Wall Street Menguat di Tengah Lonjakan Minyak, Investor Diingatkan Waspada Risiko Energi
Ilustrasi bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) atau Wall Street.(SHUTTERSTOCK/STUART MONK)
07:17
10 April 2026

Wall Street Menguat di Tengah Lonjakan Minyak, Investor Diingatkan Waspada Risiko Energi

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis (9/4/2026) waktu setempat. Kenaikan wall street terjadi di tengah melonjaknya harga minyak dunia dan harapan investor terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Mengutip CNBC pada Jumat (10/4/2026), indeks S&P 500 naik 0,62 persen ke level 6.824,66, sementara Nasdaq Composite menguat 0,83 persen menjadi 22.822,42. Adapun Dow Jones Industrial Average naik 275,88 poin atau 0,58 persen ke posisi 48.185,80, sekaligus membawa indeks tersebut kembali ke zona positif secara year-to-date dengan kenaikan 0,25 persen.

Penguatan pasar saham terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3 persen ke 97,87 dollar AS per barrel, setelah sempat menembus level psikologis 100 dollar AS. Sementara, Brent crude ditutup menguat lebih dari 1 persen ke 95,92 dollar AS per barrel.

Meski demikian, reli pasar sempat tertahan sebelum akhirnya kembali menguat, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapan negaranya untuk membuka negosiasi langsung dengan Lebanon.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Baca juga: Wall Street Ditutup Menguat, Harapan Damai AS-Iran Picu Optimisme Pasar

Dari sisi sektoral, kenaikan indeks turut ditopang oleh saham teknologi, khususnya Meta Platforms yang melonjak 2,6 persen setelah meluncurkan model kecerdasan buatan terbaru. Selain itu, sektor defensif juga menguat, dengan saham Walmart dan utilitas seperti American Electric Power mencatatkan kenaikan.

Pergerakan ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya, di mana ketiga indeks utama Wall Street melonjak lebih dari 2 persen. Bahkan, Dow Jones mencatat kinerja harian terbaik sejak April 2025, bertepatan dengan pelonggaran sikap Presiden AS Donald Trump terhadap kebijakan tarif.

Sebelumnya, Trump pada Selasa malam menyetujui penghentian serangan terhadap Iran, setelah konflik di Timur Tengah berlangsung selama lima minggu dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Kesepakatan gencatan senjata tersebut bersifat dua arah dan bergantung pada komitmen Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran. Teheran menyatakan kesediaannya membuka Selat Hormuz selama dua minggu dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Israel juga dilaporkan menyetujui kesepakatan tersebut.

Namun, hingga kini aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Baru sebagian kapal kargo curah yang melintasi jalur tersebut, sementara distribusi minyak masih terbatas.

Trump menegaskan bahwa pasukan militer AS tetap akan ditempatkan di sekitar Iran hingga kesepakatan benar-benar dipatuhi. Ia juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran akan memicu respons militer yang lebih besar.

Chief Investment Officer RFG Advisory, Rick Wedell, menilai keberadaan gencatan senjata memberi keyakinan bagi investor terhadap prospek penyelesaian konflik dalam jangka panjang.

“Fakta bahwa gencatan senjata itu ada dan disepakati oleh kedua belah pihak memberikan keyakinan kepada investor bahwa situasi ini pada akhirnya akan terselesaikan dalam jangka panjang,” ujar Rick Wedell.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa semakin lama Selat Hormuz tertutup, semakin besar risiko gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan, yang pada akhirnya dapat menekan stabilitas pasar keuangan dunia.

“Namun demikian, semakin lama selat itu tetap tertutup, semakin sulit untuk membuka kembali semuanya, dan semakin lama pula gangguan pasokan seperti ini akan berlangsung,” tambahnya.

Tag:  #wall #street #menguat #tengah #lonjakan #minyak #investor #diingatkan #waspada #risiko #energi

KOMENTAR