhitungan biaya dan asumsi operasional.
Prospek segmen usaha
Untuk sisa tahun fiskal 2026, Fast Retailing memperkirakan segmen Uniqlo International akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit.
Baca juga: Ekspor Fesyen Indonesia Tembus Rp 108,5 Triliun, Naik 4,56 Persen
Seluruh wilayah utama, termasuk Greater China, Asia Tenggara, India, Australia, Amerika Utara, dan Eropa, diperkirakan akan terus mencatatkan ekspansi.
Sementara itu, Uniqlo Jepang diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan pendapatan, meskipun laba diperkirakan relatif stabil akibat tekanan margin dari kenaikan biaya.
Segmen GU diharapkan melanjutkan tren pertumbuhan dengan peningkatan pendapatan dan laba dua digit, sementara Global Brands diperkirakan mengalami perbaikan profitabilitas meskipun pendapatan tahunan masih berpotensi menurun.
Di sisi kebijakan dividen, Fast Retailing juga meningkatkan proyeksi dividen tahunan menjadi 640 yen per saham atau sekitar Rp 68.761 per saham, meningkat 140 yen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: UMKM Fesyen Lokal Terapkan Produksi Ramah Lingkungan dan Minimalkan Limbah Tekstil
Langkah ini mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap arus kas dan kinerja keuangan ke depan, seiring dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di pasar global.
Tag: #induk #usaha #uniqlo #raup #pendapatan #triliun #semester #2026